Secercah Teladan dari Kak Edi, Sang Inspirator

Secercah Teladan dari Kak Edi, Sang Inspirator

Prof. Kusmana, Ph.D

 

Kak Edi adalah panggilan penghormatan sekaligus keakraban di kalangan kolega dan murid Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE, di Ciputat. Pada tanggal 18 September 2022, dia wafat secara mendadak, karena serangan jantung di Kuala Lumpur Malaysia untuk kepentingan menjadi nara sumber di acara seminar. Kepergiannya membuat banyak pihak, termasuk bangsa Indonesia merasa kehilangan besar, karena jasanya sangat luar biasa dalam merawat demokrasi, memajukan pendidikan Islam di tanah air, dan memupuk kajian Islam di Asia Tenggara.

Banyak sekali hal baik yang diwariskan Kak Edi, baik pikiran, aktivisme, maupun prinsip hidup. Satu diantaranya yang saya ingin berbagi dalam tulisan ini adalah  prinsip hidupnya, yaitu selalu berusaha memberikan yang terbaik dari potensi yang dimilikinya, kepada siapa pun tanpa pandang latar belakang sosial yang memintanya. Dan potensi terbaik yang dimilikinya adalah pemikiran dan aktivisme. Melalui dua ranah ini kebaikan demi kebaikan terus mengalir dengan derasnya mengairi IAIN/UIN Syarif Hidayatullah, PTKIN, bangsa Indonesia dan Asia Tenggara.  Entah berapa kelas, berapa forum ilmiah, dan sejumlah amanat organisasi dengan amanah terakhir yang diterimanya sebagai Ketua Dewan Pers Nasional, Indonesia, sudah ditempuhnya dengan sungguh-sungguh.

Banyak orang berterima kasih karena sikapnya yang memberi kesempatan entah itu rekomendasi untuk melanjutkan studi, rekomendasi untuk pekerjaan, bantuan untuk pindah dari institusi asal ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, maupun memberikan dorongan kolega, bawahan dan murid untuk berbuat terbaik dalam meraih mimpinya masing-masing. Penulis juga merasakan energi ini saat penulis sedang berjibaku menyelesaikan studi S3 saya di Universitas Erasmus, Rotterdam, Belanda sekitar tahun 2015 di sela-sela suatu pertemuan di Sekolah Pasca Sarjana, sangat ngobrol-ngobrol ringan dengannya. Tidak lupa  Kak Edi menanyakan perkembangan studi S3 saya. Dengan lirih saya jawab “Belum selesai Kak Edi.” Dengan muka serius dia kemudian memotivasi saya dengan kalimat sangat keras walau disampaikan secara lirih, “Kus, kamu harus selesaikan studimu secepatnya, jangan sampai tercatat dalam sejarah sebagai orang gagal,” katanya

Sebagai murid dan juga junior, saya mencoba menutupi rasa malu, dan menjawab dengan sedikit alasan dan mohon do’a. “Iya Kak Edi, saya akan usahakan sebaik-baiknya  untuk menyelesaikan studi saya dan mohon do’a agar ketiga pembimbing disertasi dapat menerima draft saya.” Penyelesaian studi S3 saya memang agak tersendat melampaui batas waktu beasiswa yang diberikan sehingga saya harus menyelesaikan di tanah air. Dari kejadian itu, nasehat beliau selalu terngiang-ngiang dan saya resepsi secara positif dengan mengambil pelajaran bagaimana dia sendiri belajar dan mengemban setiap amanah secara sungguh-sungguh.

Singkat cerita, saya berusaha menyelesaikan studi saya melalui semua tahapan drafting, editing dan penerimaan draft saya oleh tiga pembimbing saya Prof. Dr. Dick Douwes, MA., Prof. Dr. Nico Kaptein, MA., dan Prof. Dr. Cladia Derichs, MA. Dua tahun kemudian saya lulus studi S3 saya dan 4 tahun setelahnya, pengusulan Guru Besar saya diterima oleh tim seleksi Kemendikbud dan ditandatangani Menteri pada tanggal 1 September 2021. Alhamdulillah saya berkesempatan ketemu dengan Kak Edi dalam acara diskusi tentang pembaharuan pemikiran Islam di auditorium Harun Nasution di awal tahun 2022, dia menunjukkan sikap yang sangat berbeda dari pertemuan ketika saya belum selesai studi, dan menyapa dengan sumringah, “Hai Kang Kusmana, apa kabarnya, selamat yah dengan Guru Besar-nya.” Mendapat sapaan dan ucapan selamat demikian, saya senang tiada terkira. Bagaimana tidak senang, ucapan selamat itu datang dari Kak Edi, guru, kolega, dan juga mentor saya dan banyak orang. Selamat Jalan Sang Inspirator!

Ciputat, 22 September 2022