Dari PIH UIN Jakarta ke Humas Kementerian: Kisah Aida Menemukan Jalan di Dunia Komunikasi
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – Bagi sebagian orang, waktu luang mungkin menjadi kesempatan untuk beristirahat. Namun, bagi Aida, terlalu lama tanpa kesibukan justru membuatnya merasa tidak nyaman. Aida Adha Siregar, adalah lulusan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia merupakan mahasiswa yang berhasil mengukuhkan dirinya pada wisuda ke-141 UIN Jakarta dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 pada Sabtu (12/9/2026) di Auditorium Harun Nasution.
Hari-hari yang dijalani Aida selama berkuliah dilewati dengan ritme yang cukup padat. Di lingkungan kampus, ia mengikuti sejumlah kegiatan seperti JTV di tingkat program studi, The Political Literacy, salah satu program di AIESEC, kepanitiaan, hingga menjadi pendamping riset. Pada saat yang sama pula, ia mulai menjajal berbagai pengalaman di luar perkuliahan, salah satunya melalui dunia jurnalistik yang kemudian mempertemukannya dengan banyak orang.
Ketertarikannya pada dunia jurnalistik ia teruskan melalui pengalaman magang di Pusat Informasi dan Humas (PIH) UIN Jakarta. Setelah itu, Aida kembali menjajal pengalaman profesional jurnalistiknya melalui program magang di Detik.com. Dalam prosesnya, ia berhadapan dengan berbagai narasumber dan menjalani pengalaman jurnalistik yang kemudian meninggalkan sejumlah cerita berkesan selama masa kuliahnya.
Salah satu pengalaman yang paling ia ingat adalah ketika beberapa narasumber yang pernah diwawancarainya kembali mengenalinya di kesempatan lain. Bagi Aida, momen tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan karena proses wawancara tidak berhenti pada saat liputan selesai.
“Orang inget aku padahal aku ini bukan siapa-siapa. Kadang ada yang bilang, ‘Kamu Aida kan yang waktu itu wawancara saya?’ Dari situ akhirnya terbentuk relasi, tukar kontak, ngobrol, bahkan kadang ketemu untuk sekadar ngopi,” ungkapnya.
Bagi Aida, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan jurnalistik dapat memiliki tempat khusus dalam dirinya. Ia memandang jurnalistik bukan hanya sebagai aktivitas untuk mencari dan menyampaikan berita, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan informasi dari berbagai pihak dengan masyarakat. Dari proses tersebut, ia menemukan kepuasan tersendiri ketika tulisan yang dibuatnya dapat memberikan informasi dan manfaat bagi orang lain.
"Arti pengalaman aku sebagai jurnalistik sendiri itu dapat menjembatani informasi dari stakeholder kepada masyarakat, selain itu senang bersosial juga dengan masyarakat, dan intinya aku senang lah bisa menebar manfaat lewat tulisan," tuturnya.
Selain dipenuhi dengan dunia jurnalistik, bekerja juga merupakan bagian yang menghiasi kehidupan Aida selama berkuliah. Ia pernah menjadi host dalam penjualan pakaian secara live di toko milik salah satu dosennya, terlibat dalam pekerjaan di sebuah agency selama tiga bulan, hingga mendampingi kegiatan di sebuah Yayasan Disabilitas.
Hari-harinya yang penuh dengan beragam aktivitas membuat ia perlu mengatur waktu dengan baik. Ia mengaku tidak memiliki cara khusus dalam membagi waktunya. Menurutnya, dengan skala prioritas lah ia dapat menyelesaikan segala pekerjaannya. Selain itu, ia juga mengaku sebagai pribadi yang senang beraktivitas dan bertemu dengan banyak orang.
“Aku memang tipe yang social butterfly. Kalau terlalu banyak waktu kosong malah bingung mau ngapain, jadi biasanya aku cari kegiatan, selain itu aku juga udah susun jadwal sedemikian rupa walaupun ada bentrok-bentroknya juga,” ujarnya.
Keputusan untuk menjalani berbagai pekerjaan selama kuliah juga merupakan inisiatif Aida sendiri. Di tengah kebutuhan pendidikan adik-adiknya, ia ingin ikut membantu mengurangi tanggungan orang tua. Karena itu, ia berusaha memenuhi sebagian kebutuhan pribadinya melalui pekerjaan yang dapat dijalani di sela-sela aktivitas perkuliahan.
Berbagai pengalaman yang dijalani Aida selama menjadi mahasiswa tidak berhenti bersamaan dengan berhenti nya kuliah. Kini, ia bekerja sebagai Humas di salah satu kementerian, masih dalam ruang yang dekat dengan komunikasi, media, dan hubungan dengan masyarakat. Pengalaman selama kuliah, terutama keterlibatannya dalam jurnalistik, menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya mengenal lebih jauh pekerjaan di bidang komunikasi dan media.
Meski kini berada di dunia kehumasan, ketertarikannya terhadap media dan jurnalistik masih ingin ia kembangkan. Aida mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dengan bidang yang masih berkaitan dengan media. Namun, ia mengaku belum memiliki gambaran yang benar-benar pasti mengenai profesi yang ingin dijalani dalam jangka panjang.
“Aku sebenarnya masih ingin fokus di media, di jurnalistik, di kepenulisan juga, menulis jadi jurnalis. Tapi mungkin juga nanti S2 nya ke media, tapi kalau ditanya nanti mau jadi apa, aku juga belum tahu, jadi let it be aja,” tuturnya.
Di tengah perjalanan yang masih terus ia cari arahnya setelah lulus, Aida juga menitipkan pesan kepada mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan agar tidak terlalu nyaman ketika memiliki banyak waktu luang dan jangan mudah meninggalkan sesuatu yang telah dimulai. Baginya, berbagai pengalaman selama kuliah tidak selalu harus langsung diketahui hasil akhirnya, tetapi setiap proses tetap perlu dijalani dan diselesaikan.
“Jangan pernah ada di zona nyaman terlalu lama dan yang paling penting bertanggung jawab atas apa yang sudah dipilih dan selesaikan apa yang sudah di mulai,” pesannya.
Saksikan selengkapnya prosesi Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktoral ke-141 pada Sabtu (12/09/2026) melalui kanal YouTube resmi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berikut ini:
