PSGA UIN Jakarta Bekali Mahasiswa Jadi Kreator Konten yang Empati pada Isu Gender

PSGA UIN Jakarta Bekali Mahasiswa Jadi Kreator Konten yang Empati pada Isu Gender

Nazwa Adawiyah Kezia Dava
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Adia Suites, Berita UIN Online - Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Workshop Content Creator Class bagi mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan membuat konten sekaligus memahami desain, penyuntingan, dan empatik dalam produksi konten digital. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 15-17 September 2026, dengan pelaksanaan hari pertama di Adia Suites, Rabu (16/09/2026).

Kegiatan dihadiri Ketua LP2M Prof. Amelia Fauzia, Ph.D., Kepala PSGA Dr. Hj. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag., sejumlah staf PSGA, serta mahasiswa peserta workshop. Workshop diawali dengan pembukaan, sosialisasi Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), serta pemaparan materi oleh content creator Indra Dwi Prasetyo.

Dalam Sambutannya Prof Amel menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya PSGA untuk mensosialisasikan pencegahan kekerasan seksual melalui media sosial.

“Ya, ini inisiasi yang sangat baik menurut saya dari tim PSGA, untuk mensosialisasikan pencegahan tindak kekerasan seksual melalui media sosial,” ujar Prof. Amelia.

Kepala PSGA Dr. Hj. Wiwi menjelaskan, bahwa peserta workshop ini merupakan perwakilan setiap fakultas yang telah diseleksi untuk memperluas penyebaran edukasi PSGA mengenai isu gender dan anak.

“Para peserta terdiri dari perwakilan fakultas yang telah diseleksi. Tujuannya supaya dapat menjadi corong informasi dan perpanjangan tangan PSGA untuk memberikan edukasi khususnya seputar isu gender dan anak,” ujar Wiwi.

Di sesi workshop tersebut, Indra menjelaskan bahwa pembuatan konten tidak cukup dimulai dari menentukan apa yang ingin disampaikan, tetapi perlu diawali dengan memahami persoalan dan sudut pandang orang yang menjadi sasaran konten. Menurutnya, kreator perlu menggali pain point atau hal yang dirasakan dan menjadi persoalan bagi manusia sebelum menentukan gagasan konten. 

“Langkah pertama dalam membuat konten adalah berempati. Berempati berarti kita berada di posisi orang lain yang ingin mendengarkan konten itu,” ujar Indra. Ia menekankan, kreator perlu mempertimbangkan apakah pesan yang dibuat dapat dipahami, relevan, dan tidak mengabaikan kondisi orang lain yang menjadi sasaran konten. 

Ia juga mengajak peserta memahami bahwa konten yang kuat perlu memiliki alasan dan tujuan yang jelas. Kreator tidak hanya perlu memikirkan what atau konten apa yang dibuat dan how atau bagaimana menyampaikannya, tetapi juga why, yakni mengapa konten tersebut penting dan manfaat apa yang dapat diberikan kepada orang lain. 

Always start with why. Kenapa aku harus buat cerita tentang ini? Apa efeknya? Kenapa aku harus bercerita tentang ini, apa dampaknya dan segala macam.” kata Indra. Menurutnya, pertanyaan tersebut membantu kreator memastikan konten yang dibuat memiliki nilai dan alasan yang jelas untuk disampaikan kepada publik. 

Selain membangun empati, peserta diajak mengembangkan kemampuan storytelling agar pesan dalam konten lebih mudah diterima dan diingat. Indra memperkenalkan konsep manusia sebagai Homo Narrans, yaitu manusia yang secara alami senang bercerita, sehingga kemampuan membangun cerita menjadi bagian penting dalam menyampaikan informasi melalui konten digital. 

Indra juga mendorong peserta untuk berani mengeksplorasi berbagai sudut pandang dan bentuk penyampaian dalam membuat konten. Menurutnya, kreator perlu mencari pendekatan yang berbeda agar pesan tidak berhenti pada pola yang sama dan membuat audiens kehilangan ketertarikan.

Can we create another angle yang orang lain nggak kepikiran?” ujar Indra. Ia mencontohkan, ketika banyak kreator membahas suatu isu dengan perspektif yang sama, kreator lain dapat mencari sudut pandang berbeda agar pembahasannya lebih menarik dan memiliki ciri tersendiri. 

Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan melalui pilihan format konten. Indra menjelaskan bahwa kreator dapat menggunakan konten yang berfokus pada pengetahuan, menyentuh sisi kemanusiaan, maupun menggunakan pendekatan hiburan atau humor, selama bentuk penyampaiannya tetap mendukung pesan yang ingin disampaikan. 

Pada sesi praktik, peserta kemudian diarahkan untuk menyusun ide konten berdasarkan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Peserta juga diminta menentukan terlebih dahulu bentuk empati dan pain point nya, serta memilih pendekatan konten berdasarkan tiga respons yang dibahas, yakni dopamin, oksitosin, dan endorfin, kemudian menyusun draft serta hook konten. 

Hari pertama, (15/09/2026), menghadirkan Indra Dwi Prasetyo dengan materi pembuatan konten yang dilanjutkan praktik dan sesi tanya jawab. Dihari kedua, (16/09/2026), menghadirkan Virdinda La Ode Achmad sebagai pemateri kedua yang akan melanjutkan materi dan praktik pembuatan konten.  

Dalam rangkaian workshop tersebut, peserta tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan konten, tetapi juga mengenal PSGA melalui praktik membuat konten dan desain yang berkaitan dengan lembaga. Materi juga mencakup keterampilan desain dan penyuntingan serta etika dalam membuat konten, dengan empati sebagai landasan agar pesan yang disampaikan tetap memperhatikan manusia, konteks, dan dampaknya.

Melalui Workshop Content Creator Class, PSGA UIN Jakarta mendorong mahasiswa tidak sekadar mampu membuat konten yang menarik, tetapi juga memahami alasan, sasaran, cara penyampaian, serta membangun empati di balik setiap konten. Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendukung penyebaran edukasi mengenai isu gender dan anak, termasuk pencegahan tindak kekerasan seksual melalui media sosial. Dengan begitu, kemampuan teknis dalam membuat dan mengedit konten dapat berjalan bersama dengan empati dan tanggung jawab dalam menyampaikan pesan di ruang digital.