Senat UIN Jakarta: Universitas Bukan Sekadar Balai Pelatihan Kerja
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online— Senat Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengingatkan pentingnya seluruh sivitas universitas memandang pendidikan tinggi secara komprehensif menyusul wacana transformasi dan penutupan program studi yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Universitas tidak semata-mata berfungsi mencetak tenaga kerja, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, kebudayaan, moralitas publik, dan pembentukan peradaban.
Demikian disampaikan Sekretaris Senat Universitas UIN Jakarta Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag., saat menyampaikan pidato atas nama Pimpinan Senat Universitas dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-69 UIN Jakarta di Auditorium Harun Nasution, Kampus I UIN Jakarta, Rabu (17/6/2026). Menurutnya, pendidikan tinggi memang harus relevan dengan perkembangan masyarakat, industri, teknologi, dan pembangunan nasional.
Namun, tegasnya, relevansi tersebut tidak boleh dimaknai secara sempit hanya berdasarkan kebutuhan pasar kerja jangka pendek. “Universitas bukan balai pelatihan kerja semata. Universitas adalah pusat ilmu, pusat moralitas publik, pusat kebudayaan, pusat riset, dan pusat pembentukan peradaban,” ujarnya.
Karena itu, penilaian terhadap suatu program studi harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya didasarkan pada jumlah peminat maupun tingkat serapan lulusan di dunia kerja. Evaluasi program studi juga perlu mempertimbangkan mutu kurikulum, kualitas dosen, produktivitas riset, rekognisi akademik, kontribusi sosial, kebutuhan negara, perkembangan ilmu pengetahuan, serta proyeksi masa depan.
Guru Besar Fakultas Ushuluddin menilai, isu transformasi program studi perlu dijawab melalui strategi akademik yang matang. Setiap program studi harus terus melakukan pembaruan kurikulum berbasis outcome, memperkuat kerja sama dengan dunia kerja, memperluas pembelajaran interdisipliner, serta memastikan lulusan memiliki kompetensi akademik, spiritual, digital, sosial, dan profesional.
Dalam konteks UIN Jakarta, Profesor Masri menegaskan pentingnya menjaga keberadaan program studi keagamaan sebagai identitas utama universitas. Di sisi lain, program studi keagamaan juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui penguatan literasi digital, kajian kontemporer, ekonomi, kebijakan publik, media, lingkungan, data, dan kemampuan komunikasi global.
Sementara itu, program studi umum didorong untuk terus memperkuat nilai-nilai keislaman, etika, keindonesiaan, dan kemanusiaan sebagai ciri khas pendidikan tinggi Islam. “Integrasi ilmu tidak boleh berhenti pada dokumen visi. Integrasi ilmu harus hidup dalam kurikulum, riset, pengabdian masyarakat, publikasi ilmiah, layanan mahasiswa, dan budaya akademik. Di sinilah UIN Jakarta memiliki keunggulan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Profesor Masri mewakili Senat Universitas, mengajak seluruh sivitas akademika memperkuat lima agenda strategis pengembangan UIN Jakarta. Kelima agenda tersebut meliputi penguatan mutu akademik dan akreditasi program studi, percepatan transformasi digital dan tata kelola berbasis data, pengembangan kebijakan kecerdasan artifisial (AI) yang etis dan bertanggung jawab, perluasan internasionalisasi melalui kolaborasi akademik global, serta penguatan konsep *eco-technology campus* yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Profesor Masri juga menegaskan bahwa mutu akademik harus menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan kampus, bukan sekadar persiapan menghadapi proses akreditasi. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan AI perlu diarahkan untuk mendukung pembelajaran, penelitian, dan tata kelola universitas dengan tetap menjunjung tinggi etika akademik.
Menutup pidatonya, Prof. Masri menyampaikan apresiasi kepada para pendiri, pimpinan, guru besar, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan mitra yang telah berkontribusi dalam perjalanan panjang UIN Jakarta. Ia berharap Dies Natalis ke-69 menjadi momentum untuk memperkuat transformasi UIN Jakarta sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, inklusif, dan berdaya saing global.
“Dirgahayu ke-69 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga semakin inklusif, global, unggul, dan semakin memberi manfaat bagi bangsa serta dunia dengan tetap menjaga akhlak dan spiritualitas Islam,” pungkasnya.
Sidang Senat Terbuka menjadi pembuka rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-69 UIN Jakarta. Tahun ini, UIN Jakarta mengusung tema “Celebrating 69 Years of Promoting Inclusive and Global Higher Education in a Nurturing Eco-Technology Environment”, yang merefleksikan komitmen universitas dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang inklusif, berdaya saing global, berbasis inovasi teknologi, serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. (zm)
