Idul Fitri dan Asa Indonesia Maju
Ahmad Tholabi Kharlie
Idul Fitri menjadi rangkaian tak terpisahkan dari ritual puasa Ramadan selama satu bulan lamanya. Ibarat hukum kausalitas, Ramadan menjadi sebab adanya Idul Fitri. Ia hadir setelah pelaksanaan ibadah puasa Ramadan dengan pelbagai atribut adiluhung yang dilekatkan kepadanya, seperti bulan penuh rahmat (rahmah), bulan penuh ampunan (maghifrah), serta bulan pembebas dari api neraka ('itq min al-nar).
Meski secara esensial, Idul Fitri yang secara etimologis berarti kembali suci itu, tak secara otomatis didapat oleh seorang hamba yang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Nabi Muhammad melalui haditsnya membuat disclaimer bahwa tak sedikit orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata. Artinya, derajat taqwa bukanlah taken for granted, turun dari langit, namun harus diikhtiarkan secara konsisten dan berkelanjutan.
Alih-alih kembali ke jatidiri seorang hamba, tak sedikit di antara kita terjebak pada aspek prosedur puasa semata. Derajat tinggi seorang hamba berupa muttaqin tak diraih secara optimal. Hal esensial berpuasa yakni manifestasi untuk mendekatkan diri pada Allah (taqarrub ila Allah), tak dilakukan secara sungguh-sungguh.
Idul Fitri sebagai rangkaian tak terpisahkan dari ibadah puasa Ramadan mesti dimanifestasikan melalui lahirnya kebaikan di ruang publik. Melalui idul Fitri secara organik melakukan detoksifikasi terhadap hal-hal yang keluar dari mistar agama yang luhur. Toksik yang bersemanyam pada ruang privat maupun ruang publik, secara sistemik dapat diminimalisir bahkan dibuang, inilah esensi dari kembali ke fitri (id al-fitr).
Transformasi puasa
Spirit puasa sebagai instrumen untuk mendekatkan diri pada ilahi sejatinya tak terbatas pada linimasa selama bulan Ramadan saja. Spirit mendekatkan diri pada ilahi dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus. Di situlah derajat muttaqien diraih oleh seorang hamba.
Sayangnya, tak sedikit dari kita, sadar atau tanpa sadar, memaknai ramadan sebagai bulan penuh berkah terbatas pada waktu Ramadan saat berlangsung saja. Akibatnya, perilaku baik dilakukan secara optimal hanya dilakukan selama Ramadan saja. Selepas ramadan, kembali pada kebiasaan sebelumnya. Muncul disparitas kebaikan saat Ramadan dan bulan di luar Ramadan. Padahal, atribusi Ramadan sebagai bulan berkah mestinya dijadikan momentum untuk penempaan lahir batin sebagai modal dalam menjalani kehidupan di bulan lainnya selain Ramadan.
Bahkan, logika investasi kerap digunakan untuk memaknai Ramadan dengan mengumpulkan pahala yang dilipatgandakan dengan anggapan memiliki simpanan tabungan kebaikan setelah Ramadan. Tentu, ini pikiran yang salah kaprah. Akibatnya, selepas Ramadan, perilaku kita kembali pada setelan awal; berbuat baik sekadarnya dan menormalisasi pelanggaran moral baik di ruang privat maupun publik.
Pada poin inilah, spirit puasa Ramadan mestinya senantiasa ditransformasi secara berkelanjutan. Ragam ritual yang dilakukan selama Ramadan tidak berhenti selepas Ramadan. Kebiasaan baik tersebut pada titik yang ideal membentuk sistem imunitas pada diri. Setiap akan melakukan tindakan yang keluar batas, secara otomatis memunculkan respons pengendalian diri. Jika ini dilakukan, maka hakikat sebagai muttaqin dapat diraih oleh seorang hamba.
Kesalehan individu yang diraih setelah menjalani ritual selama bulan Ramadan secara determinan akan berdimensi sosial yang lebih luas. Apalagi, ibadah puasa Ramadan selain berdimensi individu melalui sejumlah amalan yang sifatnya privat antara seorang hamba dengan Tuhannya yang sifatnya vertikal, di saat bersamaan ibadah puasa Ramadan juga memiliki dimensi horizontal seperti zakat, infaq, dan sedekah (ZIS).
Kebaikan yang berdimensi vertikal dan horizontal selama Ramadan ini akan menjadi modal sosial yang besar bagi lahirnya tatanan kehidupan sosial yang lebih baik. Tempaan selama ramadan melalui serangkaian ritual keagamaan yang berada dalam ranah privat maupun publik, akan melahirkan sikap resiliensi individu maupun sosial. Sikap yang melahirkan keteguhan dan konsistensi dalam menghadapi situasi apapun.
Situasi ini akan menjadi kekuatan penting dalam menghadapi kompleksitas persoalan sosial kemsyarakatan. Ibadah puasa dan ragam ritual selama Ramadan secara determinan melahirkan individu yang otentik dan berdampak pada kehidupan sosial kemasyarakatan bahkan kenegaraan. Hal ini tidak terlepas keberadaan negara yang memberi jaminan atas pelaksanaan keyakinan agama dan kepercayaan. Sikap ini menjadi mandat konstitusi yang harus dijalankan oleh negara.
Indonesia maju
Idulfitri tak sekadar diwujudkan dalam bentuk perayaan khas yang beririsan dengan tradisi di tiap daerah bahkan negara-negara di dunia. Kemeriahan tersebut tentu baik sebagai ekspresi persenyawaan (chemistry) antara ajaran agama dengan tradisi yang saling mendukung satu dengan lainnya.
Namun di luar soal perayaan yang bernuansa seremoni, memaknai idulfitri secara esensial tak kalah penting sebagai mekanisme untuk menghadirkan ruang privat dan ruang publik menjadi lebih baik. Penempaan selama Ramadan dengan pelbagai ritual baik berdimensi vertikal maupun horizontal, menjadi modal penting ruang kebaikan yang memberi kebermanfaatan di ruang publik.
Puasa Ramadan yang mengajarkan sikap menahan diri (imsak) untuk melakukan hal yang mengurangi dan merusak nilai ibadah selama Ramadan menjadi titik tekan penting. Individu yang telah menjalani ibadah puasa Ramadan akan menahan diri untuk melakukan tindakan yang dilarang oleh norma agama dan norma hukum secara bersamaan.
Sikap tersebut jika bersemayam di sanubari setiap individu tentu akan berdampak besar pada tatanan sosial yang berdimensi luas. Sikap ini jika bersemayam pada individu yang mendapat otoritas kewenangan di ruang publik baik korporasi maupun negara, akan memberi dampak besar bagi peningkatan performa institusi.
Puasa Ramadan juga memberi pesan soal ketundukan seorang hamba terhadap perintah Tuhannya tanpa syarat sebagai bentuk komitmen moral seorang hamba dalam menjalankan perintahnya seraya menjauhi pelbagai larangannya. Perintah Tuhan memberi pesan tentang kebaikan yang berdimensi individu dan publik. Sedangkan larangan Tuhan memberi pesan tentang kerusakan dan keburukan yang akan muncul jika larangan tersebut dilakukan yang berdampak pada inidividu maupun publik.
Kebaikan yang terdapat di unit paling kecil dalam kehidupan sosial yakni keluarga menjadi perhatian dalam Islam. Seruan Tuhan agar setiap individu menjaga keluarga dari ancaman api neraka memberi pesan tentang supremasi moral dimulai dari unit terkecil yakni keluarga. Moralitas keluarga akan berdampak menjadi kekuatan penting dalam membangun ruang publik yang didasari pada nilai kebaikan. Kesalehan individu secara linier mestinya turut melahirkan individu yang juga bermoral.
Pandangan kontemplatif Mustafa Akyol dalam Reopening Muslim Minds, A Return to Reason, Freedom, and Tolerance (2022) yang menyebutkan kelompok agama bukannya tak cukup saleh dalam amaliah religiusnya, namun kesalehan tersebut tak menjadikan individu yang bermoral. Pesan ini patut menjadi renungan kita bersama.
Potret yang mengemuka di ruang publik kita belakangan ini patut menjadi renungan bersama dengan menyandingkan spirit Ramadan dan Idul Fitri secara bersamaan. Ragam persoalan sosial yang mengemuka secara demonstratif baik yang berada di ranah publik masyarakat maupun di lembaga publik yang merepresentasikan negara secara teoritis akan menjadi lebih baik pasca pelaksanaan Ramadan dan Idul Fitri.
Semestinya, pasca puasa Ramadan dan Idul Fitri, praktik korupsi dan sikap curang dapat ditekan bahkan dihilangkan dalam penyelenggaraan negara. Pengambilan keputusan yang berdampak publik dilakukan dengan spirit musyawarah (syura) dengan memanggungkan ruang deliberasi secara optimal. Secara normatif, Ramadan dan Idul Fitri memberi asa "Indonesia Maju".
Bila selepas Ramadan dan Idul Fitri lelaku kita masih lancung dan ruang publik kita masih mementaskan tindakan yang menyimpang dari nilai moral, kita patut untuk memeriksa puasa Ramadan dan ragam amalan, jangan-jangan terjebak pada lelaku prosedural dan menjauh dari substansi luhur puasa itu sendiri. Kembali ke fitri harus senantiasa kita ikhtiarkan.
Artikel ini ditulis oleh Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie yang rilis di Detik.com, 31 Maret 2025. Artikel dapat diakses di sini.