Etik Politik Identitas Dalam Al Quran

Etik Politik Identitas Dalam Al Quran

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar

 

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dihubungkan dengan politik identitas adalah sebagai berikut:

 

  1. Al-Qur’an mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan.

 

“… dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Q.S. Ali ‘Imran/3:159).

 

“… sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka (Q.S. Al-Syura/42:38).

 

  1. Al-Qur’an menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebersamaan, sungguhpun umat Islam terlibat sebagai subyek atau objek dalam persoalan tersebut. Rasa keadilan tidak boleh dikorbankan oleh keinginan subyektif.

 

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (Q.S. Al-Maidah/5:8).

 

  1. Al-Qur’an samasekali tidak menolerir pembinasaan diri sendiri dalam mencapai tujuan, sesuci apapun tujuan itu. Tidak boleh menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, apalagi dengan sengaja mengorbankan diri dan orang lain yang tak berdosa, tidak pernah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya.

 

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Baqarah/2:195).

 

  1. Al-Qur’an menolerir fleksibilitas dalam memperjuangkan sebuah cita-cita. Setiap orang berhak menentukan pilihan di dalam mengekspresikan pendapat masing-masing.

 

“Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu, dan masuklah dari pintu-pintu yang berbeda-beda”. (Q.S. Yusuf/12:67).

 

  1. Al-Qur’an tidak menolerir pemaksaan kehendak dalam mencapai tujuan, khususnya pemaksaan kehendak keagamaan terhadap orang lain:

 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. (Q.S. Al-Baqarah/2:256).

 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Q.S. Al-Qashahsh/28: 56)

 

  1. Al-Qur’an lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan serta kebersamaan (Bhinneka Tunggal Ika) ketimbang perbedaan, apalagi permusuhan.

 

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu”. (Q.S. Ali ‘Imran/3: 64).

 

  1. Al-Qur’an menekankan perlunya bersikap kritis terhadap isu dan dan informasi.

 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat/49: 6)

 

  1. Al-Qur’an juga mewanti-wanti kita untuk tidak menjadi sumber keonaran atau profokator di dalam masyarakat:

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. (Q.S. Al-Hujurat/49:12).

 

  1. Menghindari buruk sangka dan negative thingking serta sifat-sifat yang tidak terpuji lainnya.

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. (Q.S. Al-Hujurat/49:12

 

  1. Menekankan substansi persatuan di dalam masyarakat, bukannya menonjolkan perbedaan.

 

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan

 

  1. Menjunjung tinggi ukhuwah imaniyah (persaudaraan keimanan). (Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat). (Q.S. Al-Hujurat/49:10).

 

  1. Mengedepankan titik temu dan menghindari titik perbedaan.

 

(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. Al-Hujurat/49:13). (zm)

 

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Artikelnya dimuat Tangsel Pos, Senin 15 Agustus 2022, dan bisa diakses di https://tangselpos.id/detail/2352/etik-politik-identitas-dalam-al-quran.