Generasi tanpa Regenerasi

Generasi tanpa Regenerasi

Tantan Hermansah
Pengajar Sosiologi Perkotaan di UIN Jakarta

Dunia sedang menua dalam kesunyian yang mencekam. Jika kita dengan teliti membedah data global saat ini, kemanusiaan tengah memasuki sebuah fase yang disebut sebagai era “Below Replacement”.

Ini merupakan sebuah fenomena eksistensial di mana angka fertilitas global menurun secara drastis. 

Pada dekade 1960-an, setiap perempuan di dunia rata-rata memiliki lima anak. Namun hari ini, angka tersebut menyusut tajam ke kisaran 2,1 hingga 2,3 saja.

Padahal, dalam konsensus teori demografi, replacement level atau ambang batas minimal untuk menjaga keberlangsungan populasi agar tidak punah harus berada di angka 2,1 anak per perempuan.

Selain itu realitas sosiologis menyodorkan fakta yang jauh lebih mengerikan. Lebih dari separuh negara di dunia saat ini mencatatkan jumlah kelahiran yang berada jauh di bawah ambang batas tersebut.

Bahkan, beberapa prediksi menyebutkan bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, dua pertiga populasi dunia akan hidup dalam realitas fertilitas di bawah replacement level. 

Di negara-negara maju, situasinya kian mengganggu akal sehat; angka fertilitas hanya menyentuh rata-rata 1,5.

Tentu kita tidak sedang membicarakan penurunan musiman, melainkan sebuah pergeseran struktural global yang akan mengubah wajah peradaban kita selamanya, sekaligus tantangan yang harus kita pikirkan lebih dini.

Bom Waktu dalam Tatanan Keluarga

Wajar jika muncul prediksi kelam bahwa pada tahun 2080, jumlah lansia akan melampaui jumlah anak-anak.

Secara dialektis, ini berarti kita sedang menuju pada suatu kondisi di mana setiap orang yang menua dan wafat tidak lagi memiliki penggantinya.

Lalu, apa dampaknya secara sosial, ekonomi, dan politik? Fenomena ini adalah apa yang kita sebut sebagai demographic time bomb atau bom waktu demografi.

Ketika beban fiskal negara terus meningkat untuk membiayai populasi lansia yang membengkak, sementara jumlah tenaga kerja produktif justru semakin sedikit, maka pertumbuhan ekonomi dipastikan akan melambat.

Kita harus menyadari bahwa percepatan ekonomi sangat bergantung pada suplai usia produktif yang mampu mengisi ruang-ruang kerja. Tanpa regenerasi, mesin pertumbuhan itu akan terancam macet total. 

Namun, di tengah situasi ini, pandangan seringkali diarahkan kepada satu kelompok, yakni Gen-Z yang dianggap enggan memiliki keturunan.

Narasi yang menyebutkan bahwa Gen Z adalah entitas yang malas memiliki anak sebetulnya tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung dangkal.

Keputusan mereka untuk tidak memiliki keturunan bukanlah lahir begitu saja atau sekadar egoisme gaya hidup. Sebaliknya, hal itu merupakan hasil dari sejumlah pilihan rasional yang telah mereka perhitungkan secara matang di tengah himpitan realitas.

Ada faktor identifikasi yang kuat mengapa entitas ini enggan memiliki anak. Biaya hidup yang semakin tinggi, harga properti yang kian tak terjangkau membuat mereka kesulitan untuk sekadar memiliki tempat tinggal tetap.

Bagaimana mungkin membayangkan membesarkan anak dalam sebuah rumah yang statusnya berpindah-pindah atau dalam kontrakan yang mencekik? Lebih jauh lagi, struktur gig economy—seperti yang telah dibahas dalam artikel saya sebelumnya—kian membesar namun sekaligus menciptakan ketidakpastian kesejahteraan.

Dalam ekosistem kerja yang serba tidak pasti, tanpa jaminan hari tua dan jaminan kesehatan yang mapan, membesarkan anak dianggap sebagai risiko finansial yang sangat tinggi. 

Di sinilah terjadi pergeseran cara pandang dari family formation (pembentukan keluarga) menuju individual optimization (optimalisasi diri). Gen Z lebih memilih memastikan diri mereka selamat terlebih dahulu di tengah badai ekonomi ketimbang menghadirkan nyawa baru yang berpotensi ikut tenggelam bersama mereka.

Krisis Reproduksi Sosial

Secara sosiologis, fenomena ini merepresentasikan sebuah krisis reproduksi sosial yang akut. Jika kita menggunakan kerangka pikir Pierre Bourdieu atau Anthony Giddens, persoalan reproduksi bukan sekadar urusan biologis semata.

Di dalamnya termuat beragam persoalan sosiologis seperti budaya kelas, institusi sosial, dan transmisi nilai-nilai yang melekat pada preferensi masyarakat.

Ketika mata rantai regenerasi itu terputus, maka terjadi persoalan struktural yang mendalam. Rantai transmisi habitus, nilai-nilai luhur, dan struktur sosial pun dengan sendirinya berhenti pada generasi yang lebih tua.

Generasi tanpa regenerasi merujuk pada disrupsi sistemik dari realitas reproduksi sosial. Apa yang menjadi visi dan perspektif kita tentang masa depan hari ini akan terhenti secara alami karena tidak ada lagi "penerus" yang membawa semangat dan pemahaman atas pencermatan tersebut.

Kondisi ini seolah menghentikan proposisi lama yang telah lama mewarnai pemikiran kita, yaitu teori Thomas Robert Malthus. Malthus pernah memperingatkan bahwa populasi cenderung tumbuh lebih cepat ketimbang ketersediaan pangan. Hari ini, logika itu berbalik 180 derajat.

Masalah kita hari ini bukanlah kelebihan manusia, melainkan kekurangan generasi pelanjut. Kritik atas Generasi Sebelumnya Kita harus membaca langkah Gen Z ini bukan sebagai kedangkalan berpikir, melainkan sebagai bentuk pembacaan mereka terhadap problem besar yang diwariskan kepada mereka.

Mereka sadar bahwa mereka adalah entitas yang "ketiban sial" akibat tindakan-tindakan generasi sebelumnya—mulai dari krisis iklim hingga sistem ekonomi yang eksploitatif. Mereka hanyalah pihak yang menanggung dampak tanpa pernah diajak merancang solusinya.

Maka, kita bisa menarik sebuah kesimpulan besar: generasi tanpa regenerasi adalah kondisi ketika sistem sosial ekonomi gagal menyediakan persyaratan material, kultural, dan psikologis bagi reproduksi generasi. Keputusan untuk tidak memiliki generasi pelanjut bukan sekadar pilihan egois, melainkan sebuah kritik tajam terhadap krisis struktural yang sedang berlangsung.

Pada akhirnya, sebuah pertanyaan besar tetap menggantung dan menuntut jawaban kita: "Apakah tindakan ekstrem yang diputuskan oleh Gen-Z ini merupakan ekspresi pamungkas dari hilangnya kepercayaan mereka terhadap kepastian masa depan?"

Tampaknya, mereka memilih untuk tidak mengorbankan anak-anak mereka ke dalam sebuah mode kehidupan yang tidak jelas ujungnya—sebagaimana mereka sendiri hari ini dipaksa menghadapi hari esok yang tidak pernah didesain dengan layak oleh orang tua mereka. 

Artikel ini telah dipublikasikan di Kompas pada Senin (4/5/2026).