Perkuat Langkah Menuju PTNBH, UIN Jakarta dan BRIN Matangkan Skema Riset Berdampak
Jakarta, Berita UIN Online - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus bergerak aktif dalam memperkuat ekosistem riset nasional dan internasional. Sebagai langkah strategis menyongsong transformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), UIN Jakarta menggelar audiensi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kantor Pusat BRIN, Gedung B.J. Habibie, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Hadir dalam audiensi tersebut Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., serta Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Kelembagaan, Din Wahid, M.A., Ph.D.. Rombongan disambut langsung oleh Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., bersama Deputi Bidang SDM Iptek BRIN, Edy Giri Rachman Putra.
Pertemuan ini menjadi momentum penting mengingat Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua institusi akan segera berakhir pada Maret 2026. Lebih dari itu, audiensi ini menyepakati desain ulang kolaborasi riset yang lebih adaptif, produktif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep menekankan pentingnya penyelarasan peta jalan penelitian UIN Jakarta dengan kebijakan riset nasional terbaru. Menurutnya, kolaborasi ini adalah salah satu faktor penting bagi UIN Jakarta agar tetap relevan dan unggul saat berstatus PTNBH nanti.
“Kerja sama ini tidak boleh sekadar administratif belaka. Ini sangat penting, terutama dalam konteks transformasi UIN Jakarta menuju PTNBH. Kita butuh riset yang berkelanjutan dan produktif,” tegas Rektor.
Rektor juga menyoroti tantangan berupa birokrasi pendanaan yang kerap menghambat fleksibilitas peneliti. Untuk itu, UIN Jakarta berencana mengundang tim BRIN guna mensosialisasikan skema riset terbaru yang lebih matang.
"Karena itu, dukungan sistem riset nasional yang lebih adaptif dan kolaboratif menjadi kebutuhan mendesak. Nanti tim BRIN akan kita undang ke UIN Jakarta untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam," tambahnya.
Merespons hal tersebut, Kepala BRIN, Prof. Arif Satria menyambut hangat inisiatif UIN Jakarta. Ia menyatakan bahwa BRIN kini berfokus pada riset konkret di sektor prioritas seperti kesehatan, pangan, dan teknologi terapan.
“Meskipun riset teknologi terapan butuh proses panjang, hasil akhirnya harus sederhana, aplikatif, dan manfaatnya langsung dirasakan publik,” ujar Prof. Arif.
Lebih jauh, Prof. Arif mengapresiasi pesatnya perkembangan keilmuan di UIN Jakarta. Ia mencontohkan bagaimana universitas kelas dunia seperti Harvard dan Stanford memiliki fleksibilitas tinggi namun tetap mendapat dukungan pendanaan negara yang kuat. Senada dengan itu, pemerintah berkomitmen mendukung PTNBH melalui skema Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Riset yang nilainya bisa mencapai Rp25 miliar.
Lebih lanjut, ia membuka peluang luas bagi pengembangan skema PhD by Research melalui BRIN. Tidak hanya itu, Prof. Arif menegaskan bahwa seluruh aset dan fasilitas riset BRIN terbuka untuk dimanfaatkan oleh peneliti UIN Jakarta.
Satu gagasan menarik yang disampaikan adalah harapan BRIN agar ke depan terdapat jabatan fungsional peneliti di kampus yang dibina langsung oleh BRIN.
"Skema ini dapat menjadi alternatif jalur karier bagi akademisi yang ingin berfokus pada riset tanpa harus menempuh jalur dosen," tegasnya
Di tempat yang sama, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, mengungkapkan harapan besarnya agar peneliti UIN Jakarta dapat terlibat secara langsung dalam berbagai riset bersama BRIN terutama di bidang Ilmu Sosial, Humaniora, dan Islamic Studies.
"BRIN bahkan telah lama menantikan UIN Jakarta berstatus PTNBH agar dapat berperan sebagai kolaborator dalam ekosistem riset nasional," tuturnya.
Sebagai tindak lanjut konkret, kedua belah pihak sepakat akan perlunya pembahasan yang lebih serius bersama para deputi terkait di lingkungan BRIN. Hal ini dimaksudkan untuk menyusun perencanaan kerja sama riset yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
(Mu’ainun Mubin/Fauziah M./Zaenal M./Fajri Nafisa)
