Buka Konferensi Internasional TEFLIN ke-72, Menag Dorong Akademisi PTKI Kuasai Bahasa Asing dan Jadi Produsen Pengetahuan Global
Syahida Inn, Berita UIN Online – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa kemahiran berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan kompetensi vital bagi para akademisi, dosen, dan mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Pesan tersebut disampaikan Menag saat membuka Konferensi Internasional The 72nd TEFLIN, The 10th ICEMS, and The 2nd TEFLIN Research Colloquium yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertajuk “Transforming Language Education: Innovations, Inclusions, and Connections for a Sustainable Future”, Syahida Inn, Rabu (07/10/2026).
Dalam pidatonya, Menag menjelaskan bahwa bahasa merupakan instrumen mendasar untuk mentransfer pengetahuan, membangun hubungan, serta merawat peradaban. Menguasai bahasa internasional membuka akses terhadap khazanah ilmu pengetahuan global yang jauh lebih luas, baik di bidang sains, teknologi, humaniora, maupun studi keagamaan.
“Dalam bidang studi Islam, sejumlah besar penelitian tentang pemikiran Islam, masyarakat Muslim, dan studi kontemporer telah dihasilkan oleh sarjana dunia dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Kemahiran berbahasa Inggris memungkinkan cendekiawan dan mahasiswa Muslim kita terlibat secara lebih luas dengan ilmu pengetahuan global, sekaligus menyumbangkan perspektif intelektual kita sendiri ke komunitas akademis internasional,” ujar Menag.
Meski demikian, Prof. Nasaruddin menggarisbawahi bahwa penguasaan bahasa asing tidak boleh mengikis identitas budaya maupun tradisi keilmuan lokal.
“Kompetensi bahasa asing justru harus memungkinkan kita untuk menyuarakan pengetahuan dan perspektif budaya kita sendiri kepada dunia. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen pengetahuan global; kita juga harus menjadi produsen dan kontributor,” tegasnya.
Menag menambahkan agar forum pendidikan bahasa terus ditransformasikan menjadi jembatan antar manusia, antar budaya, antara tradisi akademis, hingga menjadi jembatan antara pengetahuan dan kemanusiaan.
Di sela kegiatan, Menag menyampaikan apresiasi tinggi kepada FITK UIN Jakarta atas keberhasilan mengkreasi perhelatan berskala internasional yang mempertemukan ratusan akademisi dari 20 negara. Ia memberikan dorongan moral bagi seluruh civitas akademika UIN Jakarta agar aktif menggunakan bahasa asing tanpa ragu.
“Tantangan civitas akademika UIN Jakarta ke depan adalah memastikan seluruh elemen mampu berkomunikasi dalam bahasa asing dengan standar yang baik. Kunci utama menguasai bahasa asing terletak pada keberanian untuk mencoba. Jangan malu atau takut salah, sebab dari kesalahan itulah proses belajar dan perbaikan kualitas diri terus berlangsung,” tuturnya.
Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menyambut baik arahan Menag dan menekankan pentingnya peran pendidikan bahasa di tengah pesatnya kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, Presiden TEFLIN, Prof. Utami Widiati, Ph.D., menilai momentum ini sebagai catatan sejarah penting karena UIN Jakarta kembali dipercaya menjadi tuan rumah Konferensi Internasional TEFLIN setelah hampir dua dekade, sejak terakhir kali pada tahun 2007.
Konferensi internasional yang berlangsung selama tiga hari (7–9 Oktober 2026) di Syahida Inn Convention Center dan Gedung Sekolah Pascasarjana (SPS) UIN Jakarta ini turut menghadirkan jajaran pakar dunia dari berbagai universitas ternama di Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat. Agenda ini diharapkan semakin memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
