Peringati Hardiknas ke-118, UIN Jakarta Tegaskan Peran Strategis Kampus untuk Indonesia Maju

Peringati Hardiknas ke-118, UIN Jakarta Tegaskan Peran Strategis Kampus untuk Indonesia Maju

Lapangan Student Center, Berita UIN Online UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Upacara Peringatan ke-118 Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026 dengan tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, di Lapangan Student Center (SC), Rabu (20/5/2026).

Dipimpin oleh Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., upacara ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Din Wahid, M.A., Ph.D., Dekan Kedokteran UIN Jakarta, Dr. dr. Achmad Zaki, M.Epid., Sp.OT., FICS., Dekan FDIKOM, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., Dekan FITK, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., serta sivitas akademika, dosen, dan tenaga kependidikan. 

Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar  M.A., Ph.D., mengajak seluruh sivitas akademika untuk merenungkan kembali makna kebangkitan nasional dan menghubungkannya dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh perguruan tinggi saat ini. Beliau menegaskan bahwa semangat perjuangan masa lalu harus diterjemahkan ke dalam prestasi dan kontribusi nyata di masa kini.

“Kalau kita berkaca kepada konsep dan sejarah dari kebangkitan nasional, waktu itu kan kesadaran untuk cinta tanah air dan bagaimana membangun Indonesia terbebas dari penjajahan. Oleh karena itu, untuk sekarang konteks kebangkitan nasional dalam kampus kita, maka kita harus membangun keunggulan, daya saing, kampus berdampak dan karena itulah budaya kita sebagai akademisi harus kita tingkatkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan ciri khas UIN Jakarta, yaitu integrasi antara ilmu pengetahuan umum dan nilai-nilai Islam. Menurutnya, prinsip ini bukan sekadar jargon, melainkan landasan untuk membangun reputasi kampus yang diakui secara global.

“Sehingga apa yang menjadi ciri UIN, yang dimaksud dengan integrasi Islam dan sains, betul-betul terwujud, dilaksanakan, dan berdampak. Karena itu reputasinya harus terus ditingkatkan, sehingga kita dikenal dan diakui oleh dunia,” tambahnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., menyoroti makna mendasar dari Kebangkitan Nasional yang harus dipahami sebagai sebuah proses perubahan fundamental yang berakar dari pemikiran dan kesadaran kolektif.

“Kebangkitan Nasional itu adalah satu upaya yang sangat progresif dimulai dari basis kesadaran untuk mengubah hal-hal yang fundamental, terutama kalau kita lihat semangat kebangsaan yang dimulai dari upaya untuk menggelorakan kesadaran berjuang. Proses ini bukan hanya semata-mata ekspresi simbolik, tapi lebih dari itu. Ini upaya membangun kesadaran kolektif dan kesadaran itu pasti dimulai dengan pemikiran,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ia juga menekankan bahwa tidak ada kebangkitan yang terjadi tanpa didahului oleh pemikiran yang kuat. Oleh karena itu, semangat para pendiri bangsa di masa lalu harus diambil nilainya dan diterapkan sesuai dengan konteks zaman sekarang.

“Tidak ada basis kebangkitan yang tidak dimulai dari pemikiran. Saat ini dan kedepannya saya pikir apa yang sudah dipraktekkan di masa lalu oleh para pejuang kita dalam konteks kebangkitan nasional itu harus diambil nilainya, harus diambil semangatnya, yaitu soal bagaimana memastikan bahwa sebagai bagian penting dari warga bangsa kita punya kesadaran berpikir, kita punya kesadaran bergerak dan kita punya kesadaran untuk bermanfaat bagi banyak orang melalui gerakan sosial. Berupa alternatif, redemptif, reformatif, revolutionary, social movement itu tentu sesuai dengan konteks, waktu, dan zamannya,” jelasnya.

Menurutnya, setiap sivitas akademika memiliki peran masing-masing sesuai dengan kapasitas dan profesinya untuk berkontribusi bagi bangsa. Kuncinya adalah adanya tindakan nyata, semangat kebersamaan, dan tujuan yang sama untuk menguatkan Indonesia.

“Satu hal yang pasti adalah sebagai elemen bangsa kita harus melakukan sesuatu untuk kemudian bangkit bergerak, memberi kontribusi nyata pada bangsa ini. Salah satunya melalui apa yang bisa kita lakukan. Mulai dari kesadaran, kemudian ada kolektivitas, dan bertumbuh bersama untuk berdaya bersama menguatkan Indonesia,” pungkasnya.

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang lahirnya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Momen ini menjadi tonggak sejarah bangkitnya kesadaran nasional rakyat Nusantara secara terorganisir.

Upacara Harkitnas 2026 1
Upacara Harkitnas 2026 2
Upacara Harkitnas 2026 3

(Nosa Idea/Zaenal M./Fajri Nafisa/Foto: Azka Raysa)

Tag :