Memelihara Tahmid Dan Syukur

Memelihara Tahmid Dan Syukur

Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar

 

CIPUTAT - Nabi Ibrahim AS salah satu contoh orang yang selalu bertahmid dan bersyukur. Ia selalu memuji atau bertahmid sepanjang hari-hari perjalanan hidupnya. Begitu kuat rasa syukur dan tahmid Nabi Ibrahim diceritakan, setiap kali makan selalu meminta ada orang lain yang menemaninya. Setiap kali tidak ada orang yang menemani makan setiap itu pula ia pergi ke pasar mencari orang-orang yang belum makan untuk menemaninya makan di rumahnya. Menjamu makan orang lain, terutama bagi mereka yang kelaparan, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Nabi Ibrahim. Menjamu orang lain makan merupakan wujud rasa syukur dan tahmid atas rahmat dan karunia yang diberikan Allah.

Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT dengan men­gucapkan kata hamdalah (al-hamdulillah). Tahmid sudah dipopulerkan sebagai bahasa Indonesia seperti halnya kata syukur. Kata tahmid berasal dari akar kata hamida-yahmadu berarti memuji. Kata hamida digunakan di dalam ayat kedua surah al-Fatihah: Alhamdu lillahi Rabbil ’alamin (segala puji hanya tertuju kepada Allah, Tuhan alam semesta).

Pujian orang-orang yang selalu bertahmid kepada Allah SWT mendapatkan pujian balik dari Allah Swt dengan ilustrasi dan perumpamaan menarik, seperti dalam firman-Nya: ”Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”. (Q.S. Al-Taubah/1:111-112).

Tahmid bagian dari syukur. Dengan kata lain, syukur cakupannya lebih luas dan lebih jauh. Menurut para ahli hakekat, syukur adalah menyandarkan segala nikmat ke­pada pemberi nikmat dengan sikap rendah diri. Atas dasar pengertian inilah Allah mempunyai sifat asy-syakûr, syukur yang sangat luas. Allah memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya.

Al-Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak me­mandang dirimu sebagai pemilik nikmat. Syâkir adalah orang yang mensyukuri atas adanya pemberian, sedang syakûr mensyukuri atas penolakan. Ada juga yang menga­takan, syâkir adalah orang yang mensyukuri atas nikmat, sedangkan syakûr adalah mensyukuri atas musibah yang menimpanya.

Menurut Al-Syiblî syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya. Pernyataan ini diper­kuat dengan ucapan nabi Ayyub AS. yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya, sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya. Demikian juga nabi Sulaiman AS. yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya. Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu, sehingga dengan demikian keduanya tidak merasakan sama sekali rasa sakit dan nyaman.

Syukur ada tiga macam; syukur dengan lisan, inilah yang populer, syukur dengan hati, yaitu menyadari sep­enuhnya atas segala apa yang saksikan di bumi yang luas dan tetap konsisten menjaga kehormatan, serta syukur dengan aktualisasi diri. Syukur kedua mata adalah menahan dan menghindari dari segala yang diharamkan Allah atas keduanya dan dari segala aib orang.

Syukur kedua telinga adalah menyumbat keduanya dari segala aib orang dan yang tidak halal didengarnya. Syukur kedua tangan adalah menahan untuk tidak mengambil hak orang lain. Syukur kedua kaki adalah tidak menjalankannya pada arah yang menuju kemaksiatan. Harapan kita, semoga para jamaah haji senantiasa meningkatkan kualitas tahmid dan syukurnya kepada Allah Swt. (rm.id/zm)

 

 

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Artikelnya dimuat Tangsel Pos, Jumat 29 Juli 2022. Lihat di https://tangselpos.id/detail/1853/memelihara-tahmid-dan-syukur