Generasi Tanpa Agama?
SETIAP kali berdiri di depan mahasiswa saya di kelas, dan bertanya, "jujur, siapa di antara kalian yang salat lima waktu penuh minggu ini?", tangan yang terangkat tak pernah sebanyak yang saya bayangkan. Tapi ketika pertanyaannya diubah menjadi, "siapa yang merasa menunaikan perintah Tuhan minggu ini?", ruangan itu berubah. Lebih banyak tangan terangkat, disertai cerita-cerita yang tidak selalu berbentuk rakaat.
Melakukan refleksi hidup di perjalanan, menghayati video ceramah singkat yang diputar sambil rebahan, obrolan panjang dengan teman soal agenda pengadian masyarakat setelah menonton drama Korea, dan sebagainya. Dari situ sejumlah pertanyaan menggedor pikiran. Mungkinkah, pertanyaan yang selama ini kita ajukan kepada Generasi Z (Gen-Z) barangkali kurang tepat.
Kita bertanya "apakah mereka masih beragama?". Padahal yang perlu kita tanyakan adalah "beragama seperti apa yang sedang mereka rintis?"
Data-data terbaru, baik dari Indonesia maupun dari luar negeri, sesungguhnya menyuguhkan gambar yang secara sepintas kontradiktif tetapi, bagi kita, justru koheren jika dibaca dengan kerangka sosiologi yang tepat.
Menurut hasil sebuah penelitian, Gen-Z Indonesia unggul dalam literasi Al-Qur'an dan mencatat skor toleransi antaragama tertinggi dibanding Milenial maupun Baby Boomer. Namun di sisi lain, mereka pula yang paling jarang menunaikan ibadah rutin. Di Amerika Serikat, gambarannya mirip-mirip juga.
Di mana sepertiga Gen-Z tak lagi berafiliasi dengan agama apa pun, hanya sebelas persen beribadah mingguan. Namun demikian hampir seluruh responden muda Indonesia dalam survei Varkey Foundation menempatkan iman sebagai jalan terpenting menuju kebahagiaan—angka tertinggi di dunia.
Sepintas ini paradoks. Tapi sebaiknya kita membacanya bukan sebagai kontradiksi, melainkan sebagai transisi bentuk.
Sosiolog agama Perancis, Danièle Hervieu-Léger, pernah menulis bahwa modernitas tidak menghapus agama. Dia memutus "rantai ingatan" (chaîne de mémoire) yang selama ini mewariskan agama secara utuh dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat institusi, ritual, dan otoritas yang tak dipertanyakan.
Maka yang terjadi pada Gen-Z, menurut saya, persis demikian. Bingkai rantai itu tidak putus total, tapi terurai. Mereka tidak lagi menerima agama sebagai satu paket warisan yang harus ditelan utuh—dogma, ritual, otoritas ulama, dan struktur organisasi sekaligus—melainkan memilah, mengambil apa yang mereka anggap bermakna, dan menyusunnya kembali secara personal.
Riset di Amerika menyebut fenomena ini dengan istilah yang tepat, iman yang "unbundled", iman yang diurai dari bundelnya.
Tentu ini menarik diperdalam karena sejak lama, Agama dan Iman memang berhubungan, tetapi tidak dalam bentuk dan wujud fisik yang “tidak bisa berubah”. Contoh gampang, dulu orang beribadah tidak menggunakan busana yang saat ini dikenakan manusia modern. Konteks sosial-budaya dan bahkan politik memang begitu kuat merembes pada berbagai tindakan yang dikatakan sebagai beragama.
Di sinilah hipotesis muncul untuk mempertajam pemahaman terhadap Gen-Z ini hadir. Di mana Gen-Z tidak ribet soal ritual, tetapi mereka cukup paham dengan makna agama.
Ini bukan generasi yang dangkal secara spiritual, melainkan generasi yang menolak formalisme tanpa substansi.
Grace Davie, sosiolog Inggris, dua dekade lalu sudah meramalkan pola "believing without belonging"—percaya tanpa merasa perlu terikat kelembagaan. Bahkan tampaknya Gen-Z melangkah lebih jauh. Mereka mempraktikkan semacam "believing without exactly bundling", mempercayai inti ajaran sambil menegosiasikan ulang bentuk pengamalannya.
Maka Ketika data menyebutkan, 49 persen Gen-Z memanfaatkan platform digital untuk belajar agama, itu bukan tanda kemalasan ritual, melainkan tanda bahwa mereka sedang mencari otoritas makna yang relevan dengan pengalaman hidup mereka sendiri, bukan otoritas yang datang begitu saja dari struktur di atas mereka.
Namun di titik ini pula muncul sisi lain, kita juga melihat, Gen-Z sangat kritis terhadap agama—termasuk kritis terhadap institusi yang mengklaim mewakilinya.
Menggunakan kerangka Zygmunt Bauman yang menyebut kondisi kita hari ini sebagai "liquid modernity", maka zaman ketika segala bentuk yang dulu padat—termasuk institusi keagamaan—mencair, kehilangan daya ikatnya yang dulu given dan taken for granted.
Nah, Gen-Z tumbuh di tengah cairnya otoritas itu. Dalam sistem kehidupannya, mereka menyaksikan skandal lembaga agama viral dalam hitungan jam, mereka membandingkan tafsir ulama satu dengan ulama lain hanya dengan menggeser layar, mereka tak segan mempertanyakan mengapa ritual tertentu diwajibkan sementara maknanya jarang dijelaskan tuntas.
Kritisisme ini bukan permusuhan terhadap agama, melainkan tuntutan agar agama mempertanggungjawabkan dirinya secara rasional dan etis—sesuatu yang oleh Charles Taylor, dalam A Secular Age, disebut sebagai pergeseran menuju "authenticity", di mana keabsahan spiritual seseorang kini diukur dari kejujuran batin, bukan semata kepatuhan lahiriah.
Yang menarik diberikan catatan, kritisisme ini tidak selalu berujung pada penolakan. Data tentang "quiet revival" di Inggris dan Amerika, yang menyebutkan melonjaknya proporsi anak muda, terutama laki-laki, yang kembali menganggap agama penting, menunjukkan bahwa pencairan otoritas lama justru bisa membuka ruang bagi pembentukan otoritas baru yang lebih dipilih secara sadar, bukan diwariskan secara pasif.
Cara pandang ini mengingatkan pandangan dari Ulrich Beck yang menyebut era kita sebagai era "individualisasi". Bukan matinya ikatan sosial, melainkan lahirnya ikatan yang harus terus-menerus diproduksi ulang melalui pilihan personal.
Maka beragama bagi Gen-Z, dengan kata lain, menjadi proyek biografis yang harus terus dikerjakan, bukan status yang otomatis melekat sejak lahir.
Sebagai seseorang yang belajar sosiologi, yang kebetulan juga mengajar pemberdayaan masyarakat berbasis digital, saya melihat ada pekerjaan rumah besar bagi lembaga-lembaga keagamaan kita.
Di mana institusi orang tua dan tokoh agama, menurut data, ternyata masih menjadi sumber rujukan spiritual paling dipercaya Gen-Z. Bahkan fakta jauh melampaui influencer sekalipun.
Tentu saja ini modal yang sangat berharga, namun mudah tergerus jika komunikasi keagamaan tetap bertumpu pada instruksi satu arah tanpa ruang dialog dan pertanyaan kritis.
Gen-Z tidak sedang meninggalkan agama; mereka sedang menagih agama untuk kembali kepada maknanya yang paling asali—welas asih, keadilan, ketenangan batin—dan menolak dibungkus dalam formalisme yang kosong dari penghayatan.
Dalam konteks ini, pernyataan "Generasi tanpa Agama?" barangkali perlu kita jawab dengan tanda tanya yang tetap kita pertahankan, sebab jawabannya bukan ya atau tidak. Melainkan, mereka generasi yang sedang menulis ulang apa artinya beragama, dengan tinta yang lebih personal, lebih kritis, dan, jika kita mau jujur, lebih menuntut kedalaman ketimbang generasi mana pun sebelumnya.
(Artikel ini telah dipublikasikan di Kompas.com pada Senin, 21 September 2026)
