Kembali, SPs UIN Jakarta Luluskan Doktor Non-Muslim
UIN Jakarta, Berita UIN Online – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dari beragam latar belakang agama. Sejumlah akademisi non-muslim tercatat menyelesaikan pendidikan doktoral di SPs UIN Jakarta mengungkapkan merasakan langsung pengalaman belajar, berdialog, dan berinteraksi dalam lingkungan akademik perguruan tinggi keagamaan Islam.
Salah satunya Dr. Ivon Rahmani, S.Th., M.Th., lulusan Program Doktor (S3) Pengkajian Islam UIN Jakarta. Berlatar belakang non-muslim, Ivon mengaku tertarik memilih UIN Jakarta karena melihat kampus ini sebagai institusi yang terbuka terhadap dialog keberagaman agama.
“Saya tertarik untuk masuk ke UIN Jakarta mengambil program doktoral karena melihat UIN Jakarta sebagai institusi yang sangat terbuka terhadap dialog keberagaman agama dari berbagai macam denominasi agama yang ada,” ujar Ivon ditemui di sela prosesi Wisuda ke-141, Sabtu (05/09/2026).
Ia mengaku sempat mengalami kecemasan ketika pertama kali menempuh pendidikan di UIN Jakarta. Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan posisinya sebagai mahasiswa non-muslim di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Namun, pengalaman tersebut justru memberikan kesan positif. Ivon merasakan penerimaan dan fasilitas yang baik selama menjalani pendidikan.
“Awalnya mengalami tantangan dan ada sedikit kecemasan apakah saya diterima atau tidak. Tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata kampus UIN Jakarta menerima saya dengan sangat terbuka dan sangat baik,” tuturnya.
Menurut Ivon, pengalaman belajar di lingkungan yang berbeda memberikan perspektif baru bahwa proses pendidikan tidak harus berlangsung di ruang yang sama dan familier.
“Kita tidak perlu hanya belajar di ruang yang sama, yang familier, atau dengan latar belakang yang sama. Kita bisa belajar di mana pun, termasuk di lingkungan yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan kita,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Ivon berharap UIN Jakarta terus membuka kesempatan yang luas bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk non-muslim. Ia juga berharap UIN Jakarta memperbanyak kerja sama dengan institusi pendidikan berbasis agama lain.
“Pastinya saya mengharapkan UIN Jakarta terus membuka kesempatan yang selebar-lebarnya dan seluas-luasnya bagi mahasiswa non-muslim,” ujarnya.
Sebelumnya, beberapa akademisi non-muslim telah lulus dari SPs UIN Jakarta. Salah Satunya, Dr. Bara Izzat Wiwah Handaru, S.Th., M.Th. Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Kalvari Jakarta ini menyelesaikan pendidikan doktoralnya di SPs UIN Jakarta tahun lalu, Selasa (13/06/2023).
Bagi Bara, studi doktoral di UIN Jakarta tidak hanya memperluas wawasan akademiknya, tetapi juga menjadi pengalaman hidup yang memperkaya pemahamannya mengenai pendidikan dan agama.
Bara sendiri menamatkan pendidikan doktoralnya setelah berhasil mempertahankan disertasi berjudul (Respons Umat Kristen dalam Izin Pendirian Rumah Ibadah) Komunikasi Regulasi dalam Kehidupan Beragama di Indonesia. Ia meraih gelar doktor Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi (FDIKOM) dengan predikat sangat memuaskan dan mendapatkan IPK 3,65.
Sebagai mahasiswa Kristen, Bara mengakui adanya tantangan ketika harus menjalani cross cultural studies, yakni mempelajari ilmu sekaligus berinteraksi dalam lingkungan sosial dengan latar belakang agama yang berbeda.
“Saya belajar ilmu yang berbeda— lintas agama, dan terlibat dengan lingkungan sosial agama yang berbeda pula,” katanya.
Pada awalnya, Bara sempat merasa takut dan pesimis karena berada dalam posisi minoritas. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
Ia menyebut budaya kampus UIN Jakarta dengan nilai “Knowledge, Piety, Integrity” membuatnya merasa nyaman dalam menyelesaikan studi. Suasana akademik yang mendorong dialog antarmahasiswa dan sikap saling menghormati juga dinilainya mampu menciptakan lingkungan yang inklusif dan terbuka.
Bara juga mengapresiasi interaksi dengan pimpinan dan staf SPs UIN Jakarta yang menurutnya berlangsung hangat. Ia merasakan kepedulian terhadap kemajuan mahasiswa, termasuk kesediaan memberikan arahan dan saran terkait kebutuhan akademik maupun operasional perkuliahan.
Sebelum Ivon dan Bara, Dr. Gregorius Soetomo, SJ, seorang Pastor Katolik juga berhasil menempuh pendidikan Program Doktor di SPs UIN Jakarta. Gregorius menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu dua tahun dengan mempertahankan disertasinya pada Rabu, (24/05/2017). Selama kuliah, ungkapnya, banyak hal yang diperolehnya selama belajar di SPs UIN Jakarta, tidak hanya dalam bidang akademik.
“Tentunya saya banyak belajar di sini, tidak hanya tentang akademik. Saya bertemu dengan teman-teman baru, guru-guru yang hebat dan pelajaran hidup,” ungkapnya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat dibawa kepada jemaatnya untuk turut membangun relasi Islam-Kristen yang lebih baik.
Dalam sidang doktoralnya, Gregorius mempertahankan disertasi berjudul Bahasa, Kekuasaan dan Sejarah: Historiografi Islam Marshall G.S. Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault.
Sidang tersebut dihadiri sejumlah akademisi, antara lain Ketua Sidang Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Prof. Dr. Sukron Kamil, Prof. Dr. Sastrapratedja, Prof. Dr. Didin Saepudin, serta Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Prof. Dr. Iik Arifin Mansurnoor sebagai promotor sekaligus penguji.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Azyumardi Azra menyebut Gregorius sebagai representasi relasi Muslim-Katolik yang harmonis. Menurutnya, dialog dengan berbagai kelompok yang berbeda menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan bersama yang damai.
Pengalaman para doktor non-muslim tersebut menunjukkan bahwa SPs UIN Jakarta tidak hanya menjadi ruang untuk pengembangan keilmuan, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya.
Ivon merangkum pengalamannya selama belajar di UIN Jakarta dalam tiga kata yaitu inklusif, transformatif, dan memperkaya. Inklusif karena UIN Jakarta memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari berbagai latar belakang agama untuk belajar.
Selain itu, transformatif karena proses pendidikan memberikan perspektif dan pemahaman baru. Sementara memperkaya karena mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman berdialog dan berdiskusi dengan para pakar.
Pengalaman Ivon, Bara, dan Gregorius memperlihatkan bahwa ruang akademik UIN Jakarta dapat menjadi tempat bertemunya perbedaan dalam semangat saling belajar dan menghormati. Pendidikan doktoral tidak hanya memperkuat kapasitas keilmuan, tetapi juga membuka ruang dialog lintas agama yang dapat berkontribusi pada penguatan hubungan antarumat beragama di Indonesia.
