Hadiri Pengukuhan Guru Besar UIN Jakarta, Menag Dorong Kembalikan Kejayaan Keilmuan Ciputat

Hadiri Pengukuhan Guru Besar UIN Jakarta, Menag Dorong Kembalikan Kejayaan Keilmuan Ciputat

Muainun Mubin Kezia Dava
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., mendorong UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk terus memperkuat perannya sebagai produsen ilmu pengetahuan global sekaligus mengembalikan kejayaan Ciputat sebagai pusat perjumpaan pemikiran dan pembaharuan Islam. Pesan tersebut disampaikan Prof. Nasaruddin dalam Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, Rabu (30/09/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. K.H. Abdul Mu'ti, M.Ed., Menteri Agama RI Periode 2014–2019 Dr. H. Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Senat UIN Jakarta Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, M.A., Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., perwakilan Kapolri, para pimpinan perguruan tinggi sahabat, jajaran Wakil Rektor, Senat Universitas, serta keluarga besar para guru besar yang dikukuhkan. Dalam sambutannya, Menag mengungkapkan bahwa bertambahnya 13 guru besar baru harus menjadi pendorong utama UIN Jakarta untuk merebut kembali posisinya di panggung keilmuan internasional. Ia mengenang bagaimana Ciputat di masa lalu menjadi simbol perjumpaan keilmuan Islam dari Timur dan Barat (al-masyriq wal-maghrib). “Kehadiran 13 guru besar baru ini kita harapkan dapat mengembalikan 'Mitos Ciputat'. Dahulu, jika orang berbicara tentang Islam dan pembaharuan, referensinya adalah Ciputat. Sudah seharusnya kita menjadi produsen ilmu pengetahuan, tidak lagi hanya menjadi konsumen,” ujarnya. Selain menyoroti histori keilmuan UIN Jakarta, Menag menekankan pentingnya lembaga pendidikan tinggi keagamaan untuk merespons tantangan zaman, mulai dari pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) hingga krisis iklim global. Menurutnya, kemajuan teknologi mutakhir seperti Artificial Super Intelligence (ASI) membutuhkan landasan moral dan etik yang kuat agar tidak menjadi ancaman bagi kemanusiaan. Terkait isu lingkungan, Menag memaparkan data bahwa dampak perubahan iklim saat ini jauh lebih mematikan daripada konflik bersenjata. Kondisi tersebut menuntut adanya terobosan pemikiran hukum Islam (fikih) yang progresif dari akademisi UIN Jakarta. “Dharuriyat al khamsah (lima prinsip dasar hukum Islam) sudah saatnya kita tambah satu lagi, yaitu ad-dharuriyah al-hifdh 'alal bi'ah atau menjaga lingkungan. Daya pemusnah akibat kerusakan lingkungan jauh lebih besar jika dibandingkan isu lainnya,” tegasnya. Lebih lanjut, Prof. Nasaruddin juga mengajak para ilmuwan dan akademisi UIN Jakarta untuk lebih mendalami kajian sains berbasis Al-Qur'an. Ia berharap integrasi keilmuan di UIN Jakarta mampu melahirkan temuan-temuan ilmiah baru yang diakui dunia internasional, sebagaimana yang pernah dicapai oleh ilmuwan Muslim klasik seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi. Mengakhiri sambutannya, Menag berpesan agar UIN Jakarta tidak sekadar berfokus pada pemeringkatan perguruan tinggi, melainkan pada kualitas kontribusi ilmiah yang dihasilkan bagi peradaban. “Sudah saatnya kita melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Tidak perlu hanya mengejar ranking, tetapi bagaimana memproduksi pengetahuan baru yang dapat dikonsumsi oleh dunia internasional,” pungkas Menag

Tonton siaran ulang Orasi Ilmiah dan Sidang Senat Terbuka Pengukuhan 13 Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selengkapnya melalui kanal YouTube resmi pada link berikut: