FAH UIN Jakarta Gelar FGD Bahas Perkembangan UIN Pasca-Transformasi

FAH UIN Jakarta Gelar FGD Bahas Perkembangan UIN Pasca-Transformasi

FAH, Berita UIN Online - Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta melaksanakan Focus Grup Discussion (FGD) dengan tema “Perkembangan UIN Jakarta Pasca-Transformasi”. FGD digelar untuk membicarakan kembali transformasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari ADIA hingga UIN melalui integrasi keilmuan, dilaksanakan di Ruang Sidang Utama, Jum’at (8/5/2026).

Dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta periode 2006-2010 dan 2010-2015, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Hamid Nasuki, M.Ag., Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Jamhari, M.A, Ph.D., bersama Prof. Amsal Bakhtiar, M.Ag

Pada sambutannya, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menjelaskan bahwa negara maju memberikan dukungan besar untuk pendidikan tinggi karena adanya tekad generasi terdahulu dan penerusnya untuk menghadapi tantangan dari negara lain, sekaligus mengejar kemajuan ekonomi dan keunggulan militer.

“Kalau kita bicara Indonesia, kita tidak punya spirit yang sama seperti halnya Iran, China, dan Rusia yang berupaya menjadi superpower di masing-masing teritorinya. Maka saya kira, Indonesia ini lebih butuh pendidikan yang mengakar, dengan salah satunya adalah pendidikan agama,” jelasnya.

Senada dengan itu, Prof. Komaruddin menekankan pentingnya untuk melihat kembali sejarah masyarakat Islam di Indonesia. Ia menekankan bahwa Islam adalah agama tersebar melalui jalur perdagangan dengan masyarakat yang sudah mengenal ritual keagamaan dan kepercayaan. Hal ini menandai etos pengetahuan masyarakat Indonesia yang dilandaskan dengan hidup bersosialisasi tidak untuk berkompetisi dan menciptakan saingan.

Alhamdulillah, UIN Jakarta saat ini sedang berusaha untuk berkompetisi di kancah dunia dengan menjadi pusat keilmuan Islam di Asia. Bisa dibilang, UIN Jakarta ini bukan termasuk dari kampus-kampus medioker di Indonesia melalui pembuktian target internasionalisasi yang berhasil dicapai,” tambahnya.

Selain itu, Prof. Amsal menambahkan bahwa untuk mencapai target, UIN Jakarta perlu untuk mengambil langkah memberdayakan mahasiswa dan alumninya melalui program pertukaran pelajar dan beasiswa.

“Ini bisa dimulai dengan menyediakan program scholarship yang salah satunya adalah beasiswa BAZNAS dari Kemenag. Kalau ingin contoh lain, kita bisa menengok UIII sebagai benchmarking. Kalau perlu kita tarik pengajar terbaik dari ITB, UGM, dan sebagainya dari luar negeri untuk mencetak mahasiswa excellent disini,” tegasnya.

Sejalan dengan hal itu, Prof. Hamid Nasuki menjelaskan faktor dari adanya hambatan birokrasi yang mempersulit perkembangan lingkungan akademik yang berlandaskan keIslaman. “Dari zaman ADIA, STAIN, IAIN, sampai ke UIN dulu kita bisa memperluas sayap tradisi keilmuan kita tanpa kehilangan esensi dari ciri khas intelektualitas kita. Sayangnya, saat ini PTKIN dipaksa untuk menguasai model pengetahuan umum melalui standar kurikulum yang merugikan output kampus-kampus Islam.” jelasnya.

Menutup FGD, Prof. Amsal Bakhtiar mengimbau bahwa UIN Jakarta termasuk FAH untuk selalu senantiasa menjaga citra keilmuan dan kekhasan program studi untuk selalu memiliki relevansi dengan keilmuan pendidikan di Indonesia.

“Kalau kita bisa pertahankan identitas UIN dari awal ia berdiri, maka FAH ini menjadi titik balik dan dasar dari studi-studi pendidikan Islam,” tutupnya.

Diketahui, FAH UIN Jakarta menyediakan 4 program studi terakreditasi internasional oleh ACQUIN di bidang Sejarah Peradaban Islam dan Bahasa dan Sastra Arab untuk jenjang pendidikan Magister (S2) dan Doktor (S3).

(Zaenal M./Meisa Aqilah/Alden Lee/Foto: FAH UIN Jakarta)

Tag :