Ini Jejak 30 Tahun Yuniyanti Chuzaifah Membela Perempuan, Menjadi Suara bagi yang Tak Terdengar!

Ini Jejak 30 Tahun Yuniyanti Chuzaifah Membela Perempuan, Menjadi Suara bagi yang Tak Terdengar!

Jakarta, Berita UIN Online - Yuniyanti Chuzaifah, alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Filsafat kini sebagai aktivis isu Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak yang keterlibatannya pernah menjadi Ketua Komnas Perempuan menggambarkan teguh prinsip yang dipegang untuk membela kesetaraan gender dan perlindungan anak.

Yuni yang tidak berhenti pada predikatnya sebagai Ketua Komnas Perempuan, setelah purna baktinya ia aktif menjadi aktivisme, konsultan, menulis di berbagai media termasuk Kompas dan The Jakarta Post. Tidak luput dari perhatian masyarakat dengan pengalaman lapangan dalam membela perempuan, Yuni kerap diundang menjadi pembicara di berbagai platform.

Ditemui Berita UIN Online pada ajang IKALUIN Award 2026, Yuni menyatakan keseriusannya dalam isu kesetaraan gender. Ia mengungkapkan bahwa, persoalan ketidaksetaraan gender di Indonesia menjadi masalah yang semakin kompleks, melalui pengalaman turun lapangannya, Yuni menyaksikan bahwa ia seringkali bertemu dengan kondisi perempuan yang buruk. 

“Bahkan sekarang kekerasan yang paling ekstrim ada femicide yaitu pembunuhan terhadap perempuan yang paling ekstrem, belum lagi kalau kita lihat di wilayah-wilayah pelosok mengenai isu yang paling dasar seperti air bersih yang tidak ada sehingga saya menyaksikan sendiri bagaimana ada perempuan-perempuan yang ke Puskesmas mengalami kekeringan air sampai di permukaan kulitnya ada sakit cacing dan lain sebagainya,” jelasnya.

Akrab dengan isu feminisme, Hak Asasi Manusia (HAM), pengelolaan negara dan pandangan ulama, Yuni berikan tanggapannya kepada negara mengenai sistem pengelolaan yang membutuhkan reformasi cukup serius.

“Jadi menurut saya ada satu persoalan yang terjadi di alami masyarakat, selebihnya adalah soal pengelolaan negara yang menurut saya perlu reformasi yang cukup serius,” tegasnya.

Lebih lanjut, isu gender bukan sekedar hal yang ornamental atau pencitraan tetapi, lebih jauh memahami, gerakan pembelaan untuk menanggapi isu gender memberikan ruang kebebasan sipil terhadap perempuan, siswa, mahasiswa pembela HAM yang bersuara. Masalah lainnya yakni kenyataan yang tidak bisa ditutupi yakni semakin sempitnya wadah bersuara mahasiswa.

“Ini semua ada unsur pencabutan hak asasi gitu ya,” tuturnya.

Sebagai alumni UIN Jakarta, Yuniyanti Chuzaifah melirik posisi mahasiswa yang menurutnya posisi mahasiswa mengambil andil yang cukup besar, termasuk peran, tokoh agama dan masyarakat dalam mereformasi cara pandang menjadi lebih berperspektif hak asasi.

Menyoroti institusi Islami, lembaga agama menjadi perhatian masyarakat bahwa institusi agama tidak berhenti pada mengamati saja, namun menjadi bagian penting untuk merespon isu yang nyata dihadapi oleh masyarakat.

“Terutama kekerasan, kita lihat kekerasan di pesantren bahkan juga di lembaga agama lain, kita juga melihat bagaimana isu ketidakadilan atau isu perubahan iklim yang akan berdampak kepada perempuan juga banyak isu-isu lain yang menurut saya perlu direspon,” tambahnya.

Dalam hal ini, UIN Jakarta sebagai salah satu institusi Islam berhak ikut menyuarakan dan mendukung segala keadilan pada HAM dan isu kesetaraan gender dan perlindungan anak. Yuni mengajak dan menghimbau untuk memegang peran penting, memimpin dan mengarahkan berbagai kelompok kepada pembelaan yang benar.

“UIN memegang peran penting karena secara paradigmatik dia menjadi produser pengetahuan yang melahirkan para leader di komunitas maupun di lembaga negara,” tegasnya. 

Persembahan IKALUIN Award 2026 kepada Yuniyanti Chuzaifah pada kategori isu "Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak" memberikan pesan besar kepada masyarakat.

“IKALUIN award ini bukan sekedar pemberian ataupun penghargaan simbolik tetapi sebuah pesan besar bahwa ada alarm isu kesetaraan gender yang masih sangat samar dan perlu komitmen yang lebih serius,” tutupnya.

Dikenal sebagai aktivis, Yuni menjajah sepanjang 30 tahun pada kategori ini, ia aktif di berbagai pergerakan pembelaan perempuan dan HAM, seperti Gerakan Perempuan, Solidaritas Perempuan, Search for Common Ground untuk merintis Women's Peace Network juga mendampingi Asian Muslim Action Network. Melalui jaringan UIN Jakarta, Yuni juga memiliki pengalaman menjadi gender advisor dengan dukungan dari McGill Canada.

(Meisa/Zaenal/Arifin/Foto: Tiara Abdhie)