Pimpinan dan Mahasiswa UIN Jakarta Gelar Dialog Arah Pengembangan Universitas
Ruang Diorama, Berita UIN Online – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar dialog bersama ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa UIN Jakarta di Ruang Diorama Lantai Dasar Auditorium Harun Nasution, Kamis (09/2025). Dialog berlangsung dinamis dengan membahas arah pengembangan universitas, kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT), penguatan kampus ramah gender dan disabilitas, hingga proyeksi UIN Jakarta menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
Dalam dialog yang berlangsung selama hampir dua jam, hadir sejumlah pimpinan UIN Jakarta sebagai pembahas. Di antaranya Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Prof. Dr. Imam Subchi, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Ahmad Tholabi, M.A., M.H., dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D.
Selain itu, hadir juga Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Dr. Hj. Wiwi Siti Syajaroh serta Kepala Pusat Pengembangan Green Campus Prof. Dr. Hendrawati, M.Sc. Dialog dipandu langsung oleh Kepala Pusat PPID Dr. Deden Mauli Anwar, M.Sc.
Dalam paparannya, Profesor Imam Subchi menjelaskan langkah universitas dalam mengoptimalkan aset sebagai sumber pembiayaan kegiatan akademik. Menurutnya, sejumlah aset idle atau lahan yang belum termanfaatkan secara maksimal akan dioptimalkan melalui skema kerja sama dan penyewaan.
“Daripada aset tidak digunakan, lebih baik dioptimalkan. Hasilnya dapat digunakan untuk membantu kebutuhan pembiayaan akademik universitas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen universitas untuk menjaga stabilitas biaya pendidikan mahasiswa. Untuk itu, jelasnya, UIN Jakarta terus mendorong optimalisasi pengelolaan aset sehingga sumber pembiayaan non-UKT lebih besar dalam menopang pembiayaan akademik universitas.
"UKT hanya mampu menyumbang 42% anggaran tahunan, maka perlu langkah strategis untuk mencapai solusi tambahan non-UKT. Antara lain dengan optimalisasi aset," tandasnya.
Sementara itu, Profesor Ali Munhanif menjelaskan bahwa penerapan UKT dilakukan berdasarkan prinsip subsidi silang antara mahasiswa yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik dengan mahasiswa kurang mampu. Menurutnya, penetapan UKT dilakukan melalui mekanisme yang mempertimbangkan kesanggupan mahasiswa dan keluarganya.
“Logika UKT adalah saling membantu di antara mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa yang mampu dan kurang mampu membayar dalam jumlah yang sama,” jelasnya.
Ia menambahkan, universitas juga terus memperluas akses bantuan pendidikan melalui berbagai program beasiswa kerja sama dengan sejumlah lembaga. Di antaranya seperti Beasiswa BAZNAS, LPDP, BIB-Kementerian Agama RI, Djarum Foundation, BNI, KSE, pemerintah daerah, dan berbagai mitra lainnya.
Berbagai kekurangan dalam penetapan UKT sendiri, jelasnya, menjadi bagian yang terus menjadi perhatian universitas. Hal ini dilakukan dengan terus melihat relevansi standar dalam penetapan tarif UKT, termasuk monitoring dan evaluasi secara berkala.
Pada kesempatan yang sama, Kepala PSGA Dr. Hj. Wiwi Siti Syajaroh memaparkan berbagai langkah penguatan kampus ramah gender dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Ia menjelaskan bahwa PSGA memiliki mandat dalam pengarusutamaan keadilan gender sekaligus mendukung implementasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).
“Ini bukan hanya tugas PSGA, tetapi tugas kita bersama, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa,” ujarnya.
PSGA juga menghadirkan layanan Rumah Ramah Rahmah (R3) sebagai ruang pendampingan dan pelaporan yang aman bagi korban kekerasan. Pelaporan dapat dilakukan melalui Satgas, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, dosen, kaprodi, maupun penasihat akademik agar mahasiswa tidak mengalami kendala saat menyampaikan laporan.
Selain itu, Prof. Hendrawati menjelaskan komitmen UIN Jakarta dalam pengembangan Green Campus dan penguatan fasilitas ramah disabilitas. Menurutnya, gedung-gedung perkuliahan di lingkungan kampus telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas, meski pengembangan dan pemeliharaannya akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
Dalam sesi penjelasan arah kelembagaan universitas, Prof. Ahmad Tholabi memaparkan proses dan tantangan menuju status PTN-BH. Ia menjelaskan bahwa sistem perguruan tinggi negeri di Indonesia terdiri atas satuan kerja (Satker), Badan Layanan Umum (BLU), dan PTN-BH sebagai level tertinggi tata kelola perguruan tinggi.
Menurutnya, UIN Jakarta telah diproyeksikan menuju PTN-BH sejak masa kepemimpinan sebelumnya dan menjadi salah satu pilot project PTKIN yang dipersiapkan Kementerian Agama. Meski demikian, proses menuju PTN-BH memerlukan tahapan panjang, termasuk penilaian independen terhadap kesiapan universitas.
“Terima kasih atas ketulusan adik-adik mahasiswa dalam memberikan kritik dan masukan. Mahasiswa yang berani memberikan koreksi adalah bagian penting dari kemajuan universitas,” tuturnya.
Dialog berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dan pertanyaan mahasiswa terkait pengembangan fasilitas, transparansi kebijakan kampus, kesejahteraan mahasiswa, hingga penguatan ekosistem akademik UIN Jakarta di masa mendatang.
(Aida Adha/Zaenal M./Arifin Ilham/Foto: Hermanuddin)



