Peneliti FDIKOM UIN Jakarta Kembangkan TREX AI, Teknologi untuk Membaca Risiko Ekstremisme Keagamaan Digital

Peneliti FDIKOM UIN Jakarta Kembangkan TREX AI, Teknologi untuk Membaca Risiko Ekstremisme Keagamaan Digital

Khairudzakirin Naswa Iqwalia Hanif Az-Zaydan
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Ciputat, Berita UIN Online – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) mengembangkan Trustworthy Explainable Artificial Intelligence (TREX AI), sebuah model berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendeteksi dan mengukur risiko ekstremisme keagamaan di ruang digital. Pengembangan tersebut merupakan bagian dari penelitian bertajuk “Model Komunikasi Politik Digital Berbasis TREX AI Untuk Pengukuran Risiko Ekstremisme Keagamaan Digital di Indonesia” yang dipaparkan dalam Public Expose Hasil Penelitian MoRA The Air Funds 2026 di Ruang Teater Prof. H. R. Husnul Aqib Suminto, Rabu (7/10/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., Dekan FDIKOM, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., Wakil Dekan I Bidang Akademik,  Dr. Fita Fathurokhmah, M.Si., Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Dr. Rubiyanah, MA., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Dr. Muhtadi. M.Si.. Selain Wakil Rektor dan jajaran Dekanat FDIKOM acara ini juga menghadirkan Founder Drone Emprit dan Inisiator Indonesia One Search, Ismail Fahmi, Ph.D., dan Kepala Pusat Penerangan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI, Dr. Ruchman Basori, M.Ag., juga tim peneliti MoRA The Air Funds 2026.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Tholabi mengatakan perkembangan AI dalam ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sosial, politik, pendidikan, ekonomi, hingga keagamaan masyarakat. Kondisi tersebut membuat berbagai persoalan sosial baru yaitu potensi ekstremisme keagamaan, yang berkembang di ruang digital.

Prof. Tholabi mengungkap, perkembangan kecerdasan buatan di kehidupan seperti sekarang ini dapat dimanfaatkan untuk membaca data dalam jumlah besar, menemukan pola, serta mengidentifikasi kecenderungan yang sulit dilakukan melalui analisis manual. Hal tersebut juga dapat diaplikasikan untuk menganalisis sebaran potensi ekstrimisme digital. Namun, penggunaan AI untuk membaca risiko ekstremisme keagamaan perlu dilakukan secara hati-hati.

“Tidak setiap narasi yang keras dapat langsung dikategorikan sebagai ekstremisme. Tidak setiap perbedaan pandangan keagamaan merupakan ancaman,” ungkapnya.

Sejalan dengan Hal tersebut, ia menekankan sedikitnya empat prinsip yang bisa dijadikan perhatian dalam mengembangkan model TREX AI ini, yakni akurasi, transparansi, akuntabilitas, dan verifikasi manusia. Menurutnya, teknologi dapat membantu membaca data dan pola, tetapi penilaian tetap membutuhkan konteks, pertimbangan akademik, serta tanggung jawab manusia.

“Teknologi dapat membantu membaca data, membaca pola. Penilaian tetap membutuhkan konteks, pertimbangan akademik, dan tanggung jawab manusia,” pungkasnya.

Dalam laporan Hasil Penelitian yang dipaparkan oleh Dekan FDIKOM sekaligus Ketua Tim Peneliti, Prof. Gun Gun menjelaskan penelitian ini dikembangkan dengan pendekatan lintas disiplin yang melibatkan bidang komunikasi politik, ilmu dakwah, psikologi, dan sosiologi. Penelitian menggunakan metode Mixed Method Sequential Explanatory melalui survei terhadap 1.500 responden di 33 provinsi, evaluasi psikometrik, analisis SEM-PLS, serta Focus Group Discussion (FGD).

Dalam pengembangan instrumen penelitian, tim melakukan validasi terhadap 67 butir hingga menghasilkan 34 indikator final. Hasil tersebut menjadi dasar dalam merancang TREX AI untuk mendeteksi, mengukur, dan memitigasi risiko ekstrimisme keagamaan digital secara etis dan kontekstual. 

Potensi munculnya ekstremisme digital tambah Prof. Gun Gun, tidak hanya dilihat semata-mata sebagai persoalan teknologi. Fenomena tersebut juga perlu dibaca dalam perspektif komunikasi politik, termasuk dengan melihat aktor, pembingkaian narasi keagamaan, serta tata kelola platform digital.

“Kekuasaan komunikasi bergeser dari kemampuan memproduksi pesan ke kemampuan mengatur keterlihatannya,” ujarnya.

Menjawab persoalan tersebut model ini dirancang untuk membaca percakapan di media sosial melalui big data crawling. Prototype tersebut nantinya diarahkan untuk memetakan narasi ekstremisme yang muncul, waktu kemunculan, serta wilayah persebarannya. Hasil pemantauan tersebut kemudian ditargetkan dapat dikembangkan dalam bentuk dashboard yang memungkinkan analisis lebih mendalam terhadap narasi yang teridentifikasi.

Lebih lanjut, Prof. Gun Gun menekankan sistem yang dikembangkan tidak diarahkan hanya untuk mendeteksi konten, tetapi juga harus mampu memberikan gambaran mengenai kontestasi narasi di ruang digital dan tidak bekerja secara tertutup.

“Memastikan bahwa kontestasi narasi terutama tentang ekstremisme keagamaan yang tidak hanya technological determinism, tetapi lebih dari itu yakni soal kontestasi narasi, itu kemudian bisa punya ada gambaran petanya, kemudian how-to-do-nya, sekaligus terpantau dalam satu AI yang tidak black box gitu, tapi trustworthy explainable artificial intelligence,” ungkapnya.

Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan salah satu keluaran penelitian yang bisa dikembangkan lebih lanjut yakni Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI). Prof. Gun Gun berharap indeks tersebut dapat menjadi salah satu dasar pengembangan kebijakan serta dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT).

“Saya harapkan jadi policy di Kementerian Agama, policy di Kementerian Komdigi, sekaligus juga nanti bisa berjejaring dengan BNPT,” pungkasnya.

Setelah pemaparan hasil penelitian oleh Prof. Gun Gun Heryanto, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan pemaparan dari narasumber diantaranya Founder Drone Emprit dan Inisiator OneSearch Ismail Fahmi, Ph.D., serta Puspenma Kemenag RI, Hendro Dwi Antoro, S.H., C.M.E.D..