UIN Jakarta Hadirkan Empat Pakar dalam Seminar Internasional tentang Peran Indonesia pada Penyelesaian Konflik Modern
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan seminar internasional ‘Indonesia Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution’, hadirkan empat pemateri nasional hingga tingkat internasional untuk membahas kontribusi Indonesia terhadap perdamaian global dan resolusi konflik kontemporer, Kamis (27/11/2025).
Empat pemateri yang berkontribusi dalam seminar ini ialah, Diplomat dan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia 2014-2019, Dr. H. Abdurrahman M. Fachir, Anggota Dewan Penasihat Institut Internasional untuk Demokrasi dan Bantuan Pemilu, Rizal Sukma, Ph.D., Pengamat Akademik Internasional Universitas Binus, Dinna Prapto Raharja, Ph.D., dan Asisten Profesor Universitas Indianapolis, Malika Ouacha, Ph.D.
Membuka panel session terkait kontribusi Indonesia dalam perdamaian global dan resolusi konflik kontemporer, Malika Ouacha berikan pandangannya terhadap gaya atau kecenderungan media dalam menyampaikan suatu informasi.
Malika Ouacha mengatakan bahwa Indonesia, secara mengejutkan menempati posisi penting dalam diplomasi internasional terkait masa depan Gaza. “Propelled by its long peacekeeping record, Muslim majority identity, and the rare legitimacy it holds across nations that seldom agree,” jelasnya.
Ia juga menambahkan contoh pada kesalahan penyampaian informasi terhadap konflik Palestina, ia menekankan bahwa pendekatan misi Indonesia seperti Indonesia yang memeluk keberagaman agama dan Indonesia juga menerapkan sikap terhadap negara lain dan Gaza salah satunya. “Dan menurutku, pada akhirnya, pendekatan seperti itu jauh lebih bermanfaat dan berdampak besar,” jelasnya
Dari sudut pandang Barat, banyak orang melihat Palestina seolah-olah negara Islam atau mayoritas Muslim saja, padahal itu tidak benar, terdapat kepercayaan Yahudi Palestina, ada Kristen Palestina, yang hidup berdampingan dengan Muslim Palestina secara damai. “And I think that's, I think in the end, definitely more fruitful and impactful,” jelasnya
Melanjutkan panel session, Diplomat dan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia 2014-2019, Dr. H. Abdurrahman M. Fachir mengatakan pada dasarnya kemerdekaan Indonesia adalah perdamaian dan keadilan. Ia melanjutkan dasar dari kemerdekaan yaitu adanya kapasitas, pengakuan, dan nilai universal yang dapat meyakinkan “Kita berbicara mengenai kemanusiaan, kita berbicara mengenai keadilan, kita berbicara mengenai kemerdekaan,” jelasnya.
Ia menekankan kembali kapasitas organisasi mampu mendorong dari masyarakat agar dapat menjadi mediator. “You have to have a good communication and relation with both parties,” jelasnya.
Melanjutkan pembahasan, Anggota Dewan Penasihat Institut Internasional untuk Demokrasi dan Bantuan Pemilu, Rizal Sukma, Ph.D., mengatakan bukan hanya pihak lain yang memulai dan menyepakati perdamaian, tetapi juga ikut menjaga agar perdamaian itu terus berlanjut. “So, it's not really peacekeeping only. Jadi, ini buat yang studi Hubungan Internasional mungkin paham terlalu banyak spektrumnya dari konsep, dari berbagai building,” jelasnya.
Disamping itu, pengamat akademik internasional Universitas Binus, Dinna Prapto Raharja, Ph.D., menambahkan pula sebagai masyarakat terkhusus mahasiswa harus bisa melihat dengan positif bahwa perdamaian merupakan level komunitas tertinggi.
“Poin utama saya itu adalah bahwa kalau dilihat dari posisi Indonesia sebagai middle-income country juga negara yang dari dulu dikenal aktif di tingkat internasional karena solidaritas,” jelasnya
Seminar Internasional ‘Indonesia Contribution to Contemporary Global Peace and Conflict Resolution’ dilaksanakan untuk memberikan wadah kepada mahasiswa UIN Jakarta dalam memperluas pengalaman dan pengetahuan dalam berkontribusi Indonesia terhadap perdamaian global dan penyelesaian konflik masa kini.
(Meisa Aqilah N.H/Fauziah M,/Zaenal M./Muhamad Arifin Ilham/Foto: Aqilah Qurratulaini)