Krisis Regenerasi Petani, Seminar Gantari 2026 Soroti Peran Pemuda dalam Penggerak Keberlanjutan

Krisis Regenerasi Petani, Seminar Gantari 2026 Soroti Peran Pemuda dalam Penggerak Keberlanjutan

Rizki Permata Kezia Dava
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – Dalam rangka memperingati Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional (HANTARU), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Nasional Gantari 2026 dengan mengusung tema “Regenerasi Pemuda sebagai Penggerak Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia”. Kegiatan bertujuan sebagai wadah edukasi bagi para mahasiswa UIN Jakarta dalam merespons krisis regenerasi di sektor pertanian yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, Kamis (24/09/2026).

Kegiatan ini menghadirkan jajaran tokoh nasional dan lintas sektor, di antaranya Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., Panglima Komando Armada Republik Indonesia Laksamana Madya TNI, Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M., CHRM, Direktur Pengadaan Badan Urusan Logistik (BULOG) Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc., dan Guru Besar Program Studi Agribisnis sekaligus Ketua Umum PISPI, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, M.P. Selain itu terdapat Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari, S.P., M.Sc., dan Petani Muda sekaligus Founder Tamara Agro Farm Iqbal Habibie, SP.

Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., membuka acara dengan menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung kedaulatan pangan, khususnya melalui pengembangan riset di Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Ia menilai kampus memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kemandirian pangan.

“Terus berupaya dan mengembangkan inovasi aspek pangan yang lainnya. FST, khususnya dalam kluster Agribisnis yang dikembangkan perlu terus bekerja sama dalam melakukan inovasi, pembinaan. Kita harus terlibat dan andil di dalam kemandirian pangan ini. Indonesia identik atau relevan sebagai daerah yang memang cocok untuk pengembangan pertanian dan juga kemandirian pangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., turut hadir dengan memberikan dorongan agar generasi muda dengan menekankan capaian sektor pertanian nasional yang berhasil mengakselerasi target swasembada pangan dari Presiden hingga memperoleh apresiasi resmi Food and Agriculture Organization (FAO).

“Target Presiden swasembada empat tahun, kita akselerasi berhasil capai dalam durasi satu tahun dan mendapat apresiasi dari FAO. Nilai Tukar Petani (NTP) kita menyentuh angka 129, rekor tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia. Ekspor pertanian naik Rp166 triliun, impor kita tekan, dan cadangan beras siaga El Nino aman. Kita juga tegas menindak lebih dari 100 tersangka penyimpangan sektor pertanian demi keadilan petani, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan 10.000 ton beras ke Palestina,” paparnya.

Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., menambahkan bahwa keberlanjutan dari seluruh capaian dan kedaulatan pangan nasional tersebut berada pada kekuatan karakter serta integritas.

“Sukses itu dibentuk oleh karakter. Karakter adalah pembentuk utama orang sukses. Penentu kesuksesan kalian ada empat yaitu jujur, disiplin, rajin belajar, dan kerja keras. Itu yang paling menentukan,” tambahnya.

Selain itu, dalam memperkuat regenerasi pemuda sebagai penggerak keberlanjutan dan swasembada pangan Indonesia, Seminar Gantari 2026 menampilkan diskusi panel yang bertajuk “Membangun Ekosistem Pertanian sebagai Pilar Ketahanan Nasional”. Panglima Komando Armada Republik Indonesia Laksamana Madya TNI, Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M., CHRM, menekankan pentingnya regenerasi. Menurunya, struktur usia petani yang didominasi kelompok usia lebih tua menjadi tantangan bagi keberlanjutan sektor pertanian. Kondisi tersebut membuat keterlibatan generasi muda menjadi semakin penting.

“Kalau sekarang usia petani sudah 60 tahun, bagaimana dengan 15 tahun yang akan datang? Berarti kan dia akan mencapai usia 75 tahun. Berapa tahun lagi dia punya kesempatan bertani?” ungkapnya.

Dalam penjabarannya, ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan nasional. Ia menambahkan lima peran strategis bagi mahasiswa menjadi inovator pencari solusi, penggerak teknologi, entrepreneur bernilai tambah, penghubung rantai pasok logistik, serta pemimpin berwawasan kebangsaan.

“Inovasi tanpa pasar akan sulit berkembang, teknologi tanpa nilai tambah akan berhenti sebagai alat, kewirausahaan tanpa kepemimpinan dan nilai kebangsaan dapat kehilangan arah. Karena itu, generasi muda harus tumbuh sebagai arsitek pangan yang utuh,” ujarnya.

Semantara itu, dari sisi pasokan dan rantai distribusi, Direktur Pengadaan Perum BULOG, Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc., menjelaskan peran lembaganya sebagai operator pangan nasional yang menjaga ketersediaan maupun keterjangkauan.

“Melalui 1.686 unit gudang serta upaya stabilisasi harga berdasarkan Inpres Nomor 4 Tahun 2026, BULOG berhasil menyerap 3,989 juta ton beras per September 2026 dari target 4 juta ton, dengan total stok cadangan nasional mencapai 4,52 juta ton. Langkah ini diimbangi dengan kepastian harga beli di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kg untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan Rp12.000 per kg untuk beras demi memutus rantai permainan tengkulak,” jelasnya.

Sesi panel berlanjut dengan paparan dari Guru Besar Agribisnis, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, M.P., yang menggarisbawahi pentingnya lima pilar ekosistem pertanian, yaitu reforma agraria, regenerasi petani, kelembagaan lokal berbasis kearifan daerah, pembiayaan yang adil, serta integrasi rantai pasok lokal.

Diskusi panel kedua bertema “From Research to Impact: Implementasi Inovasi Pertanian melalui Kolaborasi Multi Pihak” mempertemukan perspektif riset dan praktisi lapangan. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, S.P., M.Sc., memaparkan bahwa riset tidak boleh berhenti di laboratorium atau sebatas Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ia menjelaskan bahwa BRIN menerapkan strategi penguatan SDM multidisiplin, validasi galur bersama petani hingga program adopsi teknologi pertanian.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium atau sebatas HKI agar tidak masuk ke dalam valley of death. Karena itu, BRIN menerapkan strategi penguatan SDM multidisiplin, validasi galur varietas unggul secara langsung bersama petani, hingga program adopsi teknologi pertanian presisi seperti pemanfaatan sensor dan drone di lapangan,”

Sebagai penutup, Petani Muda sekaligus Founder Tamara Agro Farm Iqbal Habibie, S.P., menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam sektor agribisnis bukan sekadar pilihan profesi, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan kepemimpinan dalam mengawal kedaulatan pangan nasional.

“Sebagai generasi muda dan lulusan Agribisnis yang lahir dari keluarga petani, sudah menjadi kewajiban saya untuk kembali ke daerah dan membangun Indonesia dari sektor pertanian. Kita sebagai Gen Z tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah ancaman krisis pangan,” ungkapnya.

Ia menggarisbawahi bahwa kunci utama keberhasilan pemuda dalam menembus rantai industri agribisnis bukanlah seberapa besar modal lahan atau finansial yang dimiliki, melainkan ketahanan mental kewirausahaan dan keberanian untuk mengeksekusi peluang secara modern.

"Kadang kita terjebak mengeluhkan modal dan lahan, padahal tanpa mental kewirausahaan yang tangguh, semua sumber daya itu akan sia-sia. Begitu mental usahanya terbentuk, teknologi dan inovasi bisa kita kelola untuk memberi nilai tambah. Pertanian masa depan ada di tangan pemuda yang berani bertindak," tutupnya.