UIN Jakarta Harus Bagaimana? (Sebuah Catatan Reflektif)

UIN Jakarta Harus Bagaimana? (Sebuah Catatan Reflektif)

Syafi'i

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta) merupakan perguruan tinggi pertama di bawah Kementerian Agama yang berbentuk universitas. UIN Jakarta memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh UIN lain. Posisinya yang berada di pinggiran ibu kota negara sangat strategis baik secara sosial, ekonomi, maupun politik.

Pertama, lokasi UIN Jakarta yang berada di Tangerang Raya (Kab. Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan [Tangsel]), kawasan yang menempel kota kosmopolitan Jakarta. Tangerang Raya tidak sekedar sebagai daerah penyangga, tetapi sudah menjadi kota metropolitan sendiri. Ini adalah daerah padat penduduk. Pada pertengahan 2025, jumlah totalnya menembus 6,8 juta jiwa (BPS Banten 2025). Angka yang melebihi populasi Singapura! Bahkan Tangsel, tempat kampus UIN Jakarta berada, pertumbuhan penduduk mencapai 2-3% pertahun (BPS Tangsel 2025) dengan kepadatan penduduk mencapai 8.900/Km². Selain karena masih relatif baru (berdiri sebagai kota yang terlepas dari Kabupaten Tangerang tahun 2008), dukungan banyaknya pilihan moda transportasi dari dan ke Jakarta menjadikan Tangsel pilihan menarik banyak warga migrasi dari Jakarta. Jadi, Tangsel itu contoh sempurna kota satelit yang tumbuh karena pelarian harga rumah Jakarta.

Dengan kepadatan dan segala problem demografisnya, UIN Jakarta tidak perlu jauh-jauh melakukan riset tentang kemiskinan kota, toleransi, banjir, dan macet. Semua ada di halaman depan kampus. Ini yang membuat riset relevan bagi THE dan QS, karena mereka menilai impact-nya. Ditambah dengan Jakarta, Bekasi, dan Depok, posisi UIN Jakarta seperti hub. Dari sisi ranking Webometrics, traffic website dan sitasi menjadi tinggi karena reputasi akademik, aksesnya gampang, kolaborasi dengan dunia industri di kawasan juga gampang. Berbeda dengan UIN di daerah yang harus berjuang mendatangkan dosen tamu.

Tangerang Raya didiami oleh muslim urban, kelas menengah, melek digital dan 70% penduduknya usia produktif. Artinya, dalam 10 tahun ke depan, permintaan kuliah di Tangerang Raya akan meningkat terus. Ini daya dukung luar biasa. UIN Jakarta hidup di tengah "pasar" muslim modern yang butuh jawaban agama yang kontekstual, bukan cuma doktrinal. Oleh karena itu, Prodi Ekonomi Syariah dan Komunikasi dan Penyiaran Islam sangat diminati di sini. Jadi, dengan bussines as usual pun UIN Jakarta tidak akan kehabisan mahasiswa, bahkan bisa selektif.

Kedua, posisinya yang dekat dengan pusat pemerintahan dan aktivitas politik nasional, menjadikan UIN Jakarta secara kelembagaan lebih mudah untuk terlibat langsung dalam perumusan kebijakan. Bahkan tidak sedikit akademisi UIN Jakarta yang menjadi referensi dalam isu-isu nasional yang sedang aktual dan tampil di media nasional. Kelebihan tersebut memberi benefit yang memengaruhi reputasinya dalam kancah nasional. Tidak mengherankan UIN Jakarta menjadi UIN yang paling banyak diminati oleh calon mahasiswa.

Khittah UIN: Integrasi Ilmu dan Keberpihakan pada Kelompok Marginal

Sejak awal UIN Jakarta didirikan bukan sekedar untuk menjadikan "IAIN yang berganti baju". Azyumardi Azra (Kompas, 2002), menegaskan bahwa transformasi IAIN menjadi UIN adalah proyek epistemologis besar: mengakhiri dikotomi ilmu yang memisahkan wahyu dan akal, agama dan pengetahuan. Inilah mandat integrasi ilmu. Universitas ini didirikan dengan dua tugas suci: pertama, melakukan reintegrasi keilmuan Islam dengan sains modern; kedua, mengabdi pada masyarakat sebagai manifestasi nyata dari Islam rahmatan lil-alamin (Abuddin Nata, 2005, hlm. 45).

Integrasi ilmu itu tidak boleh berhenti sebagai jargon, apalagi proyek. Ia harus terus dikawal dan dikembangkan modelnya. Jika pada era awal integrasi diwujudkan dengan pembukaan fakultas umum di lingkungan IAIN, kini tantangannya lebih canggih. Mengintegrasikan bukan menempelkan ayat dan hadis pada fenoma alam dan sosial sebagai konfirmasi dan justifikasi, melainkan sebagai paradigma berfikir dan bertindak. Modelnya dapat menyesuaikan dari banyak pilihan baik yang tawarkan oleh Azyumardi Azra, M. Amin Abdullah, atau Imam Suprayogo.

Mengingat perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) yang demikian cepat, kemudahan yang diberikannya dapat dijadikan sebagai salah satu isu untuk mewujudkan integrasi keilmuan. Jadi, AI tidak lagi diposisikan sebagai ancaman bagi teologi, tetapi masuk dalam kajian dan pemanfaatannya untuk penyelesaian problem sosial dalam perspektif Islam (lihat Syafi'i, kemenag.go.id, 28 September 2026). Misal mahasiswa Ushuluddin menggunakan learning machine untuk memetakan hoaks keagamaan di kawasan padat seperti Tangerang Selatan. Itulah khittah yang hidup.

Namun, integrasi harus disertai dengan keberpihakan agar tidak kehilangan makna. Pengabdian kepada masyarakat bagi UIN memiliki alamat yang jelas: masyarakat muslim yang marginal. Dengan mengambil sasaran terdekat saja, Tangerang Raya yang total penduduknya menembus 6,8 juta jiwa (BPS, Statistik Daerah Jabodetabek, 2025),  kemiskinan mungkin hanya 2,36% di Tangsel (BPS, 2024), tetapi kerentanan itu nyata: pekerja informal, driver ojol, penghuni kontrakan petak di pinggiran Ciputat-Pamulang. Mereka adalah mustad'afin, urban yang sering terlewat oleh kampus-kampus berbiaya tinggi. Sebagaimana diingatkan oleh Dawam Rahardjo (2002, hlm. 521), keberpihakan pada kaum du'afa adalah inti dari etika sosial Islam.

Di sinilah UIN Jakarta, yang baru saja menembus peringkat 29 dunia bidang Theology versi QS World University Rankings by Subject 2026 (QS WUR by Subject 2026), diuji. Prestasi global itu akan kehilangan makna jika UIN justru terjebak dalam logika komersialisasi. Sebagai kampus yang berlokasi di kota kosmopolitan yang berbiayai tinggi, sangat dimaklumi UIN Jakarta membutuhkan biaya besar untuk operasionalnya: penambahan dan perawatan infrastruktur, belanja pegawai, pengembangan akademik, dan riset. Namun, itu tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak berpihak kepada kelompok marginal.

Karena reputasi, prestasi, akreditasi, dan lokasi, dapat dipahami tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) UIN Jakarta lebih mahal dibanding dengan UKT pada PTKIN lain untuk prodi dan level yang sama. Akan tetapi, porsi untuk kelompok marginal harus tetap mendapat perhatian baik dengan penambahan level 1 & 2 dan mengurangi level 5, 6, dan 7 atau dengan insentif, seperti bantuan dan beasiswa baik dari Tangerang Raya maupun daerah 3 T. Data Ombudsman RI dan kajian Kompas (Yuliani, 2023, hlm. 134) menunjukkan, kenaikan UKT di PTN termasuk PTKIN telah menjadi penghalang akses. Jika UIN Jakarta hanya dipenuhi oleh mereka yang mampu membayar UKT kelompok 5, 6, dan 7, maka ia mengkhianati khittah-nya sendiri.

Sebaliknya, UIN harus membuka pintu yang lebar bagi mereka. Khittah pengabdian menuntut afirmasi. UIN Jakarta harus bisa menjadi katalisator bagi muslim marginal untuk naik kelas melalui pendidikan tinggi berkualitas, sehingga terjadi mobilitas vertikal yang signifikan. Teori mobilitas vertikal yang digagas Pitirim Sorokin dalam Social Mobility (1959, hlm. 11) menegaskan pendidikan adalah eskalator sosial paling sahih. Ketika seorang anak dari keluarga pemulung di Cipayung atau buruh cuci di Pondok Aren bisa menjadi sarjana Ekonomi Syariah UIN dan kemudian menjadi analis keuangan syariah di BSD City, itulah integrasi ilmu dan pengabdian yang sesungguhnya bertemu.

Akhirnya, menjaga khittah berarti menjaga keseimbangan antara global dan lokal. Menjadi kampus peringkat 29 dunia yang mampu berbicara tentang AI dan Islam di forum internasional adalah penting, tetapi menjadi tangga yang baik dan membawa maslahat bagi tetangganya sendiri yang terpinggirkan di Tangerang Raya adalah jauh lebih penting. Itulah UIN yang dicita-citakan para pendirinya. Wallahu a'lamu bi al-shawab.

Untuk mengakses berbagai layanan Kementerian Agama, silakan kunjungi https://kemenag.go.id/layanan


Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah.

Ikuti juga saluran Kementerian Agama di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb9xP10Fy72KZA2gk81S

Penulis adalah Dosen FITK UIN Jakarta dan peminat masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Artikelnya dimuat di laman Opini KEMENAG, Rabu 7 Oktober 2026.