Merawat Keberagaman di Kampus Islam, Kisah Mahasiswa Hindu, Ni Wayan Nayaka Sanjiwani Berkuliah di UIN Jakarta
Berita UIN Online - Kampus inklusif merupakan kampus yang memberikan kesempatan, akses, jejaring yang setara untuk seluruh sivitas akademika meliputi mahasiswa, dosen, maupun tenaga pendidik tanpa melihat dan membedakan latar belakang, kondisi fisik, agama, gender, suku dan status ekonomi maupun karakteristik lainnya.
Tercermin di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kampus dengan predikat Islam Negeri ini menerapkan kampus inklusif terhadap sivitas akademikanya. Melalui wawancara dan penemuan Berita UIN Online, mahasiswa Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora angkatan 2025, Ni Wayan Nayaka Sanjiwani merupakan mahasiswa beragama Hindu yang aktif sebagai mahasiswa di UIN Jakarta. Memiliki ketertarikan pada profesi guru, Ni Wayan Nayaka yang kerap dipanggil Naya mencoba keberuntungannya untuk menempuh pendidikan di Ilmu Perpustakaan sebagai batu loncatan strategis.
Naya mengakui bahwa berkuliah pada universitas dengan predikat Islam Negeri ini memiliki kekhawatiran tersendiri untuknya, tradisi baru penggunaan hijab juga menjadikan Naya harus beradaptasi kembali di lingkungan perkuliahan. “Pertama kali coba pakai hijab saat tugas bikin video perkenalan diri untuk PBAK, aku merasa saat sudah selesai buat video itu gerah dan ga betah di awal pakai,” tuturnya.
Peralihan Naya berkuliah di UIN Jakarta merupakan hal yang tidak terduga, tidak bisa dipungkiri, pada awalnya Naya tidak memiliki tujuan dan target untuk berkuliah di UIN Jakarta namun untuk beberapa alasan UIN Jakarta menjadi universitas strategis untuk Naya melanjutkan jenjang pendidikan S1. Pada masa perkuliahan Naya mengalami berbagai tantangan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran dengan berbahasa Arab dan teori ilmu agama Islam namun, setiap kesulitan yang Naya alami, ia mengakui lingkungan di UIN Jakarta memiliki lingkungan pertemanan yang baik, sehat dan toleransi.
“Disini aku bersyukur aja sih teman-temannya baik banget, aku juga dulu mikirnya kayak, aduh nanti aku pasti bakalan dikucilkan, gak ada teman karena beda agama sendiri, tapi ternyata di luar itu, aku merasa mungkin Tuhan ngasih aku disini untuk berbaur sama agama lain,” ungkapnya.
Tambahnya, ia mengatakan sekelilingnya sangat membantu bahkan untuk hal kecil seperti cara penggunaan hijab. “Teman-teman aku tuh justru baik banget gitu, pas dari PBAK aku gak tau cara pake kerudung dengan peniti, terus teman aku langsung dibenerin dibantuin, gak sendiri-sendiri, mereka juga terbuka,” jelasnya.
Selain itu, untuk pembelajaran di dalam kelas, Naya mendapatkan dukungan dari teman-temannya yang membantu dalam pengajaran teori Islam. Naya juga didukung dan dipermudah oleh dosen yang mengampu mata kuliah hafalan surah pendek, untuknya, ia setor hafalan surah Trikul dan Al-Fatihah yang ia sering dengarkan semenjak sekolah dasar negeri.
Menariknya, budaya Islam terbawa hingga pulang ke rumah. Naya terkadang mengatakan ucapan seperti ‘Astagfirullah’ ‘InsyaAllah’ dan ‘Assalamualaikum’ dengan spontan terucap.
Pengalaman Naya sebagai bukti bahwa pertemanan dan lingkungan pada kampus dengan predikat Islam Negeri ini memilih mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda. UIN Jakarta tidak membedakan dan melihat dari segi agama untuk menerima mahasiswa sebagai sivitas akademika kampus.
(Meisa Aqilah/Zaenal.M/Alden Lee/Foto: Istimewa)
