Muslimah Bloom Fest 2026: LDK Syahid UIN Jakarta Dorong Muslimah Raih Mimpi Tanpa Lepas Identitas
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – Di tengah arus perubahan zaman yang begitu pesat, muslimah kerap dihadapkan pada berbagai tantangan dan kondisi yang dapat menghambat laju mimpinya. Merespons dinamika tersebut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar acara Muslimah Bloom Fest (MBF) bertajuk “Aku, Hijab, dan Mimpiku” di Auditorium Harun Nasution, Rabu (23/09/2026).
Acara khusus muslimah ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Penulis & Konten Kreator Muslimah, Eva Zuriat Elnova, serta Muslimah Influencer & Peneliti, Karina Hakman. Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Tim Kemahasiswaan UIN Jakarta, Pembina LDK Syahid, apt. Barita Juliana Siregar, S.Si., M.M., Ketua Umum LDK Syahid, Syauqi Mubarok, Ketua Divisi Keputrian, Nesya Ayu Syifa Yanti, serta mahasiswi UIN Jakarta dari berbagai fakultas.
Membuka rangkaian kegiatan, Pembina LDK Syahid, apt. Barita Juliana Siregar, S.Si., M.M., menegaskan pentingnya keterkaitan antara hijab dan identitas seorang muslimah. Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai filosofi hijab dapat menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kesadaran akan tanggung jawab moral di tengah masyarakat.
“Hijab di era kita yang semakin berkembang ini mesti bisa membuat kita menyadari bahwa hijab tidak menghambat sama sekali aktivitas dan ruang gerak kita. Tujuannya adalah agar para muslimah, khususnya yang berhijab, semakin mengenal dirinya dan mendapatkan kepercayaan diri,” ujar.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana Muslimah Bloom Fest menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi dorongan positif bagi seluruh peserta dalam mengejar cita-cita tanpa ragu.
“Semoga acara ini bisa menjadi kado terindah untuk teman-teman agar terus bisa melangkah lebih jauh lagi. Hari ini teman-teman semua di sini bersinar, tidak hanya di mata dunia, tetapi juga di mata orang-orang yang menyayangi kalian,” ungkapnya.
Memasuki sesi pemaparan materi pertama, Penulis Muslimah Beyond The Rules, Eva Zuriat Elnova, menyoroti fenomena pergeseran nilai hijab di era modern akibat pengaruh media dan tren gaya hidup. Eva menekankan bahwa esensi hijab tidak diukur dari tampilan fisik luar maupun harga bahan pakaian, melainkan dari martabat, jiwa, dan kedalaman ilmu penggunanya.
“Ketika kita punya ilmu tentang hijab, ilmu itulah yang bisa membedakan mana yang baik dan salah, mana yang halal, haram, syubhat, maupun syahwat. Ilmu ini menjadi kewajiban agar kita tidak gampang terbawa arus dan tetap hadir di dekat kebenaran,” ungkapnya.
Eva juga menguatkan para peserta terkait makna konsistensi atau istiqomah dalam beragama. Ia mengingatkan bahwa menjadi muslimah yang taat bukan berarti luput dari kesalahan, melainkan tentang keberanian untuk terus bangkit dan kembali ke jalan Allah swt.
“Ketika kita memutuskan istiqomah, bukan berarti kita tidak pernah bergoyang atau terpeleset. Istiqomah adalah ketika kita belok, kita balik lagi, kita terpeleset, kita balik lagi, kita jatuh, kita bangun lagi. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tetapi Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan selalu berusaha kembali kepada-Nya,” tegasnya.
Pada sesi kedua, Karina Hakman membagikan perspektifnya mengenai pentingnya ketahanan diri dan profesionalisme seorang muslimah dalam menjalankan berbagai peran kehidupan, baik sebagai hamba Allah, akademisi, istri, maupun ibu. Berdasarkan pengalamannya saat pernah mengajar sebagai dosen, Karina menggarisbawahi bahwa kualitas seorang muslimah sejati tidak dinilai dari penampilan luar, melainkan dari kontribusi serta pemikirannya.
“Pada akhirnya yang dituntut bukan tampilan fisik kita, melainkan ilmu dan karya kita. Mau secantik apapun penampilan kita, pada akhirnya amalan dan karya terbaiklah yang membedakan. Jangan pernah merasa apa yang kita capai adalah karena diri kita sendiri, semuanya merupakan kebaikan dari Allah swt,” tuturnya.
Lebih lanjut, Karina mengajak seluruh mahasiswi untuk senantiasa rendah hati, dan membangun setiap langkah perjuangan di atas landasan akidah yang kokoh.
“Menjadi muslimah yang shalehah berarti kita sedang menciptakan peran atas dasar akidah, bukan sekadar semangat sesaat. Ketika beban dan tantangan hadir saat menjadi mahasiswa, tetaplah membumi dan bentengi diri dengan pemahaman peran yang utuh,” pungkasnya.
Rangkaian acara Muslimah Bloom Fest ini mempertegas komitmen LDK Syahid UIN Jakarta dalam mewadahi pengembangan potensi mahasiswi. Melalui pemahaman agama yang kuat dan penguasaan ilmu pengetahuan, generasi muslimah UIN Jakarta diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, berkarya secara profesional, dan mengejar mimpi tanpa kehilangan identitas keislamannya.
