Peringati Hari Anak Nasional, UIN Jakarta Tegaskan Komitmen Lawan Kekerasan Seksual pada Anak
Ruang Daycare UIN Jakarta, Berita UIN Online - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) menggelar peringatan Hari Anak Nasional dengan seminar bertema “Mengatasi Pengalaman Traumatik Kekerasan dan Pelecehan Seksual pada Anak Ditinjau dari Aspek Psikis”, Senin (30/7/2026). Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen kampus mewujudkan lingkungan yang aman, ramah anak, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof. Ali Munhanif, Ph.D., Sekretaris LP2M UIN Jakarta, Dr. Fathudin, S.HI., SH., MA.Hum., MH, Kepala Pusat PSGA UIN Jakarta Dr. Hj. Wiwi Siti Syajaroh, M.A., Psikolog RSIA Hermina Ciputat, Yusnita Katagori, M.Psi., Psikolog., dan Pendongeng/ Owner Nara Alpha Cendekia, Siti Salma, S.Pd.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof. Ali Munhanif, Ph.D., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bersama, khususnya bagi para pengelola pendidikan anak.

“Pada dasarnya seminar ini merupakan langkah awal dari kesadaran kita untuk menanamkan satu komitmen kepada para pengelola pendidikan anak, khususnya pendidikan di usia dini, untuk terus menerus melakukan kampanye anti kekerasan seksual. Kasus ini sangat tinggi dan makin lama makin meningkat, kita harus sadar betul bahwa upaya pencegahan dan kewaspadaan harus ditanamkan seawal mungkin, karena setiap peristiwa memiliki dampak yang sangat serius bagi masa depan mereka,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif PSGA sekaligus menegaskan hal ini menjadi bukti nyata sikap seluruh warga kampus.
“Langkah PSGA menggelar seminar ini harus kita tanamkan bagi seluruh pengelola lembaga pendidikan, khususnya di lingkungan kita. Hal ini menggambarkan komitmen UIN Jakarta menolak segala bentuk kekerasan, baik terhadap anak, mahasiswa, maupun seluruh elemen kampus. Saya apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Wiwi dan tim, semoga ini menjadi titik tolak kita semua untuk terus mengawal komitmen anti kekerasan seksual di lingkungan UIN Jakarta,” kata nya.
Kepala Kepala Pusat PSGA UIN Jakarta Dr. Hj. Wiwi Siti Syajaroh, M.A., menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk kembali menyatukan tekad merawat anak-anak dengan penuh kasih sayang sekaligus menjauhkan mereka dari segala bentuk perlakuan salah.
“PSGA maupun UIN Jakarta memiliki komitmen yang sama untuk menciptakan kampus yang ramah anak dan perempuan. Hari ini kita akan mengetahui bagaimana kita memusatkan untuk menjaga dan melihat anak dengan penuh rasa cinta kasih dan sayang kepada mereka. Terutama menghindari dari tindak kekerasan seksual atau tindak kekerasan lainnya kepada anak dan putra putri kita,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ia juga berharap acara ini dapat memberikan semangat serta motivasi untuk tetap menjaga, melindungi anak-anak dengan penuh kasih sayang.
“Mudah-mudahan acara ini memberikan semangat dan motivasi pada kita untuk tetap menjaga anak-anak kita, melindungi anak-anak kita dengan penuh rasa kasih sayang,” harapnya.
Psikolog RSIA Hermina Ciputat, Yusnita Katagori, M.Psi., Psikolog., menjelaskan bahwa trauma pada anak tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga berdampak mendalam bagi orang tua dan pengasuh. Mengenali tanda-tandanya menjadi langkah paling awal dan krusial sebelum melakukan pendampingan.
“Trauma bukan sekadar kesedihan atau rasa takut biasa, melainkan respon mendalam yang merusak rasa aman, kepercayaan, dan kendali anak atas dirinya sendiri. Seringkali anak tidak menunjukkan tangisan yang nyata, melainkan berubah perilaku menjadi membangkang, sulit tidur, kembali mengompol, atau tiba-tiba takut berangkat sekolah. Perubahan ini adalah sinyal yang harus kita tangkap dengan teliti,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ia juga memaparkan langkah konkret yang harus dilakukan orang tua dan lingkungan terdekat agar anak merasa aman kembali, sekaligus memperingatkan kesalahan yang kerap terjadi yang justru memperparah kondisi korban.
“Hal paling utama adalah percayai cerita anak dan dengarkan sampai tuntas. Katakan padanya bahwa ini sama sekali bukan salahnya, dan kita akan selalu menjaganya. Hindari menanyakan kejadian berulang-ulang, jangan panik berlebihan di hadapannya, dan jangan melarangnya beraktivitas. Tugas kita adalah mengembalikan rasa aman serta kendali atas dirinya sendiri secara perlahan dan penuh kasih sayang,” ungkapnya.
(Nosa/Zaenal/Arifin/Foto: Tiara Abdhie)