Seni yang Melembutkan Qalbu

Seni yang Melembutkan Qalbu

Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal

Tidak semua seni positif di dalam pembinaan qalbu. Ada seni yang justru merusak qalbu. Di dalam Islam juga dikenal ada seni yang mendekatkan jiwa kita kepada Tuhan dan ini yang positif dan sangat dianjurkan. Ada juga seni yang mendekatkan diri kepada setan yang biasa disebut 'suara-suara iblis' dan ini jenis seni negatif yang perlu dihindari. Contohnya seni yang bisa membangkitkan birahi seperti seni erotis yang mempertontonkan keindahan lekuk tubuh dan menyebabkan para penontonnya berimajinasi seksual terhadap obyek tersebut. Seni ini menyebabkan seseorang melupakan Tuhan dan memusatkan perhatian dan nafsunya kepada makhluk.

Nabi sering mencontohkan sikap terhadap seni. Terhadap seni yang positif dia memberikan apresiasi positif dan terhadap seni yang negatif juga ia memberi apresiasi negatif. Dalam beberapa riwayat Nabi memberikan dukungan terhadap musik dan sesi suara. Dalam satu hadis riwayat Bukhari dan Muslim menceritakan dua budak perempuan pada hari raya 'Id (Idul Adha) menampilkan kebolehannya bermain musik dengan menabuh rebana, sementara Nabi dan Aisyah menikmatinya. Tiba-tiba Abu Bakar datang dan membentak kedua pemusik tadi, lalu Rasulullah menegur Abu Bakar dan berkata: "Biarkanlah mereka berdua hai Abu Bakar, karena hari-hari ini adalah hari raya". Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah yang mengatakan:

“Saya melihat Nabi dengan menutupiku dengan surbannya sementara aku menyaksikan orang-orang Habsyi bermain di mesjid. Lalu Umar datang dan mencegah mereka bermain di mesjid, kemudian Rasulullah berkata: "Biarkan mereka, kami jamin keamanan wahai Bani Arfidah". Dalam hadis riwayat Muslim dari 'Aisyah disebutkan kelompok seniman Habasyah itu menampilkan seni tari-musik pada hari Raya 'Id di mesjid. Rasulullah memanggil 'Aisyah untuk menyaksikan pertunjukan itu, kepala 'Aisyah diletakkan di pundak Nabi, sehingga 'Aisyah dapat menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin karya Imam Al-Gazali ada suatu bab khusus tentang pentingnya seni. Ia menceritakan pengalaman di masa Nabi seperti Ia membiarkan orang melantunkan nyanyian dan syair ketika menunaikan ibadah haji, ketika prajurit melangsungkan lagu-lagu perjuangan untuk memotivasi prajurit di medan perang, nyanyian yang dilantunkan merasakan kesedihan karena dosa yang telah diperbuat, seperti dikutip Nabi Adam dan Nabi Dawud menangisi dosa dan kekeliruannya dengan ungkapan-ungkapan khusus, nyanyian untuk mengiringi acara-acara kegembiraan seperti suasana hari raya, hari perkawinan, acara 'aqiqah dan kelahiran anak, acara khitanan, pulangnya para perantau, dan khataman Alquran.

Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi, sebagaimana dikutip Al-Gazali, menceritakan behwa ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, para perempuan melantunkan nyanyian di rumahnya masing-masing: Telah terbit bulan purnama di atas kita, dari bukit Tsaniyatil Wada'. Wajiblah bersyukur atas kita, selama penyeru menyerukan kepada Allah.

Hadis-hadis shahih dan pendapat ulama terkemuka di atas menunjukkan bahwa pertunjukan seni, termasuk di dalamnya permainan alat-alat musik dan nasyid, menyanyi tidak dibenarkan Rasullah SAW. Memang ada juga riwayat yang mencela alat bunyi-bunyian, seperti seruling (mazamir), tetapi jika musik dan bunyi-bunyian itu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu yang bertentangan dengan syari'ah, misalnya seni musik mengiringi ritual kemusyrikan, seni musik menimbulkan fitnah, mengajak orang untuk mabuk, merangsang pendengarnya untuk melakukan maksiat dan melupakan Tuhan.

Seni musik bagian dari kebudayaan dan peradaban Islam yang harus dilestarikan. Sudah saatnya juga seni musik dan berbagai bentuk seni lainnya dijadikan media dakwah untuk mengajak orang berhati lembut, berfikiran lurus, berprilaku santun, bertutur kata halus, dan menampilkan jati diri dan inner beauty setiap orang.

Sumber: detiknews.com. (sam/mf)