Luncurkan Tiga Buku, Prof. Nasaruddin Umar: "Yang Sama Jangan Dipaksa Berbeda, yang Berbeda Jangan Dipaksa Sama"

Luncurkan Tiga Buku, Prof. Nasaruddin Umar: "Yang Sama Jangan Dipaksa Berbeda, yang Berbeda Jangan Dipaksa Sama"

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online - Luncurkan karya hasil pengembangan pemikiran, Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, M.A., hasilkan buku Tafsir Filosofi, Religious Moderation and the Future Challenge of the Ummah, serta penerbitan kembali disertasi tentang kesetaraan gender dalam bahasa Arab dan Inggris. Ketiga buku ini memiliki judul-Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, Pikiran yang Memurnikan dan Artikel dan Opini Pilihan yang diluncurkan di Auditorium Harun Nasution, Kami (16/7/2026).

Sebelumnya, karya Prof. Nasaruddin mengenai disertasi dan penulisan kembali mengenai kesetaraan gender  pernah memperoleh penghargaan dari Rockefeller Foundation dan menjadi salah satu karya yang diakui di tingkat internasional. “Yang saya kira hanya 7 buku tahun itu yang mendapatkan award dari Rockefeller Foundation. Kami diundang bersama 7 orang penulis itu di konsinyering, Bellagio Study Center di Italia,” paparnya.

Melalui karya ini, Prof. Nasaruddin Umar memperkenalkan konsep ekoteologi  sekaligus menegaskan bahwa Islam mengajarkan eksplorasi bukan eksploitasi sebagai pendekatan keagamaan untuk membangun kesadaran menjaga lingkungan. "Tidak mungkin kita bisa menjadi hamba yang baik kalau lingkungan alam ini rusak. Tidak mungkin kita bisa menjadi khalifah yang baik kalau lingkungan alam kita tidak kondusif."

Menyoroti keilmuan ekoteologi, Prof. Nasaruddin mengingatkan bahwa ancaman perubahan iklim telah menimbulkan korban yang jauh lebih besar dibandingkan konflik bersenjata. “Jumlah orang yang meninggal karena climate change menurut PBB mencapai sekitar satu juta orang setiap tahun," ungkapnya.

Tambahnya, Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa corak pemikirannya dituangkan dalam konsep tafsir teosofi, yaitu pendekatan tafsir yang memadukan filsafat, tasawuf, dan kajian Al-Qur'an. Ia juga mempelajari berbagai tradisi spiritual, termasuk Kabbalah Yahudi dan sofisme Hindu, untuk menemukan titik temu nilai-nilai kemanusiaan.

Senada dengan itu, Prof. Nasaruddin Umar menilai hubungan antarumat beragama perlu dibangun di atas kesamaan nilai-nilai universal, bukan hanya sebatas toleransi. Menurutnya, banyak ajaran agama memiliki substansi yang sama meskipun berbeda dalam penyebutan atau nomenklatur. "Yang sama, memiliki persamaan jangan dipaksa untuk berbeda. Yang berbeda itu jangan dipaksa untuk sama. Memaksakan sesuatu yang berbeda untuk sama itu bisa menjadi liberal. Tapi memaksakan yang sama untuk berbeda itu bisa menjadi radikal,” tuturnya.

Di akhir pemaparannya, Prof. Nasaruddin Umar mengajak masyarakat dan sivitas akademika menghidupkan kembali tradisi diskusi akademik di lingkungan UIN Jakarta. Ia mengatakan bahwa, Ciputat memiliki posisi strategis sebagai titik temu pemikiran Islam Timur dan Barat sekaligus berpotensi menjadi pusat lahirnya gagasan-gagasan baru.

Ia optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi episentrum baru peradaban Islam dunia, didukung oleh jumlah penduduk Islam terbesar, dan tingkat kerukunan yang terus meningkat. "Sudah tidak waktunya lagi kita terlalu banyak menunggu dari Timur Tengah. Timur Tengah sudah menyelesaikan tugasnya melahirkan Islam. Estafet kepemimpinan peradaban Islam berikutnya saya harapkan berada di Indonesia." tutupnya.

(Meisa Aqilah/Zaenal M./Alden Lee/Foto: Alfin Ilham)

Tag :