PBAK 2026: Salsabila Syaira Tekankan Pemaknaan Pancasila dalam Membangun Karakter Kebangsaan
Auditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online – Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Dalam Negeri periode 2018–2019, Salsabila Syaira, S.I.P., M.I.P., mendorong mahasiswa baru UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memahami Pancasila sebagai fondasi dalam membangun karakter kebangsaan sekaligus menjaga identitas dan kedaulatan Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam talkshow Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Jakarta 2026 sesi kedua bertajuk “Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dan Karakter Kebangsaan” di Auditorium Harun Nasution, Kamis (27/8/2026).
Pelaksanaan PBAK hari kedua ini menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, dan praktisi. Di antaranya Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Dr. H. Bima Arya Sugiarto, S.I.P., M.A.; Wakil Ketua III DPRD Kota Tangerang Selatan periode 2024–2029, Maria Teresa Suhardja, B.Sc.; Cendekiawan dan Pakar Pemikiran Islam dan Kebangsaan, Yudi Latif, M.A., Ph.D.; serta Analis Komunikasi Politik sekaligus Praktisi Media, Salsabila Syaira, S.I.P., M.I.P.
Talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian PBAK hari kedua. Sesi kedua acara ini diikuti oleh 1.817 mahasiswa baru, yang terdiri atas Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) sebanyak 1.239 mahasiswa serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sebanyak 578 mahasiswa. Sementara itu, sesi pertama sebelumnya diikuti oleh 1.432 mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) sebanyak 229 mahasiswa dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sebanyak 1.203 mahasiswa.
Dalam pemaparannya, Salsabila menjelaskan bahwa Pancasila perlu dipahami secara lebih mendalam sebagai dasar dan filosofi negara. Nilai-nilai dalam setiap sila tidak berhenti pada rumusan normatif, tetapi menjadi kerangka yang menghubungkan nilai, moralitas, serta kehidupan bernegara. Hal tersebut sejalan dengan materi yang ia sampaikan, bahwa Pancasila bertindak sebagai dasar negara sekaligus filosofi yang menjembatani moralitas dan kekuasaan.
Salsabila menilai pemaknaan Pancasila tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai nilai yang datang dari otoritas tertinggi untuk kemudian dikirimkan kepada masyarakat. Menurutnya, Pancasila justru perlu dipahami sebagai nilai yang tumbuh dari semangat bersama dan kehidupan masyarakat Indonesia.
“Pancasila jadi salah arah karena datang dari posisi tertinggi dikirim ke bawah, padahal seharusnya Pancasila datang dari semangat bersama,” ujar Salsabila.
Menurutnya, pemaknaan tersebut menuntut adanya komitmen dan keteladanan dari pihak yang menduduki posisi dalam penyelenggaraan negara. Ia menegaskan, nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya disampaikan kepada masyarakat, tetapi harus terlebih dahulu dicontohkan oleh para pejabat dan lembaga negara.
“Oleh karena itu, komitmen dan keteladanan tertinggi justru seharusnya ditunjukkan oleh para pejabat dan lembaga negara itu sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Salsabila menjelaskan bahwa Pancasila memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai-nilai tersebut bukan semata-mata gagasan yang muncul dari ruang politik, melainkan ditemukan oleh para pendiri bangsa melalui kehidupan bermasyarakat dan semangat kebersamaan yang telah berkembang secara kultural.
“Pancasila itu dasar filosofi yang ditemukan oleh para pendiri bangsa yang justru terinspirasi dari kehidupan berbangsa, kehidupan bermasyarakat, dan cara gotong royong dari masyarakat Indonesia sendiri,” jelas Salsabila.
Menanggapi pembahasan tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa nilai Pancasila memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Menurutnya, penghayatan terhadap Pancasila dapat dibangun melalui ajaran agama, nilai sosial, kearifan lokal Nusantara, pemahaman geopolitik, hingga orientasi pada keadilan sosial.
“Pertama dengan ajaran agama pada nilai Pancasila pertama, ajaran sosial pada sila kedua, kearifan lokal Nusantara pada sila ketiga, geopolitik pada sila keempat, hingga keadilan sosial pada sila kelima. Masyarakat diimbau untuk tidak fokus mencari perbedaan, melainkan merawat persamaan demi kebaikan bersama,” tambah Yudi.
Yudi juga menilai pemaknaan Pancasila perlu diarahkan pada kemampuan masyarakat melihat persamaan sebagai dasar kehidupan berbangsa. Dengan demikian, internalisasi Pancasila tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai lima sila, tetapi juga pada bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam praktik sosial sehari-hari.
Melalui talkshow tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa Pancasila merupakan fondasi dalam membangun karakter kebangsaan sekaligus menjaga identitas dan kedaulatan Indonesia. Pemahaman ini menjadi penting bagi generasi muda agar mampu menjalankan kehidupan kebangsaan dengan kesadaran nilai, identitas, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Dokumentasi rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 pada Kamis (27/08/2026), dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
