Dari Mahasiswa Syariah hingga Pemimpin Redaksi, Syukri Rahmatullah Bagikan Kisah Kariernya

Dari Mahasiswa Syariah hingga Pemimpin Redaksi, Syukri Rahmatullah Bagikan Kisah Kariernya

Khairudzakirin Kezia Dava Adean Zamzani
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – 22 tahun setelah menyelesaikan pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Syukri Rahmatullah kembali ke ruang-ruang akademik yang membentuknya hingga menjadi seperti sekarang. Kali ini, kembalinya Syukri ke UIN Jakarta bukan sebagai mahasiswa yang mengenakan toga, melainkan sebagai alumni yang memberikan welcoming speech dalam prosesi Wisuda ke-141 UIN Jakarta, di Auditorium Harun Nasution, Sabtu (5/9/2026).

Bagi Syukri, kembalinya ke kampus menjadi momentum bersejarah. Alumni Fakultas Syariah dan Hukum yang menyelesaikan pendidikan pada 2004 tersebut kembali mengingat perjalanan panjangnya sejak menjadi mahasiswa hingga berkarir di dunia jurnalistik dan menduduki posisi sebagai pemimpin redaksi di BeritaSatu. com. “Momentum saya kembali ke kampus ini adalah hal yang sangat menarik. Sejak 22 tahun yang lalu saya diwisuda di tempat ini (Maret 2004), ini adalah momentum yang bersejarah bagi saya,” ujar Syukri.

Perjalanan Syukri menuju dunia jurnalistik tidak berjalan linear dengan latar belakang pendidikannya. Sebagai mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum jurusan Siyasah Syar'iyyah atau Politik Islam, Syukri pada awalnya berada di jalur pendidikan yang dekat dengan bidang hukum dan politik. Namun, selepas kuliah, langkahnya justru membawanya menjajaki dunia jurnalistik.

Ia menyebut perjalanan tersebut sebagai pengalaman “tersesat” yang justru mengantarkannya pada jalan yang tepat. Menurutnya, seseorang tidak selalu dapat mengetahui ke mana arah hidup akan membawanya, sehingga yang terpenting adalah keberanian untuk terus bergerak.

“Saya ini adalah sebuah contoh di mana saya tersesat tapi di jalan yang benar,” ujarnya.

Sebelum menemukan jalannya di dunia jurnalistik, Syukri terlebih dahulu melewati masa kuliah yang penuh dinamika. Ia mengaku aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa hingga sempat khawatir akan menjadi “mahasiswa abadi”. Meski demikian, ia akhirnya menyelesaikan studinya dan diwisuda pada Maret 2004.

Selepas mengenakan toga, Syukri sempat menghadapi masa sebagai lulusan baru tanpa pekerjaan hingga akhirnya mencoba melamar kerja dengan bermodalkan surat keterangan lulus dan dua tulisan yang pernah terbit di koran. Ia kemudian diterima sebagai jurnalis, yang menjadi awal perjalanan kariernya di industri media hingga dipercaya memimpin sejumlah media nasional. Berbekal pengalaman tersebut, Syukri berpesan kepada para wisudawan untuk tidak takut memulai dari bawah.

“Jangan pernah takut mulai dari bawah. Jangan pernah takut mulai dari nol,” tegasnya. Syukri juga berpesan agar mahasiswa tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi turut membangun pengalaman, jaringan, dan kemampuan sebagai bekal memasuki dunia profesional. Menurutnya, mahasiswa perlu aktif berorganisasi, mengikuti berbagai kegiatan, serta memperkaya pengetahuan melalui seminar dan aktivitas lainnya. Selain itu pengembangan terhadap soft skill dan hard skill, juga diperlukan sebagai modal bagi mahasiswa sehingga tidak memulai semuanya dari nol setelah lulus.

Lebih jauh, Syukri berharap para lulusan UIN Jakarta tidak berhenti pada posisi sebagai pencari kerja. Ia mendorong mereka untuk mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan nilai bagi masyarakat.

“Saya berharap dari ratusan mahasiswa yang diwisuda hari ini tidak menjadi job seeker saja, tapi menjadi pencipta pekerjaan,” ujarnya.

Selain kemampuan dan pengalaman, Syukri menilai integritas menjadi modal penting dalam perjalanan profesional. Selama berkarier di dunia jurnalistik, ia mengaku berusaha menjaga integritas sekaligus membawa nama baik almamater yang telah membentuk dirinya. Menurutnya, kepercayaan akan tumbuh ketika seseorang mampu mempertahankan integritas di mana pun berada.

22 tahun setelah meninggalkan bangku kuliah, Syukri kembali melihat UIN Jakarta sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Baginya, kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar, tetapi ruang yang menempa mahasiswa melalui proses belajar, berdiskusi, berorganisasi, hingga menghadapi berbagai perbedaan pandangan.

Kini, ketika para wisudawan ke-141 bersiap meninggalkan kampus dan memasuki dunia yang lebih luas, Syukri menitipkan pesan agar mereka membawa nama baik almamater serta memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Alumni UIN Syarif Hidayatullah harus berguna untuk masyarakat di Indonesia,” pungkasnya.

Saksikan selengkapnya prosesi Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktoral ke-141 pada Minggu (06/08/2026) melalui kanal YouTube resmi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berikut ini: