Memelihara Kejujuran

Memelihara Kejujuran

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar

 

Kejujuran atau shiddiq adalah sifat luhur yang seharus­nya dipertahankan oleh setiap jamaah haji agar hajinya tetap mabrur. Banyak figur yang dapat dijadikan contoh akan hal ini. Di antaranya ialah Syekh Abdul Qadir Jailani.

Di masa kecilnya, Syekh Abdul Qadir Jailani dikirim ibu­nya menuntut ilmu ke Bagdad. Untuk bekal selama sekolah, ia dibekali uang yang disimpan di dalam lipatan bawah baju gamisnya supaya sekiranya ada perampok bisa lebih aman. Sebelum berangkat sang ibu menasehati anaknya dengan satu kalimat: Jangan pernah berbohong! Ia diikutkan oleh ibunya kepada para saudagar yang akan menuju Bagdad dari Mekkah. Di tengah padang pasir ternyata dihadang oleh perampok. Satu persatu rombongan saudagar dijarah. Barang-barang berharga, termasuk unta dan barang dagan­gannya diambil gerombolan perampok. Tiba giliran Abdul Qadir Jailani diperiksa, untanya tidak membawa harta da­gangan apapun.

Ketika ditanya oleh perampok, kenapa kamu tidak bawa harta? Dijawab, saya bukan ke Bagdad untuk dagang tetapi untuk sekolah. Ditanya lagi, apakah engkau tidak membawa barang berharga? Dijawab secara jujur, ada berupa uang yang disembunyikan ibu saya di dalam jahitan lipatan baju saya. Begitu diperiksa, ternyata betul ada uang melingkar di dalam jahitan bajunya.

Cerita ini dilaporkan kepada pimpinan perampok. Pimpinan perampok memanggil Abdul Qadir Jailani yang waktu itu masih remaja, mengapa engkau mengatakan ada uang disembunyikan di dalam jahitan bajunya, padahal tadinya kamu sudah lolos, dijawab: Ibuku menasehatiku untuk tidak pernah berbohong kepada siapapun, termasuk kepada tuan-tuan. Mendengarkan kata-kata kejujuran ini maka pimpinan perampok berubah pikiran. Semua harta jarahan dikembalikan kepada yang punya. Dia bersama anak buahnya bertobat dan kembali ke kota mencari rezki yang halal.

Kejujuran (al-shidq) adalah menyatakan kebenaran di tempat-tempat yang mengancam kebinasaan, menyatakan kebenaran sama saja di waktu tersembunyi dan terang-terangan, meninggalkan segalanya selain kebenaran, dan menyempurnakan dan mensucikan segala apapun yang dimiliki.

Al-Shiddiq adalah term penekanan (mubâlaghah) dari kata “al-Shâdiq” artinya orang yang benar-benar jujur. Sebagaimana halnya kata “al-Sikkit” dari kata “al-Sâkit” art­inya orang yang benar-benar diam. Al-Shâdiq adalah orang yang jujur perkataannya, sedangkan al-shiddiq adalah orang yang benar-benar jujur, baik perkataan, perbuatan, maupun segala tingkah lakunya. Al-Shidq adalah sumber istiqamah dan bersih dari tujuan-tujuan duniawi. Al-Shidq adalah mitra dari al-hurriyah (kebebasan) dan al-futuwwah.

Menurut Al-Junaid, kejujuran ialah bersikap jujur dan me­nyatakan kebenaran di daerah yang tidak ada orang selamat kecuali berdusta. Abu Ali al-Daqqaq mengatakan kejujuran adalah engkau menganggap dirimu sebagaimana adanya, atau engkau dilihat seperti apa adanya dirimu.

Ada juga yang mengatakan, orang yang jujur adalah orang yang tidak senang dan tidak membenci jika amal dilihat. Ada juga yang mengatakan, orang yang jujur adalah orang yang siap meninggal dan tidak merasa malu jika rahasianya dibeberkan. Sesungguhnya Allah memuji kejujuran dan memerintahkan supaya bersikap jujur, sebagaimana dalam firmannya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. Al-Taubah/9: 119).

Dalam hadis Nabi dijelaskan: “Seorang hamba yang tetap bersikap jujur dan konsekwen dalam kejujurannya, ia akan dicatat sebagai orang jujur di sisi Allah. Dan seseorang yang selalu berdusta dan tetap dalam kedustaannya, ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.” Nabi menasehatkan: “Tinggalkanlah apa yang meragukan kamu dan ambillah apa yang tidak meragukan, sebab sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan kedustaan adalah kebimbangan.” Ia menambahkan: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan dan kebaikan menuntun kepada surga.

Kejujuran merupakan deretan kedua setelah derajat kenabian sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT: “Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.” (QS. Al-Nisa’/4: 69).

Kejujuran meliputi kejujuran dalam niat, kejujuran dalam pembicaraan, dan kejujuran dalam perbuatan. Kejujuran dalam niat adalah tidak menghendaki semua perkataan, perbuatan, dan keadaannya kecuali hanya karena Allah. Kejujuran dalam ucapan sudah dimaklumi, dan kejujuran dalam perbuatan adalah bersikap optimis melakukan ses­uatu dan tidak dengan asal-asalan. Profesionalisme adalah salah satu wujud kejujuran. (tangselpos/zm)

 

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Artikelnya dimuat Tangsel Pos, Jumat 12 Agustus 2022, dan bisa diakses di https://tangselpos.id/detail/2276/memelihara-kejujuran.