Profesor Azra dan Penguatan Demokrasi Kampus

Profesor Azra dan Penguatan Demokrasi Kampus

Dr. Tantan Hermansah

 

Saya ingin menceritakan bagaimana Prof Azyumardi Azra (selanjutnya saya tulis Pak Azra saja) bukan hanya menjadi intelektual yang mempercayai prinsip-prinsip demokrasi tetapi juga merupakan pribadi yang teguh mempraktikkan prinsip itu. Paling tidak dalam lingkup mikro, pada sebuah kampus. Waktu itu nama beliau demikian mencorong namun kurang mendapatkan posisi dalam struktural kampus.

Cerita dimulai ketika kami setelah menghadiri sebuah seminar yang salah satu pematerinya itu adalah pejabat dari Kementerian Agama: Profesor Husni Rahim. Terus saya dan dua orang teman yang sama-sama dari Majalah Mahasiswa INSTITUT, mendekati beliau.

Setelah kita sedikit bicara banyak hal, kemudian kami membicarakan kemungkinan memberi ruang kepada kami sebagai stakeholders kampus bersuara mengenai calon pemimpin lembaga ini. Pemimpin yang berpeluang membawa kampus ini menjadi jauh lebih baik, visioner dan benar-benar membawa perubahan.

Prof. Husni sepertinya sangat mengerti kegelisahan kami.  Kemudian beliau bertanya “memang kalian punya calon siapa?” Saya menjawab: “Ada intelektual yang sekarang lagi muncul. Banyak orang mencarinya. Bukunya meledak untuk didiskusikan di mana-mana. Selain itu, pemikiran pemikiran tentang transformasi IAIN menuju Universitas Islam pun banyak di diskusikan. Namun Beliau memiliki kelemahan. Di mana syarat pangkat dan golongannya tidak mencukupi”. Kata saya bersemangat.

Prof. Husni Rahim, kemudian hanya tersenyum dan mengatakan: “Cobalah kalian dorong dengan cara-cara yang kreatif”.

Berangkat dari pemikiran itu kemudian kami berdiskusi di redaksi LPM INSTITUT dan muncullah ide untuk mengadakan polling calon Rektor Pilihan Mahasiswa.

Asal teman-teman ketahui pada saat itu belum ada satu pun organisasi kampus yang berani melakukan pemilihan calon Rektor secara terbuka. Lalu kemudian karena kami tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membuat polling itu, kami berdiskusi dengan beberapa senior dari organ kampus. Ternyata gayung bersambut. Banyak orang sangat mendukung, seperti Komarudin Hidayat, Noryamin Aini, dan banyak lagi tokoh IAIN waktu itu.

Kami mendapat dukungan dana dari salah satu lembaga di lingkungan IAIN.  Setelah semua instrumen siap, kami pun mulai menyebarkan draft polling itu ke beberapa tokoh. Ketika draft ini disampaikan kepada salah seorang calon waktu itu, Ibu Profesor Nabilah Lubis, di mana pada draft tertera bahwa pilihan siapa Rektor pilihan mahasiswa pertanyaannya hanya mencantumkan tiga nama, beliau menyarankan untuk menambahnya. Beliau bilang kenapa harus cuman tiga nama. Tulis saja yang banyak. Lalu Bu Profesor Nabilah Lubis menuliskan nama-nama lain termasuk nama beliau sendiri nomor 10. Akhirnya paling pun digelar.

Seperti yang diprediksi banyak orang, memang akhirnya muncullah tiga nama besar. Pak Komar urutan nomor 3, Pak Sukarja urutan Nomor 2, dan Pak Azra urutan nomor 1.

  [caption id="attachment_236359" align="aligncenter" width="1024"] Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.Phil., M.A., CBE[/caption]  

Ketiga pilihan teratas itu kemudian kita debatkan dalam sebuah forum terbuka yang disaksikan oleh publik kampus. Debat calon rektor versi polling itu demikian heboh. Karena ini kali pertama diadakan di IAIN (bahkan mungkin di dunia kampus). Aula student center yang waktu itu tempatnya kurang memadai untuk menampung antusiasme publik sampai membludak. Mengalahkan diskusi yang menghadirkan dr Boyke sebelumnya. Di mana publik sampai duduk di bawah dan hampir sampai ke kursi pemateri.

Sementara di depan ada tiga kandidat yakni: Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Ahmad Sukarja, dan Dr. Azyumardi Azra. Debat pun dimulai. Presentasi pertama adalah Pak Komar. Beliau karena posisi nomor 3, maka statement statement-nya demikian tinggi, meski sangat logis dan rasional. Di antara statemennya meningkatkan kesejahteraan dosen dan mahasiswa dan lain-lain. Lalu kandidat nomor 2,  Prof. Ahmad Sukarja. Saya tidak terlalu ingat hal-hal yang menonjolnya, tetapi yang masih membekas adalah beliau mengatakan ingin melakukan perubahan lebih baik dari pada IAIN sebelumnya. Ketika Pak Azra bagian presentasi, salah satunya menawarkan transformasi lembaga UIN dari IAIN menjadi UIN atau IAIN dengan mandat yang diperluas. Beliau menjelaskan skenarionya yang runut, jelas dan juga sangat rinci.

Gegap-gempita dari kalangan publik ketika Pak Azra mempresentasikan ide ide dan gagasannya. Sebagai kegiatan debat calon rektor pertama di lingkungan PTKI, ada liputan dari media cetak. Waktu itu wartawannya adalah senior dari LPM INSTITUT, yakni Nanang Haroni. Nanang menurunkan liputannya pada Koran Merdeka.

Apa yang terjadi di IAIN waktu itu, sependek pengetahuan saya, di mana calon rektor diadakan dulu debat di depan publik merupakan peristiwa pertama di Indonesia. Setelah peristiwa ini, saya mengingat yang kemudian mengadakan hal serupa adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia yang inisiatornya waktu itu adalah Fajrul Rahman.

Apakah hasil polling ini yang berkontribusi kepada keterpilihan Pak Azra menjadi Rektor? Saya tidak tau. Mungkin saja tidak sama sekali. Namun, tulisan ini ingin menjelaskan satu momen peristiwa di mana Pak Azra adalah rektor yang presentasi di depan publik dan benar-benar menempati janjinya ketika akhirnya menjadi rektor. Transformasi IAIN menjadi UIN sudah jauh diketahui masyarakat kampus sebagai bagian dari pemikiran besar Pak Azra, bahkan sebelum beliau menjadi pimpinan puncak.

Selain itu, tentu saja kegiatan ini tidak akan sukses jika tidak ada dukungan dari banyak pihak di antara Pak Azra dan Pak Komar. Namun hal lain yang kemudian sangat membekas adalah di masa Pak Azra menjadi Rektor, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) memiliki suara dalam pemilihan eksekutif/ struktural kampus. (zm)

  Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta.