Mengupas Republik Islam Iran dari Perspektif Filsafat hingga Geopolitik, SPs UIN Jakarta Gelar Studium Generale 

Mengupas Republik Islam Iran dari Perspektif Filsafat hingga Geopolitik, SPs UIN Jakarta Gelar Studium Generale 

Auditorium Prof. Dr. Suwito, M.A., Berita UIN Online – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Studium Generale bertema "Peta Baru Dunia Islam dan Masa Depan Timur Tengah" yang dirangkaikan dengan bedah buku "Republik Islam Iran: Negara Filosof dan Kekuatan Baru di Dunia Multipolar" karya Prof. Dr. Kholid Al Walid, M.Ag. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Prof. Dr. Suwito, M.A., SPs UIN Jakarta, Selasa (4/8/2026), menghadirkan berbagai akademisi dan diplomat untuk mengulas dinamika geopolitik Timur Tengah, filsafat politik Iran, serta prospek kerja sama intelektual Indonesia-Iran.

Forum akademik ini menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Y.M. Dr. Mohammad Boroujerdi, Direktur SPs UIN Jakarta Prof. Dr. Zulkifli, M.A., Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Indonesia Prof. Yon Machmudi, Ph.D., dan Dosen STAI Sadra Dr. Umar Shahab, M.A. Kegiatan diikuti sekitar 70 peserta secara luring serta disiarkan secara hybrid melalui Zoom Meeting.

Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Y.M. Dr. Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa dalam tradisi filsafat politik Iran, pemerintahan tidak sekadar menjadi instrumen kekuasaan, melainkan harus berlandaskan keadilan, kearifan, dan kemaslahatan masyarakat.

“Politik tidak dapat dipisahkan dari etika. Kekuasaan tanpa keadilan serta tanggung jawab dipastikan tidak memiliki legitimasi moral,” ujarnya (diterjemahkan).

Menurutnya, tradisi intelektual Iran yang diwariskan oleh tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Khaja Nasiruddin Tusi, hingga Mullah Sadra menempatkan moralitas sebagai fondasi utama kepemimpinan. Ia juga menilai nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan dengan Pancasila yang menjunjung Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan Sosial sehingga menjadi modal penting dalam memperkuat pertukaran intelektual antara Indonesia dan Iran.

Penulis buku Republik Islam Iran, Prof. Dr. Kholid Al Walid, M.Ag., menjelaskan bahwa kekuatan Republik Islam Iran dibangun melalui sinergi tiga nilai utama, yakni syahadah (kesyahidan), intizar (optimisme menanti keadilan), serta kepemimpinan ulama yang memadukan otoritas keagamaan, kecerdasan kenegaraan, dan akhlak. 

Ia juga menerangkan bahwa Teheran berfungsi sebagai pusat pemerintahan, sedangkan Qom menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tradisi keagamaan, dan filsafat Islam. Menurutnya, kondisi Iran saat ini menunjukkan perpaduan antara spiritualitas, kecerdasan intelektual, dan keberanian konstitusional dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

“Iran itu punya dua ibu kota, ada ibu kota yang zahir yaitu Teheran, dan ada ibu kota yang batin yaitu Qom,” ungkapnya.

Sebagai pembedah buku, Dr. Umar Shahab, M.A., mengulas konsep kepemimpinan dalam sistem Republik Islam Iran yang bertumpu pada integritas moral serta pemahaman konstitusi. Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin dari kalangan fukaha dituntut memiliki keadilan, keberanian, serta integritas moral yang tinggi. Kepemimpinan yang ideal tidak hanya berlandaskan kapasitas intelektual, tetapi juga keteladanan moral dan komitmen terhadap konstitusi demi kemaslahatan masyarakat.

“Kalau pada imam disyaratkan maksum, maka kepada para fukaha dituntut keadilan. Ruh dari ismah itu adalah bahwa yang bersangkutan ini orang baik, saleh, dan memiliki nilai-nilai yang sangat luhur,” jelasnya.

Direktur SPs UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., mengapresiasi buku karya Prof. Kholid yang dinilainya mampu menawarkan perspektif berbeda mengenai Iran. Ia menilai integrasi pendidikan tradisional Islam dengan universitas modern berbasis riset merupakan salah satu gagasan penting dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam. Konsep axis of resistance yang dibahas dalam buku tersebut sejatinya merupakan civilization axis atau poros peradaban yang tumbuh dari tradisi keilmuan dan sejarah panjang Iran. Menurutnya, buku ini mengangkat tesis Iran sebagai Negara Filosof, yakni negara modern yang dipimpin oleh fukaha dengan landasan rasionalitas dan teologi.

“Poin esensial dalam karya ini adalah integrasi antara sistem hawzah tradisional dengan sistem universitas modern,’ tuturnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Prof. Yon Machmudi, Ph.D., menilai buku tersebut layak menjadi referensi awal bagi siapa pun yang ingin memahami Republik Islam Iran secara komprehensif. Ia menambahkan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah hanya dapat diwujudkan melalui penegakan keadilan yang hakiki serta penerapan kebijakan internasional yang tidak menggunakan standar ganda.

“Bagi yang belum pernah belajar tentang Iran, saya kira ini menjadi buku pertama yang harus dibaca untuk bisa memahami Republik Islam Iran,” paparnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Melalui forum tersebut, para peserta berkesempatan berdialog langsung dengan para narasumber untuk memperdalam pembahasan mengenai dinamika geopolitik Timur Tengah, filsafat politik Iran, serta prospek kerja sama akademik antara Indonesia dan Iran.

(Khoirillah/Zaenal M./Fajri Nafisa/Foto: Alfin Ilham)

Tag :