Puncak Kezuhudan Ilmuwan

Puncak Kezuhudan Ilmuwan

Gun Gun Heryanto

JAKARTA di waktu senja yang temaram menuju malam. Saya sedang berkendara menuju kantor salah satu DPP Partai Politik yang akan menggelar diskusi nasional. Saya diminta menjadi salah satu narasumber bersama Philips J Vermonte (UIII) dan Yanuar Nugroho (CPIG). Mobil yang saya kendarai baru saja tiba di lobi tower tempat diskusi digelar, saat ponsel berdering dan ternyata panggilan dari istri.

Sesaat ponsel tersambung, terdengar tangis membahana dari istri saya. Dengan suara tercekat, dia mengabari kalau Prof. H. Faisal Ismail, MA, Ph.D, ayah mertua saya telah tiada. Intelektual asketis ini meninggal dalam tenang usai menunaikan shalat ashar, di hari Jum’at (10/6). Saya putuskan untuk batal mengisi acara seminar, dan bergegas pulang untuk berkemas berangkat ke Yogyakarta bersama seluruh keluarga yang ada di Jakarta.

 

Narasi Intelektual

Prof. Faisal lahir di Sumenep, Madura 15 Mei 1947 dan meninggal di Yogyakarta, 10 Juni 2022 padausia yang ke-75 tahun. Sosok yang kian langka, karena telah melampaui beragam peran sosialnya, mulai dari intelektual di kampus hingga merengkuh posisi Guru Besar, birokrat, dan menjadi diplomat/Duta Besar tanpa kehilangan waktu dan ketajaman analisisnya dalam beragam artefak pemikiran yang terserak di puluhan buku, ratusan jurnal ilmiah, kolom-kolom media nasional, dan makalah di berbagai seminar baik dalam maupun luar negeri. Salah satu koran yang dengan setia menerbitkan tulisan-tulisan beliau selama bertahun-tahun adalah KORAN SINDO.

Selama hidup, Prof Faisal mengajar di berbagai universitas mulai di kampus utamanya sebagai Guru Besar, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (mengajar sejak 1977 hingga akhir hayatnya), Program Pascasarjana (PPs) Universitas Islam Indonesia (UII), PPs Teologia Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, PPs Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, hingga menjadi Visiting Professor di Institute of Islamic Studies, McGill University di Kanada. Selain itu, juga kerap menjadi penguji tesis/disertasi di Institut Pengajian Islam Universitas Malaya dan International Islamic University Malaysia.

Pemikirannya menjadi “oase” di tengah keringkerontangnya teladan intelektual di zaman yang selalu menuntut kita berlari tunggang-langgang. Merujuk pada Teori Naratif dari Walter Fisher dalam Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value and Action (1985), narasi dimaknai sebagai tindakan simbolik – kata-kata dan atau tindakan yang memiliki rangkaian serta makna bagi siapapun yang hidup, mencipta atau memberi interpretasi. Prof Faisal telah sukses membentangkan narasi kehidupannya yang istimewa.

Dia konsisten membangun nalar akademik yang bisa diamati di banyak karyanya. Di antara karyanya ada: Masa Depan Pendidikan Islam di Tengah Kompleksitas Tantangan Modernitas (2003); Pijar-pijar Islam: Pergumulan Kultur dan Struktur (2004) , Membongkar Keracuan Pemikiran Nurcholish Madjid: Seputar Isu Sekularisasi dalam Islam (2010); Rekam Jejak Kebangsaan dan Kemanusiaan (2011); Republik Bhineka Tunggal Ika: Mengurai Isu-isu Konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya (2012); Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Analisis Historis (2014); Membongkar Absurditas Ide-ide Ahmad Wahib (2014); Islam Konstitusionalisme dan Pluralisme (2019), NU, Moderatisme dan Pluralisme (2020) serta puluhan karya-karya lainnya termasuk ontologi puisi.

Bahkan menjelang wafat, Prof Faisal sedang menyelesaikan satu naskah buku yang belum diterbitkannya. Ini seolah menjadi pesan mendalam bahwa seorang intelektual akan terus berkarya hingga akhir hayatnya. Mungkin ini seperti yang digambarkan oleh Ali Shariati dalam tulisannya On The Sociology of Islam (1980), bahwa proses perjalanan hidup manusia memilih untuk terus berjuang tanpa henti. Sebuah perjalanan menuju satu tujuan, yakni menyatukan jiwa dengan Sang Pemilik.

Tema-tema utama pemikiran Prof Faisal Ismail yang menjadi warisan intelektualnya membentang seputar sejarah peradaban Islam, ideologi, modernisasi, westernisasi, sekularisasi, multikulturalisme, pluralisme, toleransi, kebebasan beragama, dialog dan kerukunan antarumat beragama. Tema-tema tersebut sangat kuat, menggema dan menjadi alur pemikiran Prof Faisal terutama dalam konteks keislaman dan keindonesiaan. Di berbagai karyanya tersebut alur pemikiran Prof Faisal konsisten melakukan kritik terhadap “Barat”, baik Barat sebagai “bangsa” dan “intelektual”, maupun “bangsa dan intelektual muslim yang terbaratkan”.

Sebagai ilmuwan yang gelar master dan doktornya di selesaikan di Barat yakni Amerika dan Kanada, Faisal Ismail justeru memahami lebih dekat dan mendalam sejumlah fenomena, teori dan konseptualisasi yang menjadi fokus kritiknya. Penguasaan ilmu agama yangmendalam, karena tumbuh kembang dari Sekolah Dasar Negeri (SDN; dulu disebut SRN/Sekolah Rakyat Negeri), ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), ke IAIN Sunan Kalijaga telah memberi pondasi yang kokoh bagi pemikirannya. Fase pematangan diri sebagai intelektual terbangun di Kajian Sejarah Islam Departement of Middle East Languages and Cultures, Columbia University, New York dengan tesis tentang The Nahdlatul Ulama: Its Early History and Religious Ideology (1988).

Program Doktornya di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada dengan disertasi Islam, Politics, and Ideology in Indonesia: A Study of The Process of Muslim Acceptance of the Pancasila (1995). Peripurnanya strata pendidikan perpaduan Barat-Timur, tradisional-modern, tak lantas membuat Faisal menjadi Barat atau terbaratkan. Narasi-narasi pemikirannya justru lugas dan tegas banyak mengkritik Barat meskipun tidak anti Barat.

 

Pribadi Asketis

Kezuhudan atau asketisme melekat kuat pada kesehariannya. Meskipun sejumlah jabatan di kampus (dekan dan direktur pascasarjana), di birokrasi Kementerian Agama (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Sekretaris Jenderal dan Staf Ahli Menteri Agama bidang Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia) maupun sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Kuwait merangkap Kerajaan Bahrain telah dicapainya, tetapi Prof Faisal tetaplah hidup sederhana. Nyaris sulit membedakan antara beliau sebelum menjadi pejabat dan setelahnya. Saat ke Jakarta untuk menengok anak, menantu dan cucu-cucunya Prof Faisal masih sering menggunakan kereta api. Jika pun naik pesawat, dari bandara ke rumah anak-menantunya, tak segan menggunakan bus/Damri bersambung ojek.

Pola hidup sederhana inilah yang membuatnya tak pernah mengalami post-power syndrome seperti banyak dialami mantan-mantan pejabat yang terbiasa dilayani. Kembali ke kampus, beliau mengajar dengan tekun, tanpa terganggu oleh status sebagai pejabat yang pernah disandangnya. Koherensi karakterologis ini terpancar kuat, sehingga tulisan-tulisannya di media dan di buku-bukunya tetap kritis dan tajam seperti biasanya. Kekuatan Prof Faisal Ismail adalah satunya ucapan dengan perbuatan. Sehingga narasi yang mengalir deras dari pemikirannya, jelas dan tegas menjadi ekspresi kejujuran sebagai intelektual. Dunia terus berubah, isu-isu berhamburan setiap saat, tetapi sebagai intelektual Prof Faisal fokus menulis di bidang yang menjadi keahliannya.

Dalam kehidupan sehari-sehari sebagai ayah, mertua dan kakek dari tiga cucunya, Prof. Faisal merupakan gambaran sosok ideal (role model) demokratis. Jarang bahkan teramat sulit menemukan ekspresi kemarahan, selalu halus bertutur, tidak pernah memaksakan kehendak dan lebih banyak memberi keleluasaan pada anak-anak dan cucunya untuk berpendapat dan mengambil sikap. Pola hidup sederhana yang mengalir alami, tidak dibuat-buat.

Puncak kezuhudan memancar sesaat sebelum meninggalkan dunia yang fana. Beliau berdandan rapih, menunaikan shalat ashar dengan memakai kemeja kotak-kotak dan sarung kesayangannya. Usai shalat lantas beliau masuk kamar, dalam posisi tangan seperti sedang takbirotul ihrom. Prof Faisal mengembuskan nafas terakhirnya untuk menghadap Sang Khalik dalam kondisi sangat tenang, damai dan terpancar pesona keikhlasan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Selamat jalan guru, orang tua sekaligus panutan istimewa. (zm)

 

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute. Artikel dimuat Koran SINDO, Rabu 22 Juni 2022.