THR dan Ilusi Kesejahteraan Musiman
Mohammad Nur Rianto Al Arif
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PDM Jakarta Timur)
Salah satu topik yang selalu menjadi perbincangan nasional setiap Ramadhan adalah tunjangan hari raya (THR). THR bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi telah menjelma menjadi simbol harapan, sumber kebahagiaan, pemicu konsumsi, bahkan indikator semu kesejahteraan. Ketika dana THR masuk ke rekening, muncul rasa lega, diikuti rencana belanja. Pusat perbelanjaan menjadi ramai, transaksi meningkat, dan optimisme terasa menguat.
Namun, di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah THR benar-benar meningkatkan kesejahteraan, atau hanya menghadirkan ilusi kesejahteraan yang bersifat sementara?
Setiap tahun, polanya hampir sama. Daya beli naik drastis menjelang Lebaran, konsumsi melonjak, dan aktivitas ekonomi bergerak cepat. Akan tetapi, beberapa minggu setelah hari raya berlalu, banyak orang kembali pada kondisi keuangan semula, bahkan lebih berat karena tabungan menipis. THR habis, kebutuhan rutin tetap berjalan, dan sebagian orang kembali menghadapi defisit pribadi. Jika kesejahteraan diartikan sebagai ketenangan finansial yang berkelanjutan, maka lonjakan musiman ini patut dipertanyakan.
Secara regulasi, THR adalah hak pekerja. Tujuannya sebagai bentuk apresiasi sekaligus bantuan menghadapi kebutuhan hari raya. Dalam konteks sosial Indonesia, Lebaran bukan sekadar perayaan religius, tetapi juga peristiwa budaya yang membutuhkan kesiapan finansial: mudik, pakaian baru, makanan khas, bingkisan keluarga, zakat, dan sedekah. Dalam kerangka ini, keberadaan THR memiliki dasar sosial yang rasional.
Namun dalam praktiknya, THR berkembang melampaui fungsi perlindungan sosial. Ia menjadi pendorong konsumsi nasional. Ketika THR cair, sektor ritel, transportasi, pariwisata, hingga e-commerce mengalami lonjakan. Bank menawarkan kredit tambahan, layanan paylater meningkat, dan berbagai promo bermunculan. Semua memanfaatkan momentum psikologis yang sama: masyarakat merasa memiliki “uang lebih”.
Padahal, THR bukan uang tambahan di luar pendapatan tahunan, melainkan bagian dari total kompensasi kerja yang dibayarkan sekaligus. Di sinilah ilusi mulai terbentuk. Secara perilaku ekonomi, manusia cenderung memperlakukan uang berdasarkan cara ia menerimanya. Gaji bulanan dianggap untuk kebutuhan rutin, sedangkan THR sering dipersepsikan sebagai bonus bebas pakai. Persepsi ini memengaruhi pola konsumsi. Barang yang sebelumnya terasa mahal menjadi tampak wajar. Keputusan belanja menjadi lebih impulsif. Keinginan perlahan berubah menjadi kebutuhan semu.
Lebaran juga menjadi panggung representasi sosial. Pakaian baru dianggap simbol keberhasilan. Amplop untuk keponakan mencerminkan kepedulian. Hampers menjadi simbol relasi. Dalam situasi ini, THR berubah fungsi menjadi alat legitimasi sosial. Masalahnya, legitimasi sosial memiliki biaya tinggi. Standar gaya hidup meningkat dari tahun ke tahun, dipengaruhi inflasi, media sosial, dan komersialisasi hari raya. Ekspektasi tumbuh lebih cepat daripada pendapatan.
Fenomena pasca-Lebaran sering luput dibahas. Banyak orang mengakui kondisi keuangan mereka justru lebih ketat setelah hari raya. Tabungan terkuras, pengeluaran tak terduga muncul, bahkan sebagian terjebak utang konsumtif. Jika THR benar-benar meningkatkan kesejahteraan, seharusnya rasa aman finansial bertahan lebih lama. Kenyataannya, efek tersebut sering hanya berlangsung singkat.
Artinya, THR tidak menyentuh akar persoalan kesejahteraan. Kesejahteraan sejati bertumpu pada pendapatan stabil, pengelolaan keuangan yang bijak, dan kemampuan menahan konsumsi. THR hanya menambah likuiditas sementara.
Dari sudut pandang makroekonomi, THR memang mendorong pertumbuhan konsumsi. Konsumsi rumah tangga sebagai komponen terbesar PDB Indonesia biasanya meningkat signifikan menjelang Lebaran. Sektor transportasi, pariwisata, dan UMKM merasakan dampaknya. Dalam jangka pendek, hal ini positif bagi pertumbuhan.
Namun, konsumsi musiman tidak otomatis memperkuat fondasi ekonomi. Ia tidak menciptakan produktivitas baru, tidak meningkatkan kualitas tenaga kerja, dan tidak memperkuat tabungan nasional. Uang berputar lebih cepat, tetapi tidak selalu menghasilkan kemajuan struktural. Pertumbuhan yang terlalu bergantung pada momentum emosional cenderung rapuh.
Selain itu, tidak semua pekerja menerima THR dalam jumlah yang sama. Pekerja formal mendapat jaminan regulasi, sementara pekerja informal sering kali tidak memiliki kepastian. Di sisi lain, standar sosial Lebaran berlaku sama bagi semua. Di sinilah ketimpangan terlihat. Ilusi kesejahteraan musiman lebih nyata dirasakan oleh kelompok tertentu.
Dalam masyarakat modern, keberhasilan kerap diukur dari kemampuan membeli. Hari raya menjadi ajang pembuktian daya beli. Padahal, kesejahteraan sejati sering kali terkait dengan kemampuan merasa cukup. Sayangnya, narasi “cukup” jarang dipromosikan. Iklan mendorong konsumsi impulsif, media sosial membentuk standar baru, dan diskon besar menciptakan rasa urgensi. THR menjadi amunisi untuk memenuhi dorongan tersebut.
Solusinya bukan menghapus THR, karena ia tetap penting sebagai hak pekerja dan penopang ekonomi. Yang perlu diubah adalah cara memaknainya. Literasi keuangan perlu diperkuat menjelang pencairan THR. Dana tersebut idealnya dibagi secara proporsional: untuk kebutuhan, tabungan, investasi, dan berbagi. Pemerintah dan perusahaan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengedukasi pengelolaan keuangan yang sehat.
Lebaran juga perlu dimaknai ulang. Kebahagiaan tidak identik dengan konsumsi berlebihan. Pulang kampung tidak harus membawa simbol kemewahan. Budaya berbagi tidak harus dilakukan secara berlebihan. Jika THR digunakan untuk memperkuat dana darurat, melunasi utang produktif, atau membangun aset kecil, maka ia dapat menjadi instrumen kesejahteraan nyata.
Ilusi kesejahteraan muncul ketika peningkatan likuiditas dianggap sebagai peningkatan kesejahteraan. Padahal kesejahteraan adalah kondisi jangka panjang: stabilitas, keamanan finansial, dan kemampuan merencanakan masa depan. THR memberi peluang, bukan jaminan.
Setiap tahun, THR akan datang kembali. Setiap tahun pula pusat perbelanjaan akan ramai. Pertanyaannya bukan apakah kita boleh menikmati hasil kerja keras. Pertanyaannya adalah apakah kita menginginkan kesejahteraan yang bertahan beberapa minggu atau yang menopang kehidupan dalam jangka panjang.
Ilusi kesejahteraan musiman terasa manis, tetapi cepat menguap. Kesejahteraan sejati mungkin terasa sederhana, namun bertahan lama. Tantangannya adalah belajar membedakan antara memiliki uang lebih dan hidup lebih sejahtera.
Artikel ini telah dipublikasikan di Kompas pada Senin, 20 Februari 2026.
