Ulasan Artikel Riset: Media Sosial dan Intoleransi Beragama di Indonesia, Benarkah Saling Berkaitan?

Ulasan Artikel Riset: Media Sosial dan Intoleransi Beragama di Indonesia, Benarkah Saling Berkaitan?

Jakarta, Berita UIN Online – Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk informasi mengenai agama dan politik. Di satu sisi, media sosial memudahkan masyarakat mengakses berbagai sudut pandang dan memperluas ruang diskusi. Namun di sisi lain, media sosial juga kerap dianggap sebagai ruang yang memperkuat penyebaran ujaran kebencian, polarisasi, hingga intoleransi beragama. Anggapan tersebut semakin menguat seiring maraknya konten provokatif yang beredar di berbagai platform digital.

Permasalahan inilah yang diangkat dalam artikel penelitian yang berjudul "Social Media and Religious Intolerance in Indonesia: Beyond Visibility Toward Context" karya Akhmad Rizal Shidiq, Burhanuddin Muhtadi, dan Arief Anshory Yusuf yang diterbitkan dalam Studia Islamika. Penelitian ini berupaya menguji secara empiris hubungan antara penggunaan media sosial dengan tingkat intoleransi beragama di kalangan masyarakat Muslim Indonesia.

Riset ini mengkaji 3.820 responden Muslim untuk melihat sikap mereka terhadap aktivitas keagamaan maupun keterlibatan warga non-Muslim dalam jabatan politik. Peneliti menggunakan data Survei Nasional Masalah Sosial Kemasyarakatan yang diselenggarakan Harmoni dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2019. Data hasil survei dianalisis dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi dengan menggunakan faktor sosial akademik.

Temuan dari Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial untuk mencari informasi mengenai agama maupun politik tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan meningkatnya intoleransi beragama setelah faktor-faktor sosial ekonomi diperhitungkan. Temuan ini menunjukkan bahwa anggapan media sosial sebagai penyebab utama intoleransi belum sepenuhnya dapat dibuktikan melalui data empiris. Meskipun media sosial sering menjadi tempat penyebaran narasi intoleran, keberadaannya tidak secara otomatis mengubah sikap keberagamaan seseorang.

Temuan lain yang cukup menarik adalah adanya perbedaan tingkat intoleransi yang cukup besar antarwilayah di Indonesia. Responden yang berasal dari provinsi dengan karakter masyarakat yang lebih konservatif menunjukkan tingkat intoleransi yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang memiliki masyarakat lebih majemuk. Selain itu, ditemukan pula bahwa masyarakat perkotaan cenderung lebih toleran. Dengan kata lain, intoleransi beragama tidak cukup dijelaskan hanya dengan satu faktor, tetapi banyak faktor sosial yang memengaruhi.

Melalui temuan tersebut, para peneliti menegaskan bahwa media sosial lebih berperan dalam meningkatkan visibilitas atau memperlihatkan ujaran dan sikap intoleran kepada publik, bukan menjadi penyebab utama munculnya intoleransi itu sendiri. Konten yang beredar di media sosial memang membuat sikap intoleran tampak lebih nyata dan mudah ditemukan, tetapi akar persoalan sesungguhnya lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, politik, serta lingkungan tempat seseorang hidup.

Artikel ini menjadi bacaan yang relevan bagi akademisi, pembuat kebijakan, pengelola platform digital, maupun masyarakat umum. Penelitian ini memberikan perspektif bahwa upaya mengurangi intoleransi tidak cukup hanya dilakukan dengan mengawasi media sosial, tetapi juga perlu disertai penguatan pendidikan, dialog antarumat beragama, serta pembangunan lingkungan sosial yang lebih inklusif. Dengan demikian, media sosial tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya penyebab munculnya intoleransi, melainkan sebagai ruang yang memperlihatkan dinamika sosial yang telah berkembang di masyarakat. (Media Analyst: Fadli)

 

Sumber Artikel Jurnal

Judul Penelitian: Social Media and Religious Intolerance in Indonesia: Beyond Visibility Toward Context
Publikasi Jurnal: Studia Islamika, Vol. 33 No. 1 (2026)
Penulis: Akhmad Rizal Shidiq, Burhanuddin Muhtadi, dan Arief Anshory Yusuf
DOI: 10.36712/sdi.v33i1.45489
LinkArtikel: https://studiaislamika.ppimcensis.or.id/index.php/studia-islamika/article/view/45489

Akreditasi: Scopus Q1: SJR 0,47

Media Analyst PIH: Dzikri Aulia Fadli, Fauziah Muslimah, Diona Istanti Raufiawan Putri

 

Ulasan Artikel Riset adalah tulisan review dari artikel jurnal penelitian yang ditulis oleh para dosen dan mahasiswa di UIN Jakarta yang membahas isu terkini yang dekat dengan masyarakat sebagai temuan science, rekomendasi atau studi kasus pada fenomena sosial.

Pusat Informasi dan Humas UIN Jakarta