Cerita Mahasiswa: Ketika Empati Tak Lagi Berjarak, Gerak Relawan UIN Jakarta di Wilayah Bencana

Cerita Mahasiswa: Ketika Empati Tak Lagi Berjarak, Gerak Relawan UIN Jakarta di Wilayah Bencana

CIputat, Berita UIN Online - Akhir November 2025 menjadi masa yang tak mudah bagi sebagian wilayah di Sumatera. Hujan turun tanpa henti dari Aceh hingga Sumatera Barat. Sungai meluap, banjir bandang datang tiba-tiba, dan longsor meruntuhkan tanah yang sebelumnya kokoh. Rumah terendam, jalan terputus, dan aktivitas warga berhenti seketika. Lumpur masuk ke ruang-ruang rumah, menyisakan kepanikan sekaligus harapan akan datangnya bantuan.

Di tengah situasi tersebut, tumbuh gerakan kemanusiaan dari lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Forum Relawan UIN Jakarta yang sempat vakum kembali diaktifkan. Penetapan status bencana nasional menjadi titik balik yang mengubah empati dari kejauhan menjadi aksi nyata. Mahasiswa meninggalkan rutinitas kelas untuk turun langsung ke lapangan, membawa tenaga, pengetahuan, dan kepedulian.

“Status bencana nasional membuat kami sadar bahwa ini bukan lagi soal simpati dari jauh. Kami harus hadir langsung,” ujar Nur Muhammad Fadhil, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, semester 7 dan saat ini menjabat Ketua Umum (Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia. 

Sebanyak sepuluh relawan diberangkatkan, menyesuaikan dengan keterbatasan logistik dan pendanaan. Mereka berasal dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Semi Otonom (LSO) seperti ARKADIA, RANITA, Pramuka, KSR PMI, UIN Syahid Medical Rescue (USMR), FIKES Disaster Responder Team (FDT), dan Disaster & Emergency Nursing Team (DENTA). Latar belakang yang beragam justru menjadi kekuatan. Ada yang terlatih membaca medan, ada yang berpengalaman dalam pencarian dan evakuasi, serta tim kesehatan yang menangani layanan medis dasar.

Tim dibagi menjadi dua fokus utama. Sebagian bergabung dengan Basarnas dalam tim Search and Rescue (SAR) untuk membantu pencarian dan evakuasi korban. Tim kesehatan membuka layanan pemeriksaan, pengobatan dasar, serta distribusi obat dan vitamin bagi warga terdampak dan relawan.

Misi berlangsung selama 10 hari, dari 12–21 Desember 2025, dengan pusat kegiatan di Nagari Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat—wilayah yang mengalami dampak banjir parah. Masjid setempat menjadi posko relawan dan Basarnas. Pada dua hari terakhir, relawan bergerak ke Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, membantu membersihkan rumah warga dari lumpur sisa banjir.

Sebelum menyalurkan bantuan, relawan melakukan pendataan per jorong (setara RT). Setiap wilayah memiliki jumlah kepala keluarga terdampak yang berbeda, sehingga pendataan ini penting agar bantuan tepat sasaran. Mereka mencatat kebutuhan paling mendesak, kelompok rentan, dan pola distribusi yang adil.

Dukungan juga mengalir dari kampus. Melalui media sosial Kemahasiswaan dan Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta, penggalangan dana dilakukan bersama UKM. Dana langsung yang terkumpul sebesar Rp3.443.154, sementara melalui STF totalnya mencapai Rp102.084.611. Seluruh dana dikelola satu pintu sesuai arahan rektor. Bantuan logistik yang disalurkan mencapai 307 kilogram, berupa bahan makanan, mi instan, rendang kalengan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya, didistribusikan melalui sistem drop point karena akses sulit.

Medan terjal, cuaca ekstrem, dan jarak tempuh yang jauh menjadi tantangan harian. Relawan bahkan harus berjalan kaki berjam-jam untuk menjangkau wilayah terisolasi. Beberapa jatuh sakit karena kelelahan. Namun semua itu terasa kecil dibanding kehilangan yang dialami warga.

“Yang paling membekas justru sambutan hangat masyarakat. Di tengah keterbatasan, warga tetap berbagi makanan dan minuman seadanya. Mereka kehilangan banyak hal, tapi tetap mau berbagi. Itu yang paling menguatkan kami,” kenang Fadhil.

Bagi relawan, pengalaman ini menjadi pelajaran tentang arti kehadiran dan solidaritas. Mereka berharap masyarakat segera pulih dan Forum Relawan UIN Jakarta terus aktif, tidak hanya saat bencana besar, tetapi sebagai garda kemanusiaan mahasiswa yang siap bergerak kapan pun dibutuhkan

(Fathan Rangga Ifari/Sambu Sayyidul A)

Tag :