UIN Jakarta Gelar International Seminar: Reimagining Islam-Citizenship Nexus untuk Perkuat Demokrasi dan Etika Publik Inklusif di Indonesia

UIN Jakarta Gelar International Seminar: Reimagining Islam-Citizenship Nexus untuk Perkuat Demokrasi dan Etika Publik Inklusif di Indonesia

Ruang Diorama, Berita UIN Online UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan demokrasi dan etika publik melalui penyelenggaraan International Seminar Series dengan tema “Reimagining the Islam-Citizenship Nexus: Democracy and Inclusive Public Ethics in Indonesia”. Kegiatan yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) ini berlangsung di Ruang Diorama, Auditorium Harun Nasution, Senin (23/2/2026). 

Seminar ini menghadirkan Prof. Robert Hefner sebagai keynote speaker. Turut hadir Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Kelembagaan., Prof. Dr. Din Wahid, M.A., Ph.D., Kepala LP2M Prof. Amelia Fauzia, Ph.D, pembicara Prof. Ismatu Ropi, MA, Ph.D dan Prof. lim Halimatusa'diyah, Ph.D, yang dimoderatori oleh Puspi Eko Wiranthi, Ph.D., serta dihadiri oleh sivitas akademika lintas fakultas dan beserta tamu undangan.

Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D, dalam sambutannya menegaskan pentingnya forum akademik untuk memperkaya perspektif tentang relasi Islam dan demokrasi.

“Seminar ini sangat penting agar kita dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama Prof. Hefner mengenai perkembangan Islam, kewargaan, dan demokrasi di Indonesia. Kita perlu terus belajar dan mendengar temuan-temuan baru dari penelitian yang telah dilakukan selama puluhan tahun,” ujar Rektor.

Ia juga menyoroti dinamika kontemporer seperti konservatisme, moderatisme, dan tantangan demokrasi global.

“Indonesia memiliki pengalaman demokrasi yang unik di antara negara-negara mayoritas Muslim. Namun demokrasi selalu memiliki tantangan. Karena itu, ruang-ruang diskusi akademik seperti ini harus terus dihidupkan,” tambahnya.

Kepala LP2M, Prof. Amelia Fauzia, Ph.D, menekankan bahwa diskursus mengenai Islam dan kewargaan menjadi semakin relevan dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini.

“Pertanyaan tentang seberapa inklusif ruang publik kita menjadi sangat penting, karena demokrasi membutuhkan etika publik yang adil dan inklusif bagi seluruh warga negara,” ungkapnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan berharap kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan posisi UIN Jakarta sebagai universitas berkelas dunia.

Dalam paparannya, Prof. Robert Hefner menyebut Indonesia sebagai satu-satunya negara mayoritas Muslim dari 49 negara anggota OKI yang berhasil mengonsolidasikan demokrasi elektoral secara efektif.

“Indonesia has the remarkable distinction of having developed one of the most forward-looking Islamic higher education systems in the world,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan demokrasi Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh interaksi kompleks antara negara dan masyarakat sipil, termasuk peran dua organisasi Islam terbesar di dunia, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Menurutnya, kedua organisasi tersebut tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga berkontribusi dalam membangun etika publik yang inklusif dan mendukung sistem kewargaan demokratis berbasis nilai-nilai kebangsaan.

Sebagai pembicara, Prof. Ismatu Ropi, MA, Ph.D menegaskan bahwa demokrasi Indonesia bukanlah pertarungan antara agama dan sekularisme, melainkan dinamika internal dalam diskursus Islam itu sendiri.

“Kita perlu bergerak dari toleransi yang rapuh menuju kewargaan yang setara dan inklusif. Kewargaan demokratis harus dipahami sebagai bagian dari kewajiban etis keagamaan,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Iim Halimatusa’diyah, Ph.D mengangkat perspektif moral citizenship dan perjuangan perempuan dalam ruang publik.

“Kewargaan adalah perjuangan etis yang terus dinegosiasikan. Pertanyaannya, apakah inklusivitas itu realistis di tengah dinamika mayoritas dan minoritas yang selalu ada?” tuturnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya menjaga posisi kritis masyarakat sipil terhadap negara demi mempertahankan prinsip keadilan dan inklusivitas.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa dan dosen dari berbagai fakultas. Seminar ini menjadi refleksi penting atas posisi Indonesia dalam peta demokrasi global sekaligus penguatan peran UIN Jakarta sebagai pusat pengembangan pemikiran Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada etika publik.

(Putri Khoirina N./Fauziah M./Zaenal M./Tiara Septiana D./Foto: Azka Raysa P.)