Rupiah di Bawah Tekanan Ketidakpastian Global
Mohammad Nur Rianto Al Arif
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah
Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia,
Pengurus DPP IAEI,
Pengurus ISEI Cab. Jakarta,
Pengarah LPEU MUI)
DALAM beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan. Kondisi ini terjadi bukan tanpa alasan, karena di tengah lanskap global yang semakin tidak pasti, mata uang Indonesia menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Fluktuasi yang terjadi bukan sekadar dinamika biasa, melainkan refleksi dari kombinasi kompleks antara faktor global dan domestik yang saling berkaitan.
Rupiah bahkan sempat menyentuh level sekitar Rp 17.105 per dolar AS pada 7 April 2026 atau mendekati titik terlemah dalam sejarahnya.
Ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang domestik sedang berada pada fase yang serius.
Tulisan ini berupaya mengurai secara analitis dan kritis, yaitu apa yang sebenarnya terjadi dengan rupiah? Mengapa tekanan begitu kuat? Dan yang lebih penting, apakah ini sekadar siklus atau tanda adanya persoalan struktural yang lebih dalam?
Dalam membaca pergerakan rupiah hari ini, tidak mungkin mengabaikan konteks global. Dunia sedang berada dalam fase ketidakpastian tinggi, yaitu ditandai oleh konflik geopolitik, kebijakan moneter negara maju, serta volatilitas pasar keuangan internasional.
Konflik di Timur Tengah, khususnya eskalasi yang melibatkan kekuatan besar, telah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan motif untuk menghindari risiko dari investor global.
Ketika risiko global meningkat, investor cenderung menarik dana dari emerging markets, termasuk Indonesia, dan mengalirkannya ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Fenomena ini bukan hal baru dalam khasanah ekonomi internasional. Namun dalam konteks saat ini, intensitasnya meningkat karena beberapa faktor, mulai dari ketidakpastian geopolitik berkepanjangan, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, hingga fragmentasi ekonomi global.
Akibatnya, mata uang negara berkembang mengalami tekanan secara simultan. Rupiah bukan satu-satunya korban, tetapi posisinya relatif lebih rentan.
Data menunjukkan bahwa sepanjang 2026, rupiah telah melemah lebih dari 2 persen terhadap dolar AS, sejalan dengan pelemahan mata uang regional lainnya.
Meski faktor global dominan, tidak berarti faktor domestik bisa diabaikan. Justru dalam banyak kasus, tekanan eksternal menjadi lebih besar ketika diperkuat oleh kerentanan internal.
Secara fundamental, ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026.
Inflasi juga masih terkendali, meskipun sempat meningkat ke 4,76 persen pada Februari 2026 sebelum turun kembali ke 3,48 persen pada Maret.
Namun, pasar tidak hanya melihat fundamental, tetapi juga persepsi. Beberapa faktor domestik yang memengaruhi sentimen pasar.
Pertama, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Isu terkait tata kelola dan independensi otoritas moneter sempat memicu ketidakpastian di kalangan investor global.
Kedua, defisit fiskal dan ekspansi belanja. Program-program prioritas pemerintah, termasuk belanja sosial dan pertahanan, memunculkan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal.
Ketiga, arus keluar modal (capital outflow). Ketika sentimen memburuk, investor asing cenderung keluar dari pasar obligasi dan saham domestik, menekan rupiah lebih dalam.
Di sinilah persoalan utama muncul, yaitu rupiah tidak hanya menghadapi tekanan eksternal, tetapi juga diuji oleh kepercayaan pasar terhadap kebijakan domestik.
Menariknya, Bank Indonesia menyatakan bahwa rupiah saat ini sebenarnya berada dalam kondisi undervalued atau lebih lemah dari nilai fundamentalnya.
Beberapa indikator mendukung pandangan ini. Secara real effective exchange rate (REER), rupiah termasuk salah satu mata uang paling undervalued di Asia. Hal ini berarti secara teori, rupiah memiliki ruang untuk menguat.
Namun, di pasar keuangan, teori tidak selalu sejalan dengan realitas. Terdapat beberapa alasan mengapa rupiah tetap tertekan meskipun undervalued, seperti dominasi sentimen jangka pendek, ketergantungan pada aliran modal asing, serta struktur ekonomi yang masih berbasis impor.
Dengan kata lain, undervaluation tidak otomatis berarti apresiasi, terutama dalam kondisi global yang tidak stabil.
Menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Berbagai instrumen kebijakan telah digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Langkah-langkah yang ditempuh antara lain intervensi di pasar valas (spot dan non-deliverable forward), pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder, hingga optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI.
Selain itu, BI juga mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan arus modal keluar.
Namun, kebijakan ini menghadapi dilema klasik, yaitu antara menjaga stabilitas rupiah vs mendorong pertumbuhan ekonomi.
Jika suku bunga terlalu tinggi, maka pertumbuhan bisa tertekan. Sebaliknya, jika terlalu rendah, maka rupiah berisiko semakin melemah.
Pelemahan rupiah bukan sekadar isu teknis di pasar keuangan, namun, dapat memberikan dampak yang nyata dan luas.
Dampak pertama ialah tekanan inflasi. Nilai tukar yang melemah meningkatkan harga barang impor, terutama energi dan pangan. Ini berpotensi mendorong inflasi domestik.
Kedua, beban subsidi energi. Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan LPG. Ketika rupiah melemah dan harga minyak global naik, beban subsidi pemerintah meningkat signifikan.
Dampak ketiga ialah kenaikan biaya utang. Utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta, menjadi lebih mahal dalam rupiah.
Dampak terakhir ialah tekanan terhadap dunia usaha. Perusahaan dengan ketergantungan impor tinggi akan mengalami kenaikan biaya produksi.
Dalam jangka panjang, pelemahan rupiah bisa menggerus daya beli masyarakat dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Pertanyaan penting yang perlu dijawab, apakah kondisi ini mengarah pada krisis seperti 1998?
Untuk saat ini, kondisinya belum mengarah kepada krisis ekonomi 1998. Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kondisi di tahun 1998 dengan kondisi sekarang, mulai dari cadangan devisa yang relatif kuat, sistem perbankan dan keuangan yang lebih sehat, inflasi masih terkendali, hingga kerangka kebijakan yang lebih kredibel.
Namun, bukan berarti risiko bisa diabaikan. Jika tekanan berlanjut dan tidak direspons dengan tepat, maka potensi instabilitas tetap ada.
Di balik fluktuasi jangka pendek, terdapat persoalan struktural yang terus membayangi rupiah.
Pertama, ketergantungan pada impor karena defisit transaksi berjalan masih menjadi isu yang terus mencuat.
Kedua, basis ekspor yang terbatas karena ekspor Indonesia masih didominasi komoditas, yang sangat bergantung pada harga global.
Ketiga, dangkalnya pasar keuangan domestik. Ketergantungan pada investor asing membuat pasar rentan terhadap arus modal keluar.
Keempat ialah kurangnya diversifikasi industri. Nilai tambah ekonomi masih relatif rendah.
Selama persoalan ini belum terselesaikan, rupiah akan tetap rentan terhadap guncangan eksternal.
Menghadapi tekanan ini, terdapat dua pendekatan yang bisa ditempuh. Pendekatan pertama ialah stabilisasi jangka pendek melalui intervensi, suku bunga, dan kebijakan moneter.
Sedangkan pendekatan kedua ialah melalui reformasi struktural jangka panjang yang mencakup industrialisasi, hilirisasi, dan penguatan pasar domestik.
Pemerintahan saat ini, di bawah Presiden Prabowo, memiliki tantangan besar untuk menyeimbangkan keduanya.
Program-program besar seperti makan bergizi gratis dan peningkatan belanja negara perlu diimbangi dengan disiplin fiskal agar tidak memperburuk persepsi pasar.
Pada akhirnya, nilai tukar rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan, melainkan adalah cermin dari ketahanan ekonomi nasional.
Pelemahan rupiah hari ini bukan hanya akibat gejolak global, tetapi juga refleksi dari pekerjaan rumah domestik yang belum selesai.
Dalam jangka pendek, tekanan mungkin akan terus berlanjut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan rupiah tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS jika ketidakpastian global berlanjut.
Namun dalam jangka panjang, arah rupiah akan sangat ditentukan oleh satu hal, yaitu seberapa serius Indonesia melakukan transformasi ekonomi.
Jika reformasi struktural dijalankan secara konsisten, rupiah tidak hanya akan stabil, tetapi juga berpotensi menguat secara berkelanjutan.
Sebaliknya, jika ketergantungan pada faktor eksternal terus berlanjut, maka setiap gejolak global akan selalu menjadi ancaman.
Artikel ini telah dipublikasikan di KOMPAS pada Jumat, 10 April 2026.
