Diskusi Perfilman Nasional Hangatkan CBX UIN Jakarta, Sutradara Laut Bercerita hingga Komisioner KPI Angkat Bicara
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – DNK TV Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali sukses menyelenggarakan Campus Broadcasting Expo (CBX) dengan berbagai rangkaian acara yang menarik. Mengusung tema “Endless Loop: Apakah Film Indonesia Masih di Zona Nyaman?” dalam bentuk creatalk yang mampu mengundang rasa penasaran di tengah ribuan penonton di Auditorium Harun Nasution, Selasa (15/09/2026).
CBX 2026 merupakan tempat kreativitas mahasiswa DNK TV FDIKOM menghadirkan creatalk, kompetisi penulisan naskah film pendek, pemutaran film pendek, director's talk, dan eksplorasi stan di area Expo (Shootopia). Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., Dekan FDIKOM, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Amin Shabana, Ph.D., Sutradara Laut Bercerita, Yosep Anggi Noen, Reviewer Cinematographer, Petra Hormati, Head of Organizing Committee CBX 2026, Muhammad Rafli Ramadan, serta para sivitas akademika UIN Jakarta.
Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menyampaikan sambutannya mengenai pentingnya peran komunikasi serta media visual dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial.
“Karya visual atau film tidak sekadar hiburan, tetapi memiliki dampak filosofis, moral, dan spiritual yang kuat dalam memengaruhi cara pandang publik. Pembuatan produk visual atau film harus berpegang teguh pada nilai Pancasila, dan nilai-nilai keislaman dan spiritualitas, bukan sekadar mengikuti tren global. Mahasiswa perlu mengkaji dan memfilter isu atau muatan dalam media visual dengan kacamata filosofis dan nilai kebangsaan, bukan hanya melihatnya dari sudut pandang hak asasi semata. Karya yang dihasilkan hendaknya mendorong semangat patriotisme, kebangsaan, persatuan, dan NKRI, terutama untuk edukasi generasi muda,” ujarnya.
Dekan FDIKOM, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., juga turut memberikan sambutan mengenai pentingnya konsistensi dan kreativitas dalam membangun industri perfilman nasional khususnya pada DNK TV UIN Jakarta.
“Film itu tentu bukan industri biasa. Banyak hal saling terkait, tidak semata-mata pasar, tetapi yang lebih penting dari itu adalah kreativitas pembuat film, ide besarnya, kerja tim, dan tentu apresiasi dari penonton sebagai respons untuk kemudian menjadi energi bagi para pembuat film untuk terus memproduksi gagasan pikirannya, dinikmati, diapresiasi, dan dikritik. Film itu bagian dari komunikasi massa, sama seperti televisi,” tuturnya.
Sosok mantan volunteer Jakarta International Film Festival (JIFFes) tahun 1999 yang kini mengabdi sebagai Komisioner KPI Pusat, Amin Shabana, Ph.D. turut hadir dalam CBX 2026, memaparkan sejarah kebangkitan industri perfilman Indonesia pasca-Era Reformasi. Beliau menjelaskan bagaimana festival film menjadi katalisator lahirnya komunitas film di berbagai kampus.
“Film sempat dijadikan alat propaganda pemerintah. Selama kurang lebih 14 tahun, kita sempat mengalami yang namanya vakum produksi karya dan minim apresiasi dari masyarakat. Ketika pecah Reformasi pada tahun 1998, muncul tuntutan demokratisasi di industri media, termasuk kebebasan berekspresi di industri perfilman. JiFFest lahir pada era Reformasi tahun 1999 untuk membangkitkan kembali perfilman Indonesia. Festival ini berlangsung hingga belasan tahun dan menjadi katalisator munculnya aktivisme perfilman serta komunitas film di berbagai kampus, termasuk embrio di UIN Jakarta,” ungkapnya.
Mengutip Kompas.id, industri perfilman nasional mencatat peningkatan signifikan pada tahun 2025 dengan menguasai sekitar 65 persen hingga 70 persen pangsa pasar bioskop nasional. Total penonton film lokal mencapai 80,2 juta dari akumulasi 201 judul film yang beredar. Genre horor mendominasi dengan 90 judul, disusul 66 judul film drama, serta genre lainnya seperti komedi, laga, dan religi.
Sutradara Film Laut Bercerita, Istirahatlah Kata-Kata (2016), dan The Science of Fictions (2019) sekaligus peraih penghargaan Locarno International Film Festival, Yosep Anggi Noen, memberikan pandangannya terkait tingginya dominasi genre horor di industri bioskop tanah air. Ia menilai tren tersebut merupakan strategi produser untuk meminimalkan risiko finansial dalam investasi pembuatan film.
“Berbicara mengenai genre, industri film merupakan industri dengan risiko besar, meskipun saat mendapatkan keuntungan juga besar. Orang meminimalkan risiko dengan cara membuat film yang sesuai dengan tren saat itu. Jika statistiknya menunjukkan dominasi horor, maka produser membuat film horor untuk meminimalkan risiko karena pembuatan film itu tidak murah,” ungkapnya.
Selain dari sisi komersial, Yosep juga menilai bahwa narasi mistis dan kepercayaan terhadap hal gaib dalam sejarah pemikiran lokal tidak sekadar komodifikasi hiburan, melainkan memiliki fungsi sosial dan budaya.
“Hantu sebenarnya adalah pernyataan politik yang bisa dimanfaatkan untuk mengontrol sesuatu, bahkan bisa menjadi agen perubahan,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia membagikan pengalamannya selama proses produksi film Laut Bercerita yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Film yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026 tersebut menyimpan pesan mendalam bagi generasi muda.
“Film ini adalah cerita kita bersama tentang gairah anak muda dalam membangun kesadaran menuju negeri yang lebih baik. Kuncinya adalah membebaskan diri dan berani memunculkan ide terlebih dahulu. Tantangannya adalah memulihkan dan meyakinkan orang lain melalui kemampuan persuasi serta argumen yang kuat dari hasil membaca dan berdiskusi soal isu sosial,” jelasnya.
Selaras dengan hal tersebut, Reviewer Cinematographer, Petra Hormati, mendorong mahasiswa untuk bereksperimen secara bebas tanpa terbebani target komersial atau pengembalian modal. Menurutnya, hal tersebut berbeda dengan pembuatan film panjang yang menuntut pertimbangan bisnis cukup besar. Selain itu, ia juga berpesan kepada para mahasiswa untuk memperbanyak interaksi sosial di luar ruang kelas sebagai sarana pengayaan gagasan dan penyampaian cerita.
“Cara paling luas untuk bereksperimen ada di film pendek. Kalau film panjang, pertimbangan bisnisnya sangat besar sehingga eksperimen dikurangi. Sementara di film pendek, apalagi untuk mahasiswa sekolah film, tidak ada tuntutan komersial atau balik modal. Di situlah orang bereksperimen,” tuturnya.
Dalam pesan penutupnya, Petra Hormati mengingatkan mahasiswa UIN Jakarta pentingnya interaksi sosial sebagai sumber inspirasi pembuatan karya.
“Pesan saya bergaullah, keluar rumah dan ngobrol dengan orang-orang. Dari bergaul dan bercerita kita belajar bagaimana bertutur. Kalau ingin menyampaikan cerita ke khalayak lebih luas, sampaikan lewat layar lebar,” tutupnya.
