Gelar Upacara HAB Ke-80, UIN Jakarta Anugerahkan Satyalancana Karya Satya
Lapangan Student Center, Berita UIN Online - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar upacara peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) Ke-80 di Lapangan Student Center Sabtu, (03/01/26). Mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, upacara berlangsung khidmat sebagai refleksi 80 tahun perjalanan Kemenag dalam merawat kerukunan bangsa.
Upacara ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph. D., para Wakil Rektor, Kepala Biro, Dekan, dan seluruh sivitas akademika UIN Jakarta. Rangkaian acara diawali dengan pengibaran bendera merah putih oleh mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) UIN Jakarta.
Suasana semakin khidmat saat Kepala Sub Bagian Tata Usaha Sekolah Pascasarjana, Afif Ahmad Faisal ST, M.M. memimpin pembacaan Pancasila selama upacara berlangsung. Selanjutnya, naskah UUD 1945 dibacakan oleh Kepala Pusat Layanan Kerjasama Internasional, Prof. Arif Zamhari M.Ag., Ph.D..
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar membacakan amanat Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.. Dalam amanatnya, Rektor menyampaikan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Ia menegaskan peran penting Kemenag dalam menjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan, serta tantangan baru di era digital.
Dalam pidatonya, Rektor menyoroti secara khusus tantangan zaman berupa Artificial Intelligence (AI). Ia menyampaikan pesan Menteri Agama agar Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perubahan teknologi.
“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton, kita harus memiliki kedaulatan AI. Jika dahulu para ulama mewarnai dunia melalui literasi, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, moderat, dan menyejukkan,” tegas Prof. Asep mengutip pidato Menteri Agama.
Lebih lanjut, Rektor menambahkan bahwa algoritma masa depan harus dikawal agar tidak hampa dari nilai ketuhanan. Ia menyerukan agar teknologi dijadikan alat pemersatu, bukan pemicu perpecahan. Untuk itu, Rektor mengajak seluruh ASN bertransformasi menjadi pribadi yang agile dan adaptif.
“Responsif artinya cepat melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas. Nilai-nilai ini adalah warisan leluhur tradisi keagamaan kita yang harus diaktualisasikan kembali sesuai dengan tema Hari Amal Bhakti ke-80,” imbuhnya.
Penganugerahan Satyalancana Karya Satya
Momentum HAB ke-80 ini juga diwarnai dengan penganugerahan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada sejumlah pegawai. Satyalancana Karya Satya adalah tanda kehormatan dari Pemerintah Republik Indonesia yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai penghargaan atas kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinan dalam masa kerja 10, 20, dan 30 tahun secara terus-menerus berfungsi sebagai motivasi dan teladan bagi yang lain.
Salah satu penerima Satyalancana Karya Satya 20 tahun, Guru Besar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., mengungkapkan makna mendalam mengenai perjalanan kariernya sebagai ASN. Menurutnya, karier merupakan mekanisme mengontrol diri yang membutuhkan dedikasi, loyalitas, dan konsistensi.
“Sebagai akademisi, tentu saya punya prinsip dimulai dengan berpikir. Karena seluruh proses berpikir itu menjadi penting dan substantif, baru kemudian bergerak dan memberi manfaat,” ujar Guru Besar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi tersebut.
Ia juga menyampaikan pentingnya membangun reputasi jangka panjang dibandingkan sekadar citra sesaat. “Eksistensi itu bukan citra, tapi membangun reputasi dan reputasi itu jauh lebih bersifat jangka panjang dibanding citra yang sifatnya temporal,” pungkas Prof. Gun Gun.
Sementara itu, Perencana Ahli Muda Biro Perencanaan dan Keuangan, Yanuareza Hawa Zefrida S.E., M.M. menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya 10 tahun, berbagi kesan mengenai dinamika menjadi ASN di era modern. Ia menambahkan pentingnya sikap adaptif terhadap perubahan regulasi dan teknologi.
“Kalau dibilang ASN itu santai dan hanya rutinitas, saya tidak merasakan itu. Sepuluh tahun ini sangat dinamis. Kami mengikuti segala perubahan, tantangan baru, dan arahan mandatori. Jadi kami harus siap siaga, terus belajar, dan terus bertumbuh,” ungkap Hawa.
Adapun perwakilan penerima penghargaan Satyalancana Karya Satya pada peringatan HAB ke-80 di UIN Jakarta meliputi tiga kategori. Untuk Satyalancana Karya Satya 30 tahun diberikan kepada Guru Besar Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. Ismatu Ropi, M.A, Ph.D., serta Pengelola Layanan Operasional Bagian Tata Usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Mardawati, S.Pd.. Sementara itu, Satyalancana Karya Satya 20 tahun diterima oleh Guru Besar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., dan Lektor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, M. Zaki Mubarak, S.IP., M.Si. Sedangkan untuk Satyalancana Karya Satya 10 tahun dianugerahkan kepada Perencana Ahli Muda Biro Perencanaan dan Keuangan, Yanuareza Hawa Zefrida S.E., M.M., serta Lektor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Bambang Ruswandi, M.Stat..
(Mu'ainun Mubin/Zaenal M./Fajri Nafisa/Foto: Talitha Zafirah)