Generasi Tanpa Karier
Dr. Tantan Hermansyah, S.Ag., M.Si.
Pengajar Sosiologi Perkotaan pada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta.
SELAMA lebih dari satu abad, masyarakat modern hidup di bawah satu premis nyaris tidak pernah dipersoalkan: manusia harus bekerja. Bekerja bukan semata-mata menjadi sarana memperoleh penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga menjadi penanda identitas melekat pada diri seseorang. Profesi tidak hanya menjelaskan apa yang dikerjakan seseorang, tetapi juga menjelaskan siapa dirinya. Karena itu, pada masa lalu, seseorang yang menjadi guru akan tetap dipanggil "Pak Guru" atau "Bu Guru" bahkan setelah memasuki masa pensiun. Seorang pedagang akan tetap dikenal sebagai pedagang. Seorang agamawan akan terus dikenang sebagai agamawan. Demikian pula pejabat pemerintahan, tentara, dokter, atau wartawan. Saatnya Menjaga Ruang Kritik Tetap Terbuka Artikel Kompas.id Profesi perlahan menjelma menjadi identitas melampaui masa aktif seseorang. Bahkan setelah wafat, masyarakat tetap mengenangnya melalui pekerjaan yang pernah ditekuninya.
Di titik inilah gagasan Castells dalam The Power of Identity (1997) menemukan relevansinya. Bagi Castells, identitas bukan sekadar atribut pribadi, melainkan kekuatan sosial yang membentuk sekaligus dibentuk oleh struktur masyarakat. Identitas menjadi fondasi yang menopang relasi sosial, kebudayaan, bahkan arah perkembangan sebuah peradaban. Profesi, dalam konteks itu, tidak lagi dipahami sebagai aktivitas ekonomi semata, melainkan sebagai ruang tempat manusia memperoleh pengakuan, legitimasi, dan makna keberadaannya.
Lalu Giddens melengkapinya dengan “reflexive project of the self” (1991). Menurutnya, manusia modern membangun dirinya melalui sebuah narasi biografis yang relatif stabil. Pendidikan, pekerjaan, promosi jabatan, hingga masa pensiun membentuk alur kehidupan yang dianggap normal. Baca juga: Pagar yang Memisahkan Pemerintah dan Publik Di sini karier menjadi tulang punggung narasi tersebut. Seseorang mengenali dirinya melalui lintasan profesinya, sementara masyarakat menilai seseorang melalui konsistensi perjalanan karier yang ditempuhnya.
Dari cara pandang itulah lahir logika sosial nyaris diterima sebagai “dogma”. Di dalam pekerjaan terdapat karier. Di dalam karier terdapat prospek pendapatan. Di dalam pendapatan terdapat peluang kesejahteraan. Linearitas itu ditanamkan secara sistematis melalui keluarga, sekolah, institusi pendidikan, dunia kerja, bahkan kebudayaan populer. Seluruh instrumen sosial bekerja bersama-sama untuk meneguhkan keyakinan bahwa kehidupan baik adalah kehidupan memiliki karier jelas.
Tidak mengherankan apabila pertanyaan paling sering diajukan kepada seorang mahasiswa menjelang kelulusan adalah, "Setelah lulus, mau berkarier di mana?" Bahkan beberapa universitas menghadirkan lembaga yang berlabel: “Pusat Karier”. Meski terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan asumsi mengandaikan, setiap orang harus memiliki satu lintasan karier. Seolah-olah kehidupan hanya sah apabila mengikuti trajektori telah ditentukan masyarakat. Baca juga: Darurat Logika Anggaran Program MBG Pasca-Putusan MK
Fenomena inilah kemudian melahirkan apa yang dapat disebut sebagai career society—masyarakat karier. Dalam masyarakat seperti ini, seseorang dinilai bukan hanya dari kualitas dirinya, melainkan dari posisi profesional berhasil diraihnya. Mereka tidak memiliki karier stabil sering kali dipandang menyimpang dari jalur kehidupan yang dianggap normal.
Namun, pelan-pelan bangunan besar itu mulai menunjukkan retakan. Yang sedang runtuh sesungguhnya bukan etos kerja, melainkan cara masyarakat memahami hubungan antara pekerjaan, identitas, dan makna hidup. Zygmunt Bauman menyebut perubahan semacam ini sebagai gejala liquid modernity. Dalam masyarakat cair, tidak ada lagi institusi yang benar-benar kokoh. Pekerjaan, organisasi, bahkan identitas kehilangan sifat permanennya. Yang dahulu stabil kini berubah menjadi sementara. Yang dahulu pasti kini menjadi serba tentatif. Dalam dunia terus bergerak, kesetiaan kepada satu pekerjaan tidak lagi selalu menghadirkan keamanan, sebagaimana mobilitas tidak lagi identik dengan ketidaksetiaan.
Di Tengah Perubahan Itulah Generasi Z Tumbuh
Berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka tidak lagi membangun kehidupan melalui lintasan karier linear. Mereka membangun dirinya melalui beragam pengalaman, proyek, jejaring, dan kompetensi yang berkembang secara simultan. Pendidikan formal penting, tetapi itu bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan maupun legitimasi. Mereka belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar melalui internet, komunitas digital, ruang kerja bersama, kafe, forum daring, bahkan dari percakapan berlangsung tanpa batas geografis. Mereka memperoleh keterampilan dari pengalaman, kolaborasi, dan eksperimen yang sering kali tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Karena itu, identitas mereka tidak lagi sepenuhnya dapat dijelaskan melalui ijazah ataupun profesi formal.
Hannah Arendt (1906-1975) pernah membedakan antara labor, work, dan action. Labor berkaitan dengan upaya mempertahankan hidup, work menghasilkan karya yang bertahan melampaui pelakunya, sedangkan action merupakan ruang manusia menampilkan dirinya di hadapan publik. Baca juga: Perlawanan Febrie Adriansyah dan Ujian Berat Institusi Kejaksaan Dalam kehidupan Generasi Z (Genz), ketiga dimensi itu semakin sulit dipisahkan. Mereka memperoleh penghasilan melalui berbagai aktivitas, menghasilkan karya lintas platform, sekaligus membangun eksistensi sosial melalui jejaring digital terus berkembang. Pekerjaan tidak lagi menjadi satu-satunya panggung tempat identitas dibentuk.
Karena itulah saya melihat, kita sedang memasuki sebuah fase baru yang layak disebut sebagai portfolio society—masyarakat portofolio. Dalam masyarakat portofolio, identitas sosial, penghasilan, reputasi, makna hidup, dan kemanfaatan praktis tidak lagi bertumpu pada satu profesi dijalani sepanjang hayat. Semuanya tersebar ke dalam berbagai portofolio proyek, jejaring kolaborasi, ruang interaksi, serta kompetensi yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Yang memberi nilai bukan lagi lamanya seseorang bertahan dalam satu institusi, melainkan kemampuannya merangkai beragam pengalaman menjadi modal sosial yang produktif.
Castells juga menyebut masyarakat kontemporer sebagai network society (1996), sebuah masyarakat yang ditopang oleh jejaring, bukan semata-mata oleh organisasi hierarkis. Dalam masyarakat jaringan seperti itu, nilai seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh jabatan formal, melainkan oleh kemampuan membangun koneksi, menciptakan pengetahuan, dan berkolaborasi lintas batas. Di sinilah portofolio menjadi lebih bermakna daripada sekadar riwayat jabatan.
Fenomena inilah sedang kita saksikan pada GenZ. Mereka dapat menjadi kreator konten, desainer, pengajar daring, marketing, pengembang aplikasi, konsultan, sekaligus pengusaha dalam waktu bersamaan. Mereka tidak sedang kehilangan arah. Mereka sedang menyusun identitas melalui banyak ruang sekaligus.
Karena itu, barangkali kita keliru apabila terus mempertanyakan mengapa GenZ tidak lagi setia pada satu pekerjaan. Pertanyaan lebih mendasar justru adalah: apakah masyarakat masih menyediakan ruang bagi seseorang untuk membangun satu karier sepanjang hidupnya? Apa yang dilakukan GenZ sesungguhnya merupakan kritik diam terhadap sistem kerja konvensional yang semakin sulit mengakomodasi perubahan zaman. Mereka tidak sedang menolak bekerja. Mereka sedang menolak menjadikan satu pekerjaan sebagai satu-satunya sumber identitas.
Di hadapan perubahan itu, masyarakat lama tidak perlu tergesa-gesa menghakimi. Sebaliknya, ia perlu membuka ruang negosiasi dengan cara pandang baru yang dibawa GenZ. Sebab yang sedang berubah bukan sekadar pilihan profesi, melainkan cara manusia memahami dirinya sendiri.
Mungkin inilah salah satu transisi paling sunyi dalam sejarah modern. Ketika masyarakat perlahan meninggalkan peradaban karier dan memasuki peradaban portofolio.
Artikel ini telah dipublikasikan di Kompas pada Senin, 3 Agustus 2026.