Membingkai Pluralitas Budaya Nasional

Membingkai Pluralitas Budaya Nasional

Prof DR KH Nasaruddin Umar  

Modal sosial yang amat berharga dimiliki bangsa ini ialah kekayaan budaya. Hanya saja, tantangan kita di masa depan ialah bagaimana membingkai pluralitas budaya nasional kita?

Memang hal ini tidak mudah, tetapi perjalanan panjang bangsa ini sudah sarat dengan pengalaman. Para pejuang budaya di masa lampau berusaha untuk menyatukan yang berbeda dan menghimpun yang berserakan tanpa menimbul­kan ketegangan konseptual. Itulah kearifan nenek moyang kita, rela menenggelamkan kepentingan subyektifnya demi mengedepankan keutuhan bangsa dan negara.

Selain harus berhadapan dengan birokrasi, batas terito­rial, juga harus menembus lapis-lapis kultural yang sudah mapan. Lebih sulit lagi jika isme-isme itu bersumber dari daerah asing manusia, seperti nilai-nilai transendetal seperti agama dan kepercayaan, yang dengan sendirinya juga harus dapat menembus otoritas logika manusia.

Dari hal tersebut, kehadiran Islam dalam tempo relatif singkat di kepulauan Nusantara merupakan suatu keajaiban tersendiri. Dalam waktu bersamaan, Islam mampu men­embus batas-batas geografis, lapis-lapis budaya, dan batas otoritas logika masyarakat bangsa Indonesia.

Kita tidak bisa menafikan kapasitas Wali Songo, pengan­jur Islam di masa awal, di saat sarana dan mobilitas yang dimiliki mereka dalam masa itu masih amat terbatas, rasanya sulit dipercaya, mampu menjangkau seluruh tanah air tanpa sebuah keajaiban lain.

G.E von Grunebaum sendiri merasa takjub melihat perkembangan Islam di Indonesia, sebagaimana dikutip Taufik Abdullah dalam buku “Islam di Indonesia”, bahwa bagaimana mungkin agama yang bersumber dari daerah as­ing ini dapat dianggap oleh calon-calon pemeluknya sebagai sesuatu yang telah terkait erat dengan tradisi mereka?

Konsekwensi yang harus dihadapi mereka ialah sebelum memasyarakatkan misi ajaran agama yang dibawa, mereka juga harus mengalami proses adaptasi nilai-nilai lokal setempat. Kekhususan dan sekaligus keistimewaan Islam dalam hal sep­erti ini, menurut S.H. Nasr dalam Ideal and Realities of Islam, terletak pada nilai-nilai dasarnya yang sangat lentur.

Nilai-nilai Islam memang bersifat universal, tetapi universalitasnya memiliki kekuatan akomodatif yang luar biasa terhadap nilai-nilai lokal. Dengan kata lain, nilai-nilai universal Islam tersusun dari berbagai keunikan lokal yang terintegrasi di dalamnya.

Islam bisa beradaptasi dengan nilai-nilai lokal kemanu­siaan sepanjang nilai-nilai itu bersumber dari keluhuran akal budi manusia. Islam sendiri adalah agama kemanusiaan, sedangkan kemanusiaan itu hanya satu (humanity is only one). Kemanusiaan tidak membedakan jenis kelamin, ke­warganegaraan, etnik, dan agama.

Yang lebih memudahkan Islam diterima di seluruh wilayah terletak pada faham teologinya yang Teomorfis, sebuah paham yang menekankan aspek kesucian Tuhan, bukannya menekankan aspek kemanusiaan Tuhan yang dikenal dengan konsep Antropomorfisme.

Teomorfisme Islam memungkinkan diterima di semua lapisan masyarakat, terutama terhadap masyarakat yang sudah memiliki paham ketuhanan Yang Maha Esa, seperti paham yang kebanyakan dianut di masyarakat lokal Indonesia.

Pengakuan sejumlah raja lokal di kepulauan Nusantara yang menerima Islam karena dianggapnya bukan “barang asing”, tetapi sebagaimana dikatakan oleh Taufik Abdullah, “sebagai suatu kelanjutan dari sesuatu yang telah ada dalam perbendaharaan kultural mereka”.

Sedemikian banyak persambungannya dengan nilai-nilai ajaran Islam, maka memungkinkan makin lancarnya proses akulturasi dan enkulturasi nilai-nilai Islam di masyarakat.

Agama yang paling cepat berkembang di kepulauan Nusantara ialah agama Islam. Agama Hindu yang begitu kuat berpengaruh di masyarakat, memerlukan waktu bera­bad-abad lamanya untuk dikenal.

Namun Islam hanya membutuhkan waktu lebih dari seabad untuk bisa menyebar ke kepulauan Nusantara dan menjadi agama mayoritas di Indonesia. Itu terjadi karena citra positif penganjurnya yang mengesankan pihak pen­guasa dan masyarakat lokal. (zm)

Penulis adalah Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Artikelnya dimuat Tangsel Pos, Jumat 1 Juli 2022. https://tangselpos.id/detail/864/membingkai-pluralitas-budaya-nasional