UIN Jakarta dan CECF Amerika Serikat Perkuat Diplomasi Keagamaan Global
Lounge Akademik, Berita UIN Online – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kerja sama dengan lembaga Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF) yang dihadiri langsung oleh Presiden CECF, Prof. Dr. Imam Mohammad Bashar Arafat. Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan program diplomasi atau religious diplomacy keagamaan serta memperkuat jejaring akademik internasional yang berlangsung di Lounge Akademik UIN Jakarta, pada Rabu (09/09/202).
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UIN Jakarta dan perwakilan lembaga mitra. Di antaranya Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kelembagaan Din Wahid, M.A., Ph.D., Dekan Fakultas Ushuluddin Prof. Ismatu Ropi, M.A., Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi., Psikolog., Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) Dr. Yuli Yasin, Lc., M.A. Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Dr. Iding Rosyidin, M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Dr. Muhtadi, M.Si., Kepala Pusat Layanan Kerja Sama Internasional (PLKI) UIN Jakarta Yudi, S.Sos.I., Koordinator Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Dr. Deden Mauli Darajat, S.Sos.I., M.Sc., serta Country Representative CECF di Indonesia, Dr. KH. Mahfud Mahdi, Lc., M.A.
Momentum dan pemantapan kerja sama ini memuat beberapa poin krusial, seperti penyusunan program pendidikan dan pelatihan diplomasi keagamaan, pembukaan kesempatan bagi mahasiswa UIN Jakarta untuk mengikuti program CECF, hingga pertukaran akademisi Indonesia ke Amerika Serikat melalui International Observer Program (IOP).
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kelembagaan UIN Jakarta, Din Wahid, M.A., Ph.D., mengungkapkan pentingnya menjajaki kemitraan dengan CECF ini guna memperluas horizon diplomasi kampus di tingkat internasional.
“Konsep diplomasi keagamaan ini menginspirasi kita bahwa ada kosakata baru yang selama ini jarang kita dengar. Kita biasanya mendengar soft diplomacy atau cultural diplomacy. Pengembangan diplomasi keagamaan ini sangat penting agar para akademisi, ustadz, dan alim ulama tidak hanya berdakwah dengan aktif melakukan diplomasi antarnegara berbasis agama di kancah global,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UIN Jakarta berharap dapat segera merumuskan program konkret, khususnya terkait dengan student mobility.
“Kami berharap bisa membuat program mobilitas mahasiswa, bukan sekadar untuk jenjang pascasarjana, tetapi juga mahasiswa sarjana dengan kriteria tertentu agar dapat mengikuti perkuliahan atau beberapa mata kuliah di sana,” imbuhnya.
Sementara itu, Presiden CECF, Prof. Dr. Imam Mohammad Bashar Arafat, menjelaskan bahwa CECF telah melibatkan pemuda dan akademisi dari 80 negara dalam program diplomasi keagamaan. Melalui kemitraan ini, ia mengharapkan keterlibatan civitas akademika UIN Jakarta dapat menjadi pijakan utama dalam membangun jejaring diplomasi antariman di dunia.
"We started doing training with the US Embassy in Belgium. This is why here the United Under-Secretary-General came, important for us to hold inauguration of our School of Religious Diplomacy with the United Nations. And that is what I hope to do with faculty members from all over Indonesia to the United States through UIN Syarif Hidayatullah,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa CECF telah bekerja sama dengan lebih dari 45 kedutaan besar di berbagai belahan dunia, mulai dari kawasan Afrika, Eropa, hingga Asia. Selain dengan UIN Jakarta, CECF memiliki rekam jejak kolaborasi dengan berbagai lembaga keagamaan dan perguruan tinggi di Indonesia, seperti program Kader Ulama Global bersama (PTIQ), kerja sama dengan Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ), serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Universitas Brawijaya di Markas Besar PBB, New York.
"Brawijaya University brought the MOU and we signed it inside the assembly in the United Nations. Now we are making these courses available for universities in Indonesia to get their certificates,” ungkapnya.
Menyetujui hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kelembagaan Din Wahid, M.A., Ph.D., menekankan bahwa langkah selanjutnya adalah mengawal implementasi nyata dari kerja sama ini serta mencari skema pendanaan yang berkelanjutan.
“Tentu nanti kita akan susun MoU, tetapi yang terpenting adalah implementasinya. Kita berharap bisa mencari skema pendanaan, baik dari donor internasionalyang siap mendukung pengiriman mahasiswa kita untuk mengikuti short course selama dua hingga tiga minggu di sana. Kita akan berupaya ke arah sana,” tuturnya.
Mengenai langkah konkret ke depan, pihak UIN Jakarta dan CECF dijadwalkan akan kembali menggelar pertemuan teknis untuk mematangkan draf kerja sama, baik dalam bentuk program jangka pendek short-term maupun program jangka panjang long-term.
“Untuk jangka panjang, salah satu fokus utamanya adalah riset kolaboratif yang berkelanjutan serta pengembangan metode pengajaran diplomasi agama,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Prof. Dr. Imam menegaskan bahwa Indonesia, khususnya UIN Jakarta, memiliki modal sosial dan kebudayaan yang sangat kuat untuk memimpin diplomasi Islam di panggung dunia dan menepis narasi Islamofobia.
"For me, Indonesia is one of the most important countries on the surface of this earth for so many reasons because you have certain kind of culture that shows the beauty of culture, coexistence, tolerance. that's what we need to show to the world," tutupnya.