SK Dekan Terbaru, UIN Jakarta Luluskan Mahasiswa Jurnalistik Melalui Jalur Nonskripsi

SK Dekan Terbaru, UIN Jakarta Luluskan Mahasiswa Jurnalistik Melalui Jalur Nonskripsi

Gedung FDIKOM, Berita UIN Online – Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi mengimplementasikan tugas akhir nonskripsi berbentuk Buku Foto Jurnalistik. Melalui skema yang diatur dalam Surat Keputusan (SK) Dekan FDIKOM Nomor 204 Tahun 2026 tentang Pedoman Penulisan Tugas Akhir Nonskripsi Karya Buku Foto Jurnalistik, dua mahasiswa menjadi lulusan perdana yang menyelesaikan studi melalui jalur tersebut, Jumat (26/6/2026).

Kebijakan ini menjadi langkah baru Prodi Jurnalistik dalam menyediakan alternatif penyelesaian studi yang tetap memenuhi standar akademik sekaligus mengakomodasi keberagaman kompetensi mahasiswa. Selain menghasilkan karya profesional, mahasiswa tetap diwajibkan menjalani proses riset dan metodologi ilmiah yang setara dengan penyusunan skripsi.

Ketua Prodi Jurnalistik, Dr. Bintan Humeira, M.Si., mengungkapkan bahwa program studi perlu memberikan ruang bagi diferensiasi kompetensi mahasiswa yang beragam agar tidak terpaku pada skripsi sebagai satu-satunya bentuk tugas akhir. Melalui struktur kurikulum yang ada, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi pengetahuan akademik secara teori dan metodologi, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

"Kami melihat bahwa perlu memberikan ruang, adanya diferensiasi pada kompetensi mahasiswa yang beragam, sehingga tidak hanya dilihat pada satu bentuk tugas akhir yaitu skripsi. Artinya mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi pengetahuan akademik secara teori dan metodologi, tetapi juga diarahkan karena struktur kurikulumnya memberikan kesempatan mereka untuk punya skill," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa bobot kualitas tugas akhir nonskripsi tetap setara dengan skripsi dan memenuhi kualifikasi kelulusan yang telah ditetapkan. Mahasiswa tetap diwajibkan menjalani proses berbasis riset dan metodologi ilmiah yang ketat. 

Dosen Prodi Jurnalistik sekaligus Pembimbing Tugas Akhir Nonskripsi, Rasdian A. Vadin, S.S., M.A., menjelaskan bahwa pola bimbingan pada jalur ini dirancang dinamis dan fleksibel. Proses asistensi dilakukan secara luring maupun daring untuk merespons kebutuhan mahasiswa selama menjalankan peliputan di lapangan.

“Jadi biasanya bisa secara tata muka atau juga daring. Kadang kawan-kawan liputan dari lapangan langsung ada respon bersama di grup. Jadi seperti layaknya ruang redaksi saja,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa jalur nonskripsi memberikan nilai tambah bagi lulusan Jurnalistik UIN Jakarta karena selain memperoleh ijazah dan transkrip akademik, mereka juga memiliki portofolio profesional yang dapat menjadi bekal memasuki industri media dan komunikasi.

“Keunggulannya atau nilai lebihnya menurut saya adalah pada saat kawan-kawan mengerjakan ini, itu kawan-kawan mengimplementasikan semua materi yang dipelajari selama kuliah dan langsung terjun ke lapangan. Dan menurut saya secara lengkap ya, kawan-kawan menulis, memotret, melayot, mencetak, dan merepresentasikan. Kemudian kan satu sisi, mungkin nilai tambahnya adalah pada saat mereka nanti lulus, tidak hanya membawa ijazah atau nilai, tapi mereka membawa sebuah portfolio berbentuk buku foto,” tambahnya

Dari sudut pandang mahasiswa, jalur nonskripsi dinilai menjadi angin segar karena memberikan kebebasan dalam mengeksplorasi minat profesional. Nur Ikhwan, salah satu mahasiswa yang lulus melalui jalur ini, mengaku ketertarikannya pada dunia fotografi menjadi alasan utama memilih tugas akhir berbentuk buku foto jurnalistik.

"Alasan saya memilih tugas akhir nonskripsi buku foto ini tentunya dari diri saya sendiri yang sangat suka dengan dunia fotografi. Ketika fakultas menawarkan, di situlah saya langsung tertarik. Dalam pengerjaannya, kami dituntut terjun langsung ke lapangan. Saya mengangkat isu marginal di Bantaran Sungai Ciliwung, memotret realitas kehidupan warga di kawasan Manggarai dan Kebun Pala yang kerap luput dari perhatian. Tantangan terbesarnya bukan teknis, melainkan bagaimana membangun kedekatan dan kepercayaan dengan masyarakat yang terdampak isu sensitif seperti penggusuran agar proses dokumentasi humanis ini berjalan sesuai etika," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Reza Alwi Ibnu Ibrohim yang meluncurkan buku foto berjudul Jalan Indah Kecahayaan. Sebagai fotografer, ia mengaku jalur ini membuatnya lebih bersemangat dalam menyelesaikan studi.

"Karena saya sendiri merupakan freelance photo yang sering turun di lapangan, tugas akhir nonskripsi ini membuat saya lebih senang dan lebih bersemangat dalam mengerjakannya. Dalam buku foto ini, saya meneliti isu disabilitas di empat lokasi berbeda di Jakarta dan Bandung selama berminggu-minggu. Saya ingin mengisi celah di media yang masih sering mengeksploitasi narasi rasa kasihan terhadap penyandang disabilitas. Lewat karya visual ini, saya berupaya menghadirkan perspektif yang lebih humanis, setara, dan inklusif," tuturnya.

(Khoirillah/Zaenal M./Alden Lee/Foto: Azka Raysa)

Tag :