Gandeng Pakar Neurosains IIUM, FST UIN Jakarta Resmikan Perangkat QEEG Senzeband

Gandeng Pakar Neurosains IIUM, FST UIN Jakarta Resmikan Perangkat QEEG Senzeband

Rizki Permata Kezia Dava
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Ruang Teater FST, Berita UIN Online – Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi meluncurkan teknologi perangkat Quantitative Electroencephalography (QEEG) Senzeband. Peluncuran ini menjadi langkah strategis FST UIN Jakarta dalam mengintegrasikan teknologi neurosains guna memperkuat riset, pengajaran, serta penyusunan profil individu secara objektif berbasis data kognitif. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Teater Lantai 2 FST UIN Jakarta, Senin (28/9/2026).

Acara dihadiri oleh Neurocoach Digital Lab International Islamic University Malaysia (IIUM), Prof. Abdul Wahab Abdul Rahman, Dekan FST UIN Jakarta, Prof. Husni Teja Sukmana, S.T., M.Sc., Ph.D., Wakil Dekan I Bidang Akademik FST, Dr. La Ode Sumarlin, M.Si., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FST, Khodijah Hulliyah, M.Si., Ph.D., dan Kepala PLT, Dr. Iwan Aminudin, S.Hut., M.Si, serta para dosen FST dan sivitas akademika UIN Jakarta.

Dekan FST UIN Jakarta, Prof. Husni Teja Sukmana, S.T., M.Sc., Ph.D., menyambut baik kehadiran teknologi pemindai gelombang otak ini. Ia menyampaikan bahwa peluncuran QEEG Senzeband merupakan wujud komitmen FST UIN Jakarta.

“Peluncuran QEEG Senzeband ini merupakan bentuk komitmen FST UIN Jakarta dalam menghadirkan fasilitas riset yang mutakhir bagi sivitas akademika. Kehadiran teknologi ini memperkuat kegiatan pengajaran, lebih dari itu dapat memicu lahirnya riset-riset inovatif, khususnya di bidang neurosains dan kecerdasan buatan,” ucapnya.

Neurocoach Digital Lab International Islamic University Malaysia (IIUM), Prof. Abdul Wahab Abdul Rahman., memaparkan secara mendalam potensi besar teknologi tersebut. Ia menjelaskan bahwa QEEG Senzeband merupakan terobosan teknologi pemantauan sinyal elektrik otak secara real-time, alat berbentuk headband ini dilengkapi empat elektroda utama.

“Kita memiliki SenseBand yang mengamati empat saluran, yaitu Fp3, Fp4, T7, dan T8. Nah, dengan alat tersebut, kita bisa melakukan lebih banyak analisis untuk emosi bahagia, takut, nanti akan terlihat apakah mengalami kelelahan mental atau tidak,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Wahab membagikan hasil riset yang menunjukkan bahwa QEEG Senzeband mampu membaca indikator kepribadian hingga jejak kecanduan media sosial pada otak. Salah satunya terlihat dari hasil eksperimen laboratorium pada remaja berusia 13–15 tahun.

“Pada remaja usia 13–15 tahun, pemetaan otak menunjukkan bahwa mereka yang terindikasi mengalami gangguan kecanduan gawai atau gadget akan mengalami penurunan pada kekuatan gelombang Alpha secara drastis. Hal tersebut terjadi pada daerah bagian depan otak yang memiliki fungsi sebagai proses berpikir jernih, pengendalian diri, dan pengambilan keputusan tidak berfungsi secara optimal,” terangnya.

Prof. Wahab juga menambahkan bahwa pemetaan gelombang otak membuka ruang luas untuk mempelajari berbagai aspek emosi dan perilaku manusia, mulai dari behavior and mood, efektivitas memori, gangguan perkembangan otak, penurunan kondisi kesehatan, hingga kondisi depresi dan kecemasan. Ia juga menekankan pentingnya integrasi teknologi QEEG dengan metode pemrosesan AI berbasis Deep Learning untuk mendeteksi gangguan perkembangan otak seperti autisme, disleksia, ADHD, hingga analisis memori pada penghafal Al-Qur'an.

“Melalui studi gelombang otak, kita dapat membantu anak- anak dengan gangguan perkembangan seperti autisme, disleksia, dan ADHD agar kualitas hidup mereka lebih baik. Dengan integrasi AI saat ini, potensi penanganan yang kita lakukan menjadi lebih luas,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Abdul Wahab menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi sinyal otak sangat potensial untuk dikembangkan di ranah Sistem Informasi dan Teknik Informatika melalui pendekatan analisis perilaku.

“Untuk progam studi Sitem Informasi (SI) dan Teknik Informatika (TI), studi perilaku dan analisis perilaku akan sangat menarik. Kita dapat memanfaatkan QEEG Senzeband ini untuk melakukan banyak penelitian,” ungkapnya.

Sebagai penutup, ia mengajak mahasiswa FST UIN Jakarta untuk memanfaatkan fasilitas laboratorium QEEG Senzeband secara aktif, khususnya dalam mengeksplorasi topik Tugas Akhir.

“Saya berharap kalian tertarik untuk melakukan penelitian di bidang ini. Dengan penelitian tersebut, kita bisa mendapatkan banyak data,” pungkasnya.