Tujuh Ilmuwan PTKI Masuk Daftar Top 2 Persen Dunia, Perkuat Daya Saing Riset Indonesia

Tujuh Ilmuwan PTKI Masuk Daftar Top 2 Persen Dunia, Perkuat Daya Saing Riset Indonesia

Jakarta, Berita UIN Online– Tujuh ilmuwan dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) tercatat dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026 kategori dampak sitasi tahunan. Berasal dari lima Universitas Islam Negeri (UIN), capaian ini menunjukkan kontribusi akademisi kampus keagamaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional, mulai dari pendidikan, hukum, dan politik hingga matematika terapan serta ekonomi dan keuangan Islam.

Salah satu ilmuwan yang mencatatkan prestasi tersebut ialah Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, Guru Besar Pendidikan Anak Usia Dini dan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia tercantum dalam daftar selama empat tahun berturut-turut, sejak 2023 hingga 2026.

Berdasarkan pengolahan data TOPSCINET 2026, tujuh ilmuwan tersebut terdiri atas dua akademisi UIN Ar-Raniry, dua dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta masing-masing satu dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dan UIN K.H. Achmad Siddiq Jember.

Kontribusi dalam Beragam Bidang Keilmuan

Dari UIN Ar-Raniry, Muhammad Siddiq Armia menempati peringkat nasional ke-37. Ia menekuni bidang hukum, termasuk perbandingan hukum konstitusi. Dalam klasifikasi TOPSCINET, ia tercatat pada subbidang Law dengan peringkat ke-67 dunia.

Sementara itu, Maila menempati urutan ke-52 dari 272 ilmuwan berafiliasi di Indonesia yang tercantum dalam daftar tahunan 2026. Pada tingkat nasional, ia berada di urutan kedua pada subbidang pendidikan dan ketiga pada bidang ilmu sosial. Secara global, ia menempati peringkat ke-1.379 dari 115.687 peneliti pendidikan, atau sekitar 1,2 persen teratas. Profilnya juga mencantumkan Artificial Intelligence & Image Processing sebagai subbidang kedua.

Dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Habibis Saleh berada di urutan nasional ke-77. Akademisi di bidang matematika terapan ini tercatat dalam subbidang Mechanical Engineering & Transports pada TOPSCINET. Pengelompokan tersebut mengikuti klasifikasi dalam basis data yang dapat berbeda dari bidang kepakaran akademisi.

Berikutnya, Hariyanto dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menempati urutan ke-201 nasional. Ia merupakan guru besar di bidang hukum pemerintahan daerah.

Dari UIN Jakarta, Prof. Saiful Mujani menempati urutan ke-255. Guru besar ini dikenal melalui kajian ilmu politik, opini publik, perilaku pemilih, dan demokratisasi. Penelitiannya berbasis survei untuk memahami dinamika masyarakat dan kehidupan demokrasi.

Dua nama lainnya ialah Mursyid Djawas dari UIN Ar-Raniry yang menempati urutan ke-259, dengan kepakaran hukum Islam dan hukum keluarga Islam, serta Khairunnisa Musari dari UIN K.H. Achmad Siddiq Jember pada urutan ke-267. Khairunnisa menekuni ekonomi dan keuangan Islam, termasuk sukuk, wakaf, dan pembiayaan mikro.

Riset PTKI Menjangkau Persoalan Masyarakat

Keragaman bidang kepakaran tersebut menunjukkan bahwa kontribusi ilmuwan PTKI tidak terbatas pada kajian keagamaan, tetapi juga mencakup berbagai persoalan sosial dan pembangunan. Penelitian hukum membahas kehidupan bernegara dan keluarga, kajian politik membantu memahami perilaku masyarakat, sedangkan pendidikan dan matematika terapan berkontribusi pada pengembangan pembelajaran serta pemecahan masalah.

Ekonomi dan keuangan Islam juga menjadi bagian dari kontribusi tersebut, terutama melalui kajian instrumen keuangan, wakaf, dan akses pembiayaan.

Pada subbidang hukum, keterwakilan ilmuwan PTKI terlihat menonjol. Dari empat ilmuwan berafiliasi di Indonesia yang tercatat dengan hukum (Law) sebagai subbidang utama, dua di antaranya berasal dari PTKI, yakni Muhammad Siddiq Armia dan Hariyanto. Bersama capaian Maila dalam bidang pendidikan, hal ini memperlihatkan kontribusi akademisi PTKI pada sejumlah bidang keilmuan yang memiliki relevansi luas bagi masyarakat.

Tiga dari tujuh ilmuwan tersebut juga masuk dalam jajaran 100 teratas daftar Indonesia lintas bidang. Mereka berasal dari tiga kampus berbeda, yakni UIN Ar-Raniry, UIN Jakarta, dan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Sebaran ini memperlihatkan bahwa penelitian yang memperoleh pengakuan internasional berkembang di sejumlah perguruan tinggi keagamaan.

Secara nasional, tiga subbidang dengan jumlah ilmuwan terbanyak dalam daftar tersebut ialah kedokteran umum dan penyakit dalam, material, serta kecerdasan artifisial dan pemrosesan citra. Kehadiran ilmuwan PTKI turut memperluas keragaman bidang penelitian yang mendapat perhatian internasional, termasuk pendidikan, demokrasi, hukum, dan pembiayaan.

Jumlah Ilmuwan Indonesia Terus Meningkat

Dalam empat edisi terakhir, jumlah ilmuwan berafiliasi di Indonesia yang tercatat dalam daftar meningkat dari 92 pada 2023 menjadi 150 pada 2024, 209 pada 2025, dan 272 pada 2026. Dibandingkan 2023, jumlah tersebut bertambah 180 nama atau sekitar 195,7 persen. Dengan demikian, jumlah ilmuwan pada 2026 hampir tiga kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya.

Tujuh ilmuwan dari lima UIN turut memperkuat keterwakilan akademisi Indonesia dalam daftar tersebut. Capaian ini sekaligus menjadi peluang bagi PTKI untuk memperluas kolaborasi penelitian, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta memperkuat dukungan terhadap pengembangan karier akademik dan peneliti muda.

Daftar ini bersumber dari basis data indikator sitasi yang disusun John P. A. Ioannidis dan diterbitkan melalui Elsevier Data Repository. Kategori tahunan 2026 menggunakan data sitasi selama 2025, dengan indikator komposit yang memperhitungkan dampak sitasi dan kepengarangan.

Bagi PTKI, capaian tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperkuat ekosistem riset yang produktif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak. Melalui penelitian yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi keagamaan berpeluang memperluas kontribusinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan daya saing riset Indonesia di tingkat global. (Pusat Informasi dan Humas LP2M UIN Jakarta)