Wisuda Tahfidz Akbar Hiqma UIN Jakarta, Luluskan 57 Penghafal Al-Qur’an

Wisuda Tahfidz Akbar Hiqma UIN Jakarta, Luluskan 57 Penghafal Al-Qur’an

Rizki Permata Kezia Dava Hanif Az-Zaydan
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Hall Student Center, Berita UIN Online – Unit Kegiatan Mahasiswa, Himpunan Qari dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Wisuda Tahfidz Akbar sekaligus Closing Festival Seni Islami Nasional 2026 bertema “Ekoteologi dalam Seni Islam Dakwah Lingkungan Melalui Karya”. Kegiatan ini menyelenggarakan pengukuhan Wisuda Tahfidz Akbar 30 Juz sebanyak 57 mahasiswa dan menghadirkan talk show sebagai simbol penguatan identitas kampus keislaman yang menumbuhkan literasi ekoteologi, berlangsung di Hall Student Center UIN Jakarta, Minggu (11/10/2026).

Menghadirkan Wakil Rektor Bidang Akademik sekaligus Pembina HIQMA UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., dua narasumber dalam sesi talk show yaitu Wakil Dekan Fakultas Dakwah Islamiyah yang dikenal aktif sebagai Peneliti Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Prof. Dr. Sholah Mahmud Al-Bajuri, dan Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum aktif menjadi Guru Besar bidang Metodologi Tafsir, Al-Qur’an, Prof. Dr. Lilik Ummi Kultsum, M.A. Selain itu, turut hadir pula Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Yudhi Munadi, S.Ag., M.Ag., Ust. Ahmad Roji, Ketua Pelaksana M. Abdul Jawad, Ketua HIQMA UIN Jakarta M. Haikal Hibrizi, dan Koordinator DPO HIQMA UIN Jakarta Wildan Miftahuddin, serta turut hadir 57 wisudawan tahfidz akbar bersama sivitas akademika UIN Jakarta.

Sebelum acara puncak, rangkaian Festival Seni Islami Nasional 2026 telah diisi penanaman pohon bertema ekoteologi bersama Green Campus UIN Jakarta. HIQMA UIN Jakarta juga berhasil memberikan santunan kepada puluhan anak yatim di sekitar kampus. Maka dari itu, Wakil Rektor Bidang Akademik sekaligus Pembina HIQMA UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para wisudawan dan berharap capaian yang ditorehkan dapat terus dijaga serta dihargai hingga ke kancah yang lebih luas.

“Hal ini bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, kita harus benar-benar menghargai prestasi yang luar biasa ini. Para hafiz dan hafidzah sangat patut kita hargai di mana pun, baik di kampus maupun pada level kenegaraan. Kita sangat menghargai para penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.

Pada sesi talk show, Wakil Dekan Fakultas Dakwah Islamiyah yang dikenal aktif sebagai Peneliti Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Prof. Dr. Sholah Mahmud Al-Bajuri yang aktif mengembangkan karya di bidang dakwah Islamiyah, mengingatkan peserta bahwa hafalan Al-Qur’an belum selesai ketika berhenti di lisan. Menurutnya, ayat yang dihafal perlu direnungkan maknanya dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Al-Qur’an itu tidak cukup dihafalkan dengan lisan. Ia harus diresapi, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Prof. Dr. Sholah Mahmud juga kemudian mengaitkan hafalan Al-Qur’an dengan tanggung jawab manusia terhadap alam. Merujuk pada Surah Hud Ayat 61, ayat tentang manusia untuk beribadah serta perintah memakmurkan bumi, ia menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah menuntut pemanfaatan alam secara baik dan amanah.

“Alam semesta diperuntukkan bagi manusia untuk diambil manfaatnya, bukan untuk dikonsumsi secara pribadi. Orang yang menjadikan alam semesta sebagai konsumsi pribadi tidak menerapkan apa yang diajarkan Allah dan Rasulullah SAW untuk memakmurkan bumi dan menjaga alam semesta. Sesungguhnya dia telah ingkar dari jalan Allah dan akan membuat kerusakan di muka bumi. Sementara itu, para tahfidz dan pembaca Al-Qur’an memegang peran paling utama dalam menjaga Islam dan menjaga alam semesta,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda dapat menjaga lingkungan melalui seni Islami pada nilai keindahan seperti kaligrafi, Musabaqah Syarhil Qur'an (MSQ), dan lomba cabang lainnya. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa menyebarkan budaya keindahan adalah bagian dari perlindungan lingkungan yang dianjurkan Islam.

“Keindahan seni adalah nilai Islam yang besar dan bagian dari ciptaan ilahi yang Allah SWT letakkan pada makhluk dan alam semesta. Jika kita menyeru pada perlindungan lingkungan, menyebarkan budaya keindahan adalah bagian dari perlindungan tersebut. Nilai itu harus kita pegang teguh dan wujudkan dalam kehidupan masyarakat. Memohon kepada Allah SWT agar memenuhi kehidupan kita dengan keindahan, rahmat, rezeki, dan keadilan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum aktif menjadi Guru Besar bidang Metodologi Tafsir, Al-Qur’an, Prof. Dr. Lilik Ummi Kultsum, M.A., memaparkan keterpaduan nilai tauhid, kekhalifahan manusia di bumi, peran seni dan kepekaan estetika, seperti pada pelukis dan qari. Ia juga menekankan rasa tanggung jawab moral dalam menjaga, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an agar tidak berhenti sebagai hafalan yang kemudian dilupakan.

“Jika tauhid mengajarkan bahwa Allah adalah pencipta seluruh alam, maka kekhalifahan mengingatkan kita tentang tanggung jawab. Seni mengasah kepekaan terhadap keindahan. Ketiganya dapat dipertemukan dalam sebuah etika pengabdian,” ucapnya.

Prof. Dr. Lilik Ummi juga membagikan tiga kiat bagi mereka yang ingin serius bersama Al-Qur’an. Pertama, memulai tanpa menunda dan tanpa ragu. Kedua, berniat ikhlas karena Allah. Ketiga, istiqomah dan hidup bersama Al-Qur’an. Menurut dia, rasa takut dan khawatir hanya dapat dihilangkan dengan niat yang tulus.

“Walaupun ada ketakutan dan kekhawatiran, yang diperlukan untuk menghilangkannya adalah an-niyyah ash-shadiqah, yaitu niat yang benar-benar tulus dan ikhlas untuk memohon kepada Allah agar dimudahkan. Mulai, jangan ragu, ikhlaskan niat, dan selalu rasakan hidup bersama Al-Qur’anul Karim,” ujarnya.

Menutup sesi talk show, Prof. Dr. Lilik Ummi menekankan bahwa tipu daya setan akan selalu mengintai manusia tanpa henti. Ia mengingatkan pentingnya membentengi diri melalui doa yang tulus demi memohon perlindungan dari setan yang terkutuk, dan menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an dalam setiap helaan napas sebagai kunci utama keselamatan iman.

“Setan yang ada dalam diri kita selalu menggoda sesuai dengan profesi kita. Kalau kita hafiz dan hafidzah, setan menggoda lewat jalur hafalan dan kemalasan beramal. Kuncinya adalah doa yang tulus, memohon agar dijauhkan dari setan yang terkutuk, dan senantiasa bersama Al-Qur’an dalam setiap helaan napas,” tutupnya.