Madu Q-uin, Inovasi Hasil Riset FST UIN Jakarta Resmi Diluncurkan

Madu Q-uin, Inovasi Hasil Riset FST UIN Jakarta Resmi Diluncurkan

Ruang Sidang Utama FST, Berita Online - Tim Riset Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipimpin Prof. Dr. La Ode Sumarlin, M.Si., resmi meluncurkan Madu Q-uin, produk inovasi hasil riset yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan mitra industri. Peluncuran yang mengusung tema “Sinergi Riset, Inovasi, dan Industri untuk Kesehatan dan Kesejahteraan” menjadi wujud nyata hilirisasi hasil penelitian sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat berlangsung di Ruang Sidang Utama FST Lantai 2, Rabu (1/7/2026). 

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum FST, Dr. Ambran Hartono, M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama,  Khodijah Hulliyah, M.Si., Ph.D., Mitra Kerjasama komersialisasi hasil riset, Dr. Mahani S.P., M. Si., dan sivitas akademika.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama FST, Khodijah Hulliyah, M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa peluncuran Madu Q-uin merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mewujudkan riset yang berdampak bagi masyarakat.

"Hari ini FST melakukan launching dan ini merupakan salah satu bagian dari cita-cita UIN Jakarta dan FST dalam menghasilkan riset yang berdampak melalui hilirisasi. Mudah-mudahan dengan launching ini dosen-dosen yang lain juga bisa mengikuti jejak ini sehingga semakin banyak hasil riset yang bisa dimanfaatkan masyarakat," ujarnya.

Ketua Tim Riset Madu Q-uin, Prof. Dr. La Ode Sumarlin, M.Si., memperkenalkan Madu Q-uin sebagai produk yang lahir dari proses penelitian yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

"Hari ini kami meluncurkan merk Madu Q-uin yang merupakan salah satu merk madu yang dihasilkan dari berbagai penelitian yang cukup panjang," katanya.

Tidak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi wadah untuk mempelajari proses hilirisasi hingga komersialisasi produk hasil riset.

"Kita ingin belajar bagaimana proses hilirisasi produk dan diharapkan dari proses hilirisasi ini akan ada proses komersialisasi sebagai bagian dari klaster riset yang berkenaan dengan kolaborasi antara dunia usaha dan dunia industri," ujarnya.

Mitra Kerjasama komersialisasi hasil riset, Dr. Mahani S.P., M. Si., mengungkapkan bahwa produk yang diluncurkan bernama Q-uin, merupakan nama yang mudah diingat, serta berharap produk ini menjadi produk yang terkenal di pasar indonesia.

“Ini produk bermerek Q-uin, nama yang sangat bagus, sangat indah, mudah diingat. Jadi harapan saya dan saya sangat optimis ini produk madu Q-uin akan bisa menjadi salah satu produk yang viral di pasar Indonesia,” katanya.

Melanjut hal itu, ia memaparkan pentingnya menjaga mutu madu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 8664:2024. Menurutnya, standar tersebut menjadi acuan untuk memastikan kualitas sekaligus keaslian produk madu yang beredar di masyarakat.

“Standar untuk madu murni itu memang sudah ada, yaitu di dalam SNI 8664 Tahun 2024. Di situ sudah ada parameter dan persyaratan mutunya. Salah satunya yang paling penting adalah kadar air. Untuk madu, kadar airnya maksimum 22 persen, sedangkan untuk madu trigona maksimum 27 persen,” jelasnya.

Selain kadar air, ia juga menjelaskan bahwa daya hantar listrik juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan keaslian madu.

“Kalau kurang dari 800, itu menjadi indikasi madu tersebut dioplos menggunakan gula. Karena gula itu daya hantar listriknya sangat rendah, sementara kalau madu murni cenderung daya hantar listriknya tinggi. Madu yang murni, tidak dioplos dengan gula, idealnya daya hantar listriknya minimal 800,” ujarnya.

(Nosa Idea/Zaenal M./Fajri Nafisa/Foto: Azka Raysa)

Tag :