Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional, Dorong Kebaruan Riset Mahasiswa

Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional, Dorong Kebaruan Riset Mahasiswa

Khairudzakirin Ridwan Ramadhan
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Auditorium Prof. Dr. Suwito M.A., Berita UIN Online – Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Nasional bertema “Studi Islam Interdisipliner di Tengah Tatanan Sosial dan Politik yang Berubah” di Auditorium Prof. Dr. Suwito, M.A., Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian, memperoleh masukan akademik, serta mengembangkan gagasan dan kebaruan dalam penelitian.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Yusuf Rahman, M.A., Ketua pelaksana Seminar Nasional Sekolah Pascasarjana, Hamdani, M.Ag., Ph.D. Seminar Nasional ini juga menghadirkan beberapa narasumber dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) diantaranya Guru Besar Kajian Islam dan Gender UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dra. Hj. Nina Nurmila, MA, Ph.D., Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Ade Jaya Suryani, Ph.D., Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Rahmat Hidayatullah, MA.. Selain itu juga turut menghadirkan, Kedeputian Kebijakan Pembangunan BRIN, Elma Haryani, S.Ag., MA., selaku moderator pada acara ini.

Dalam sambutannya, Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Prof. Yusuf Rahman, mengatakan seminar nasional tersebut merupakan bagian dari kegiatan atau mata kuliah kolokium yang mewajibkan mahasiswa mempresentasikan hasil penelitian.

“Seminar nasional ini termasuk ke dalam kegiatan atau mata kuliah kolokium. Setiap mahasiswa itu harus mempresentasikan hasil penelitiannya. Hasil penelitiannya bisa berdasarkan pada tesis, disertasi, berdasarkan pada makalah kelas atau yang lainnya, dan dipresentasikan di seminar nasional maupun internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kegiatan ini, mahasiswa magister dan doktoral dapat memperoleh masukan dari pembahas dan peserta diskusi untuk menyempurnakan makalah yang telah disusun. Hasil perbaikan tersebut diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi publikasi ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Prof. Yusuf juga mendorong mahasiswa untuk berkolaborasi dengan narasumber, dosen pendamping, dan mahasiswa lainnya guna meningkatkan kualitas karya akademik.

“Nah, ini tentu saja mahasiswa bisa menerbitkannya secara mandiri atau juga bisa berkolaborasi. Kolaborasi dengan para narasumber, kolaborasi dengan dosen pendamping, gitu ya, kolaborasi dengan mahasiswa yang lain, intinya berkolaborasi agar makalah yang mereka tulis itu bisa lebih berkualitas,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana Seminar Nasional, Hamdani, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi akademik mahasiswa melalui produksi pengetahuan berbasis riset. Forum tersebut juga diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengembangan perspektif dalam kajian Islam interdisipliner.

“Nanti para narasumber bisa memberikan gagasan-gagasan yang segar dan teman-teman juga bisa menyerap itu secara ringkas, mungkin pesan dari acara ini adalah yang pertama, kajian interdisiplin Islam itu harus diletakkan di dalam beberapa hal supaya berkembang,” ujarnya.

Hamdani menambahkan, pengembangan penelitian tidak cukup dilakukan dengan mengulang gagasan yang telah ada atau sekadar memindahkan objek penelitian ke lokasi berbeda. Mahasiswa perlu mengembangkan sintesis pemikiran dan menunjukkan kebaruan berdasarkan proses pembacaan serta analisis yang mendalam.

Lebih lanjut, Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan epistemologis dan keberanian metodologis dalam pengembangan studi Islam. Menurutnya, kajian Islam perlu membuka ruang dialog dengan disiplin ilmu lain agar dapat menghasilkan perspektif dan kebaruan penelitian.

“Selama ini kajian-kajian Islam misalnya cenderung ditarik kepada sisi-sisi normatif atau historis, kadang-kadang filologis. Nah, harus ada juga keterbukaan untuk berdialog. Maka di dalam diskursus interdisipliner itu muncul konsep-konsep integrasi ilmu, supaya ilmu keislaman itu berdialog, juga sebagaimana mandat dari interdisipliner ada irisan-irisan, ada hal-hal kebaruan yang bisa ditampilkan,” jelasnya.

Dalam rangkaiannya, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh masing-masing narasumber yang membawa perspektif keilmuan berbeda. Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan peserta mengenai studi Islam interdisipliner di tengah perubahan sosial dan politik.

Seminar nasional Pascasarjana 2026 ini diikuti sebanyak 47 peserta yang telah mendaftar dengan minat pada beragam subtema. Sejumlah subtema yang ditawarkan mencakup rumpun kajian sosial, pendidikan, demokrasi, dan kekuasaan; bahasa, sastra, dan sejarah; pemikiran Islam; Al-Qur’an dan hadis; dakwah serta gerakan sosial-keagamaan; hingga hukum Islam, ekonomi, ekologi, kesehatan, dan literasi digital.

Selanjutnya rangkaian seminar dilanjutkan dengan sesi paralel di sejumlah ruang kelas, tempat peserta mempresentasikan makalah masing-masing untuk dibahas bersama pembahas atau pendamping. Melalui sesi tersebut, peserta diharapkan memperoleh masukan yang dapat digunakan untuk menyempurnakan karya ilmiah mereka.

Saksikan siaran langsung Seminar Nasional - "Studi Islam Interdisipliner di Tengah Tatanan Sosial dan Politik yang Berubah" melalui tautan video berikut ini: