Hadir di UIN Jakarta, Putri Jenderal Ahmad Yani Bagikan Kesaksian Sejarah dan Warisan Literasi
Ruang Diorama, Berita UIN Online – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkolaborasi dengan Yayasan Panata Dipantara, serta komunitas Nahdlatul Ulama (NU) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Refleksi Sejarah G30S/PKI: Meneguhkan Kesadaran Kebangsaan dan Ketahanan Ideologi Nasional” di Ruang Diorama, Jumat (02/10/2026).
Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, M.H., M.A., serta Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Prof. Ali Munhanif, Ph.D.. Acara tersebut juga menghadirkan deretan narasumber utama, diantaranya Ketua Yayasan Panata Dipantara K.H. Adnan Anwar, Penulis Buku Putih Benturan NU dan PKI, K.H. Abdul Mun’im DZ, serta Putri ketiga almarhum Jenderal Ahmad Yani, Ibu Amelia Ahmad Yani.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Jakarta, Profesor Asep menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kolaborasi antara UIN Jakarta, Yayasan Panata Dipantara, dan komunitas NU. Menurut Rektor Asep, pemahaman sejarah yang utuh merupakan pondasi utama dalam membangun ketahanan ideologi mahasiswa.
“Poin penting dari kekokohan dan kebanggaan diri adalah mengenal sejarah, belajar dari sejarah, dan cerdas dalam memahami sejarah. Tanpa itu, kita tidak punya pegangan apa pun,” ujarnya.
Rektor juga mengingatkan para mahasiswa agar tidak melupakan figur pahlawan bangsa seperti Pangeran Diponegoro, K.H. Ahmad Dahlan, hingga B.J. Habibie. Pemahaman sejarah berfungsi untuk menyaring nilai-nilai positif demi menjaga keutuhan NKRI.
“Mana yang baik kita ambil sebagai poin kekokohan diri, dan mana yang kurang baik tentu kita jadikan pelajaran untuk ditinggalkan. Yang penting, kita tetap mempertahankan negeri ini dengan keragaman dan kesatuan,” pungkasnya.
Ketua Yayasan Panata Dipantara, K.H. Adnan Anwar menjelaskan bahwa diskursus ini diinisiasi rutin oleh komunitas NU untuk merespons dinamika sejarah dan memberikan edukasi sejarah yang benar kepada generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha.
Ia menyoroti munculnya kecenderungan pembacaan sejarah secara ahistoris yang berpotensi memutarbalikkan fakta peristiwa 1965.
“Fenomena hari ini sering dibaca secara ahistoris. Pelaku seolah-olah dicitrakan sebagai korban, sementara korban justru dianggap sebagai pelaku,” ungkapnya.
Menurut K.H. Adnan Anwar, kehadiran keluarga korban Pahlawan Revolusi dalam diskusi ini sangat penting guna menyampaikan kronologi nyata peristiwa dari sudut pandang korban, sehingga sejarah tidak dikaburkan oleh framing propaganda.
Penulis “Buku Putih Benturan NU dan PKI 1948–1965”, K.H. Abdul Mun’im DZ mengulas secara mendalam sisi historis gerakan PKI. Menurutnya, PKI masa lalu bertumpu kuat pada strategi propaganda media dan pembentukan opini publik ketimbang kekuatan pertahanan fisik semata.
Ia juga menggarisbawahi bahwa perlawanan NU dan TNI terhadap gerakan komunis pada masa itu merupakan langkah pertahanan diri untuk menyelamatkan ideologi negara.
“PKI itu sangat lihai bermain di isu dan propaganda media. Generasi muda tidak boleh terkecoh oleh pembentukan opini yang mengabaikan latar belakang serta prolog dan epilog sejarah,” tuturnya.
Kiai Mun’im mengimbau civitas akademika untuk terus mengawal kelurusan narasi sejarah bangsa agar tidak terjadi kebingungan di tingkat akademis maupun masyarakat luas. “Kemenangan atas gerakan tersebut adalah kemenangan Pancasila yang harus terus kita jaga dan syukuri bersama,” pungkasnya.
Kesaksian mendalam disampaikan oleh Putri ketiga almarhum Jenderal Ahmad Yani, Ibu Amalia Ahmad Yani. Ia membagikan rekam jejak batinnya dalam melewati masa-masa sulit pasca-peristiwa kelam 1965 hingga usahanya memulihkan diri melalui jalur literasi.
Ia mengungkapkan bahwa proses penyembuhan luka sejarah tidak datang dari luar, melainkan dari kedamaian batin dan keberanian untuk mendokumentasikan kebenaran lewat karya tulis.
“Banyak pengalaman pahit yang saya alami, tetapi yang bisa menyembuhkan luka sejarah itu adalah diri kita sendiri. Bagi saya, peninggalan dan aset terbesar adalah buku-buku catatan sejarah,” tuturnya.
Ia berharap delapan buku sejarah yang telah ditulisnya dapat terus dibaca dan dijadikan rujukan literasi oleh generasi muda dalam memahami perjuangan para pahlawan bangsa.
Kegiatan FGD ini turut dihadiri oleh deretan tokoh, ulama, dan akademisi, antara lain Putra ke-8 almarhum Jenderal Ahmad Yani Pak Edi, Tokoh Muda NU Gus Irfan Awaluddin, Ulama NU K.H. Hariri Makmun, Kiai NU Banyuwangi K.H. Mansyur, Ahli Nuklir BRIN, Prof. Dr. Ir. KH. Atik Bintoro, M.T., APU, Ketua PCNU Tangerang Selatan, K.H. Abdullah Mas'ud, serta perwakilan PTIQ Jakarta, K.H. Abdurrosyid. Acara diakhiri dengan pemutaran dokumentasi sejarah dan diskusi interaktif bersama mahasiswa UIN Jakarta.
