Halalbihalal UIN Jakarta: Gus Faiz Tekankan Perbedaan Inti Agama dan Instrumen Budaya di Era Modern
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, K.H. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., M.A. dikenal Gus Faiz, menjelaskan pentingnya bagi sivitas akademika untuk memiliki kemampuan dalam membedakan inti ajaran agama (ushul) dengan instrumen atau alat keagamaan. Pesan tersebut disampaikan dalam Halalbihalal yang diselenggarakan di Auditorium Harun Nasution, Rabu (8/4/2026).
Hadis ‘Salak’ dan Kearifan Budaya
Gus Faiz berbagi cerita jenaka namun sarat makna saat ia berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Ia sempat tertegun melihat ornamen buah salak di depan masjid. Kebingungannya terjawab lewat penjelasan seorang penjaga masjid yang menyebut ornamen itu sebagai "Hadis Salak".
"Ternyata, itu kode untuk hadis Man salaka thariqan yaltamisu fiihi 'ilman (siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu). Orang Jawa 400 tahun lalu mungkin sulit menghafal teks Arabnya, tapi begitu melihat salak, mereka ingat kewajiban mengaji," ujarnya.
Simbol seperti pintu rendah yang memaksa orang menunduk (tawadhu) atau ornamen makanan, adalah instrumen yang memudahkan masyarakat memahami esensi agama tanpa harus terjebak dalam perdebatan teks yang rumit.
Berdakwah Lewat ‘Kitab Manchester’ dan Tom & Jerry
Menghadapi Gen Z, Gus Faiz menekankan pentingnya improvisasi. Ia bercerita bagaimana ia memotivasi siswa SMA menggunakan drama kemenangan dramatis Manchester United di final Liga Champions 1999.
"Kalau saya pakai kitab Ihya, mungkin lama masuknya. Tapi lewat 'Kitab Manchester', mereka paham bahwa tiga menit bisa mengubah takdir, dan itulah mengapa agama melarang kita berputus asa," jelasnya.
Bahkan, ia tak ragu menggunakan potongan film Tom and Jerry untuk menjelaskan hadis tentang bahaya kezaliman kepada anak-anak sekolah dasar.
Membedakan Agama dan Instrumen Keagamaan
Gus Faiz juga mengajak sivitas akademika UIN Jakarta untuk lebih jeli membedakan mana yang merupakan inti agama dan mana yang hanyalah instrumen. Ia mencontohkan perdebatan antara siwak dan sikat gigi, hingga unta dan kendaraan modern.
"Siwak itu alat, tujuannya adalah kebersihan mulut. Seandainya Rasulullah hidup hari ini, mungkin beliau menggunakan Alphard sebagai ganti unta, karena unta adalah 'Alphard' pada zamannya. Jangan sampai kita ribut soal alat, tapi lupa pada target atau esensi ajaran itu sendiri," tegasnya.
Pesan untuk UIN Jakarta
Sebagai penutup, Gus Faiz menaruh harapan besar agar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tetap menjadi menara ilmu yang mampu berdialog dengan zaman. Ia meminta para mahasiswa dan dosen untuk terus melakukan kajian keislaman yang menenangkan, yang mampu membedakan antara yang permanen (ushul) dan yang fleksibel (instrumen).
"Mari kita bangun agama ini dengan kemudahan, memudahkan orang dalam menjalankan dan memahami ajaran agama, selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok syariat," pungkasnya.
(Amanda Fathiyah Azizah/Fauziah M./Zaenal M./Fajri Nafisa/Foto: Azka Raysa Pratama, Rajif Ramadhan)
